Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Gagah Berani Menghadapi Kegagalan Hidup

Branda Lokamaya by Branda Lokamaya
14/03/2019
in Cecurhatan
Gagah Berani Menghadapi Kegagalan Hidup

Courtesy: Unsplash

Pernah dihadirkan di dunia sebagai manusia adalah kenikmatan yang lebih besar dibanding menerima kegagalan maupun kesia-siaan.

Nabs, tak ada yang sia-sia dalam hidup, bahkan jika itu kegagalan. Gagal bagian dari sesuatu yang kita amini sebagai proses hidup. Sebab untuk bisa merasakan bahagia dan sukses, harus tahu dulu rasanya sedih dan gagal.

Mustahil memahami rasanya sukses bagi mereka yang tidak tahu rasanya gagal. Untuk bisa memahami rasanya manis, harus tahu rasa tawar dan asin dan asam terlebih dahulu, kan.

Jika boleh jujur, di dunia ini — di rentang waktu hidup menuju mati — kita lebih banyak merasakan ketidaknyamanan hidup. Sesaat setelah kita menjadi manusia baligh, kesedihan dan kegagalan teramat kerap hadir dalam episode hidup kita.

Alasannya sederhana, pasca baligh, manusia memiliki rencana dan ide. Dan layaknya rencana dan ide, tidak semua mesti harus sesuai keinginan. Dari sanalah, kegagalan lahir di muka bumi.

Filsuf Jerman, Arthur Schopenhauer pernah mengatakan bahwa dunia adalah kehendak dan bayangan (idea atau representasi). Melalui pernyataan itu, Schopenhauer ingin menyatakan bahwa realitas pada hakikatnya berupa Kehendak. Dibalik dunia pengalaman kita, yakni dunia empiris, terdapat ‘Kehendak’ tersebut.

Dan jika dunia dipandang sebagai kehendak, jangan heran jika hidup adalah penderitaan. Hal ini disebabkan karena kehendak merupakan dorongan buta yang tidak akan pernah mencapai kepuasan dan tujuannya. Dia selalu ada. Manusia selalu berkehendak.

Dengan kecenderungan manusia yang selalu berkehendak, merasakan kegagalan dan penderitaan tentu sebuah keniscayaan. Jika tidak mau gagal, jangan pernah berkehendak. Tapi apa itu mungkin? Tentu tidak.

Berkehendak, bagi saya, harus tetap dilakukan. Namun, jika memang menghadapi kegagalan, ya harus dihadapi dengan gagah berani. Bukankah hidup itu hadap? Jika sudah berani hidup, harus berani menghadapi prosesnya bukan? Sebab gagal adalah bagian dari proses kehidupan.

Dalam hidup, mati —merasakan kegagalan —- boleh berkali-kali. Tapi hidup hanya sekali, dan hanya itu yang kita miliki. Dan karena hidup hanya sekali, yang harus dilakukan adalah berani menikmati sekecil-kecilnya kebahagiaan di tengah kesedihan yang mungkin terasa lebih besar.

Dan yang paling penting dari ini semua adalah keberanian dan kesadaran untuk bersyukur pada sang pencipta. Pernah dihadirkan di dunia sebagai manusia adalah kenikmatan yang teramat besar.

Kita bisa membikin rencana, merasakan sedih, cemburu, hingga jatuh cinta hanya karena kita adalah manusia. Tanpa menjadi manusia, mustahil kita mampu merasakan itu semua. Karena itu, menjadi manusia adalah kenikmatan yang patut disyukuri, terlepas dari adanya kegagalan maupun kesia-siaan.

Tags: Cecurhatan
Previous Post

Bazar Buku Bojonegoro, Upaya Peningkatan Minat Baca Masyarakat

Next Post

Pentingnya Literasi Bisnis bagi Pelajar Bojonegoro

BERITA MENARIK LAINNYA

Di Kebun Singkong: Percakapan tentang Benih, Anak-anak, dan Masa Depan
Cecurhatan

Di Kebun Singkong: Percakapan tentang Benih, Anak-anak, dan Masa Depan

02/06/2026
Jejak Intelijen Indonesia dan Tokoh di Baliknya
Cecurhatan

Jejak Intelijen Indonesia dan Tokoh di Baliknya

29/05/2026
Sebuah Saung di Pinggir Sawah Seleksi Tanaman, Klaten. Sore Hari
Cecurhatan

Sebuah Saung di Pinggir Sawah Seleksi Tanaman, Klaten. Sore Hari

28/05/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Kisah Soekarno dan Marhaen, Petani Bandung yang Menginspirasi Lahirnya Marhaenisme

Kisah Soekarno dan Marhaen, Petani Bandung yang Menginspirasi Lahirnya Marhaenisme

02/06/2026
Di Kebun Singkong: Percakapan tentang Benih, Anak-anak, dan Masa Depan

Di Kebun Singkong: Percakapan tentang Benih, Anak-anak, dan Masa Depan

02/06/2026
Sang Pengasuh dalam Bayang-Bayang Sejarah: Kisah Sarinah dan Jejaknya dalam Hidup Soekarno

Sang Pengasuh dalam Bayang-Bayang Sejarah: Kisah Sarinah dan Jejaknya dalam Hidup Soekarno

01/06/2026
Ekspedisi Naga Api Menelisik Situs Janjang dan Sejarah Perminyakan Pra-Kolonial

Ekspedisi Naga Api Menelisik Situs Janjang dan Sejarah Perminyakan Pra-Kolonial

31/05/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: