Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Huru-Hara dan Haru

Yogi Abdul Gofur by Yogi Abdul Gofur
12/11/2023
in Cecurhatan
Huru-Hara dan Haru

Renungan Cep Markocep di sebuah gubuk reot yang berkeadaban.

Memasuki musim panen, kantong celana Cep Markocep penuh. Cep membasahi kantong celana dari keringat yang ia keluarkan selama menyaksikan tumbuh dan kembang tanamannya di kebun.

Panen tanaman tiba, segera uang hasil panen juga akan dipanen oleh berbagai macam kebutuhan. Salah satu di antaranya, untuk perayaan hari ulang tahun buah hati Cep Markocep yang pertama.

Cep Markocep atau biasa dipanggil Cep, ingin merayakan ulang tahun buah hatinya. Setelah berdiskusi dengan istrinya, pesta ulang tahun anaknya terselenggara.

Riuh ramai suasana ulang tahun, menghiasi rumah Cep. Orang-orang yang hadir di pesta ulang tahun menampakkan raut muka bahagia.

Saban tamu undangan, wajah mereka dihiasi senyuman bak rembulan purnama yang bersinar terang. Dan berbagai macam jenis parfum memenuhi ruang tamu Cep Markocep.

Tibalah momentum tiup lilin. Cep Markocep, istri, dan buah hati, maju ke depan. Mereka bertiga kompak meniup lilin. Dari lilin yang menyala dan penuh tawa, kemudian lilin padam dan suasana hening sejenak.

Kemudian pesta ulang tahun berlangsung kembali. Satu per satu rangkaian acara telah dilalui, dan tiba di penghujung acara ‘penutup’.

*********

Selang beberapa hari pasca perayaan ulang tahun buah hati Cep Markocep yang perdana, Cep duduk lesu di bagian pojok gubuk di area kebunnya.

Peci lusuh yang dikenakan Cep Markocep semakin tambah lusuh dengan beberapa catatan hutang ke tetangganya. Cep mencoba menghilangkan masalah kehidupan sejenak dengan meroko dan ngopi di gubuk.

Sembari menyaksikan dedaunan kering yang jatuh di sungai sekitar sungai, canda dan tawa anak-anak pulang sekolah, burung-burung yang bermain di kebun, dan nyamuk-nyamuk yang terkadang hinggap di pipi dan tangan Cep Markocep.

Matahari semakin naik, azan zuhur menggema di cakrawala. Cep larut dalam lamunan, “Apakah kebahagiaan yang sejati itu ibarat lilin yang menyala kemudian padam setelah tertiup angin, seperti lilin di pesta ulang tahun?”.

Tags: Badai CecurhatanCecurhatan
Previous Post

Melacak Peradaban Islam di Kedungpring Lamongan dari Masa ke Masa

Next Post

Kiat Menyiasati I Hate Monday

BERITA MENARIK LAINNYA

Kemarau yang Datang Lebih Awal
Cecurhatan

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan
Cecurhatan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
Di Antara Embargo dan Martabat
Cecurhatan

Di Antara Embargo dan Martabat

07/04/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

15/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

13/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: