Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Menengok Kehidupan Londo Ireng di Zaman Kolonialisme Belanda

Dimas Bagus Aditya by Dimas Bagus Aditya
25/01/2021
in JURNAKULTURA
Menengok Kehidupan Londo Ireng di Zaman Kolonialisme Belanda

Londo ireng, atau Londo hitam, bukan sekadar frasa lucu-lucuan. Londo Ireng merupakan tentara Belanda dari Afrika yang ditugaskan di daerah jajahan. Berikut kisahnya. 

Nabs, pemerintah Hindia-Belanda mendatangkan para serdadu Afrika di tanah jajahan. Dalam buku Zwarte Hollanders Afrikaanse Soldaten in Nederlands-Indie (Belanda Hitam: Prajurit Afrika di Hindia-Belanda) dijelaskan, mula-mula kedatangan serdadu bangsa Afrika adalah pada 1831. Mereka didatangkan dari Pantai Barat Afrika.

Selama 1831 dan 1872, Pemerintah Hindia-Belanda mendatangkan sebanyak 3.085 pria dari Afrika Barat untuk dijadikan serdadu militer di Hindia Belanda. Serdadu-serdadu ini akan ditempatkan pada prajurit Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL).

Alasan perekrutan serdadu “londo ireng” ini dikarenakan fisik mereka dirasa lebih cocok untuk beradaptasi di Nusantara yang memiliki hawa tropis sama seperti lingkungan tempat tinggal asalnya yakni Ghana dan Burkina Faso, di Afrika.

Ketika mendarat di Hindia-Belanda mereka langsung digembleng di asrama militer di Jawa, setelah dirasa cukup saat pelatihan militer, mereka langsung diterbangkan untuk mengikuti ekspedisi menumpas pemberontakan atau perlawanan rakyat di Sumatera, Borneo (Kalimantan), Celebes (Sulawesi), Bali, Timor, serta Perang Atjeh.

Dalam catatan Tentara Hindia Belanda (KNIL), perang Atjeh merupakan perang terlama melawan kaum Nasionalis Serambi Mekkah. Encyclopedia van Nederlandsch-Indie mencatat sampai tahun 1892, terdapat 54 serdadu KNIL yang berasal dari kulit hitam.

Pandangan Negatif Serdadu Londo Ireng

Catatan mengenai desersi yang dilakukan oleh serdadu “londo ireng” pertama terjadi pada 4 April 1838. Pada waktu itu 9 prajurit Afrika keluar asrama berbarengan. Mereka berasal dari Batalyon Infantri I Garnisun di Batavia.

Tak lama berselang, masih di tahun yang sama, 10 prajurit “londo ireng” melakukan pengingkaran tugas dari Batalyon Infantri X di Surabaya. Sebab utama melatarbelakangi hal ini terkait misskomunikasi antar kalangan prajurit “londo ireng”.

Maklum saja, mereka bukan berasal dari suku yang homogen. Sehingga perpecahan kerap mewarnai obrolan mereka. Tak ayal, pandangan yang disematkan pada mereka cenderung negatif.

Hal ini mengingat karena banyaknya serdadu Afrika yang memutuskan diri keluar dari barisan tugas yang disematkan padanya.

Beberapa pandangan negatif yang sempat disematkan kepada serdadu Afrika diantaranya seperti jorok, sakit-sakitan, malas, klemar, klemer, dan berbagai sudut pandang buruk lainnya.

Namun fakta yang ada menunjukkan hal yang berbalikkan, para serdadu ini malahan bekerja tidak mengenal lelah, dan tidak gentar menghadapi serangan musuh.

Serdadu Afrika ini mendapatkan status yang sama seperti prajurit Eropa pada umumnya. Tak mengherankan jikalau para serdadu ini kerap memakai sepatu layaknya prajurit Eropa.

Dengan bangganya mereka mengenakan sepatu itu, bahkan pada saat mereka telah resign dari militer mereka tetap menggunakan sepatu itu.

Meskipun begitu, masih ada juga para serdadu yang enggan mengenakan sepatu, mereka malah lebih enjoy bertelanjang kaki berlumuran lumpur.

Perlakuan Rasial

Tampaknya perlakuan rasial selalu ditumpahkan pada mereka para “londo ireng”. Tidak hanya pribumi saja yang mengolok-olok mereka dengan ucapan “kulitmu hitam legam seperti arang”.

Namun Pemerintah Hindia-Belanda juga mengolok-olok mereka. Pangeran Ashanti dari Ghana dan Pangeran Kwasi Bookye merupakan salah satu orang Afrika yang sempat diejek oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Bahkan, cerita Pangeran Ashanti sempat menjadi inspirasi bagi ditulisnya roman De Zwarte Met Het Witte Hart (1997) yang ditulis oleh Arthur Japin.

Meskipun pangeran itu merupakan lulusan Deift dan menyandang gelar ingeniur (insinyur) serta telah dianggap “Belanda”, namun ia masih mendapatkan perlakuan rasial atau diskriminatif dari Pemerintah Hindia-Belanda.

Perlakuan yang diterima oleh pangeran itu adalah ketika di Jerman ia bertemu dengan pelukis Raden Saleh atau Syarif Bustaman, untuk melukisnya. Raden Saleh mengutarakan ucapan, “Kulit Anda terlalu gelap untuk dilukis. Tak bagus pencahayaannya!”

Tags: Londo IrengSejarah kolonialSekolah zaman Belanda
Previous Post

Catatan Ekspedisi Banjir Bandang Bojonegoro

Next Post

Manusia dan Tikus ternyata Punya Persamaan

BERITA MENARIK LAINNYA

‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman
JURNAKULTURA

‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman

08/04/2026
Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian
JURNAKULTURA

Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian

31/03/2026
Sejarah Nikah Malam Songo di Bojonegoro
JURNAKULTURA

Sejarah Nikah Malam Songo di Bojonegoro

15/03/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Prometheus, Api, dan Kesunyian: Hikmah Humor dan Pencurian (15)

Prometheus, Api, dan Kesunyian: Hikmah Humor dan Pencurian (15)

04/05/2026
Pendidikan Indonesia dan Tantangan terhadap Dunia Kerja

Pendidikan Indonesia dan Tantangan terhadap Dunia Kerja

03/05/2026
Hukum atau Senjata?

Hukum atau Senjata?

02/05/2026
May Day 2026: Aliansi Buruh Bojonegoro Desak Negara Hadir Lindungi para Pekerja

May Day 2026: Aliansi Buruh Bojonegoro Desak Negara Hadir Lindungi para Pekerja

01/05/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: