Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Sebuah Ingatan Tentang Tan Malaka

Yogi Abdul Gofur by Yogi Abdul Gofur
03/06/2020
in Figur
Sebuah Ingatan Tentang Tan Malaka

Tan Malaka merupakan panutan bagi jomblo progresif di seluruh dunia, khususnya Indonesia. Dia lah pahlawan yang bergerak di jalur sunyi kemerdekaan Indonesia. 

Beberapa pemimpin dan tokoh besar lahir di bulan Juni, salah satunya Tan Malaka. 2 Juni merupakan hari kelahiran bapak republik yang bernama Sutan Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka atau akrab disebut Tan Malaka itu.

Saban orang memiliki ingatan tersendiri tentangnya, ada yang berkenalan melalui karyanya, video dokumenter, dan lain-lain.

Tan Malaka lahir pada 2 Juni 1897 di Pandam Gadang. Nagari Pandam Gadang berada di Kecamatan Gunung Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat.

Nabsky mungkin ada yang sudah familiar dengan nama itu. Di sisi lain, beberapa orang belum tahu siapa Tan Malaka. Nama Tan Malaka jarang sekali diberi penjelasan yang lengkap, khususnya di buku mata pelajaran yang beredar di sekolah, apalagi saat Orde Ba(r)u —busuk— berkuasa.

Jasa Tan Malaka bagi republik Indonesia sangatlah besar. Beberapa karyanya antara lain Naar de Republiek Indonesia (1925), Massa Actie (1926), Madilog (1943), GERPOLEK (1948), Islam dalam Tinjauan Madilog (1948), Dari Penjara ke Penjara (1948), dan lain-lain.

Juga memberi pengaruh cukup besar berupa pemikiran pada para founding parents Indonesia seperti Bung Karno, Bung Hatta dan Bung Syahrir tentang bentuk negara.

Intelektulitas Tan Malaka dan kecintaannya pada tanah air tak bisa diragukan. Hal itu terbukti dengan sepak terjang akademik dan berbagai karya yang telah ia lahirakan. Buah pemikiran Tan Malaka yang dibukukan itu abadi, walau zaman silih berganti. Selain itu, memberi pengaruh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara lintas generasi.

Pahlawan nasional itu melakukan studi di Rijks Kweekschool, Harleem, Belanda. Harry A. Poeze merupakan peneliti dari Belanda yang melakukan penelitian secara mendalam tentang Tan Malaka dan mencoba meluruskan sejarah tentangnya.

Dalam video dokumenter yang disutradarai Daniel Rudi Haryanto (2018) itu memberi gambaran jelas tentang Maha Guru Tan Malaka. Harry A. Poeze, dalam video itu memberi penjelasan mendalam tentang sang kreator Madilog tersebut.

Dalam video itu juga memberitahu dokumen primer seperti surat yang ditulis Tan Malaka, indekos Tan Malaka di Belanda, nilai hasil belajar Tan Malaka ketika ngangsu kaweruh di Negeri Kincir Angin, lagu Donaouwellen Walzer (Waves of the Danube) karya Ivanovici sebagai lagu kesukaan Tan, dan sebagainya.

Kira-kira kapan nabsky pertama kali mengenal Tan Malaka? Kalau seingat saya, pertama kali telinga saya mendengar Tan Malaka ketika duduk di bangku putih biru. Namun belum begitu mendalaminya, kemudian ketika duduk di bangku putih abu-abu lebih dalam mengenalnya dari beragam sumber misalnya buku, video dokumenter, dan sebagainya.

Meninggal di tangan bangsa sendiri, pada 21 Februari 1949 di Selopanggung, Kediri, Jawa Timur. Pada Februari 2017, makam Tan Malaka dipindahkan dari Kediri ke tanah leluhurnya di Pandam Gadang.

Jika kamu kepo dan ingin tahu lebih tentang Tan Malaka, banyak jalan bisa ditempuh. Membaca karya-karyanya, menyaksikan video dokumenter tentang Maha Guru Tan Malaka, dan berdiskusi.

Perihal kedekatan Tan Malaka dengan Wahid Hasyim dan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, intelektual muda NU yaitu Ahmad Baso pernah menulis tentang itu.

Tan Malaka membuktikan pada dunia, di balik pria sukses, ada wanita hebat di belakangnya, namun bukan istrinya loh ya, hehehe karena hingga akhir hayat beliau belum pernah meresmikan hubungan menikah.

Tan pernah menaruh hati kepada Syarifah Nawawi namun cintanya bertepuk sebalah tangan, juga pernah mencoba membangun hubungan dengan wanita lain namun tidak pernah sampai di pelaminan. Wanita hebat, siapa lagi kalau bukan wanita yang telah melahirkannya yaitu ibu.

Tan Malaka merupakan panutan bagi jomblo di dunia wabilkhsusus Indonesia. Jangan lupa kirim do’a bagi pahlawan yang telah berjuang memerdekakan Indonesia.

Ingat nabs, kalimat dari Bung Karno, “jangan sekali-kali meninggalkan sejarah” atau disingkat jasmerah. Akhir kata, ada quote dari Tan Malaka, “Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada ai atas bumi”.

Tags: KemerdekaanTan Malaka
Previous Post

Kuliner Bojonegoro: Rawon Murah Meriah Pasar Bojonegoro

Next Post

Liverpool dan Dua Kemenangan Menuju Akhir Puasa Gelar

BERITA MENARIK LAINNYA

Kisah Soekarno dan Marhaen, Petani Bandung yang Menginspirasi Lahirnya Marhaenisme
Figur

Kisah Soekarno dan Marhaen, Petani Bandung yang Menginspirasi Lahirnya Marhaenisme

02/06/2026
Sang Pengasuh dalam Bayang-Bayang Sejarah: Kisah Sarinah dan Jejaknya dalam Hidup Soekarno
Figur

Sang Pengasuh dalam Bayang-Bayang Sejarah: Kisah Sarinah dan Jejaknya dalam Hidup Soekarno

01/06/2026
Obituari Jurgen Habermas: Jejak Demokrasi di Desa-desa Indonesia
Figur

Obituari Jurgen Habermas: Jejak Demokrasi di Desa-desa Indonesia

26/03/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Diskusi Naga Api: Wonocolo dalam Tiga Pondasi

Diskusi Naga Api: Wonocolo dalam Tiga Pondasi

07/06/2026
Timnas Norwegia dan Perahu Persibo Bojonegoro

Timnas Norwegia dan Perahu Persibo Bojonegoro

06/06/2026
Siasat Menentang Tanpa Melawan

Siasat Menentang Tanpa Melawan

06/06/2026
Gerak dan Lagu Meriahkan Pelepasan 124 Murid TK Muslimat NU 04 Bangilan

Gerak dan Lagu Meriahkan Pelepasan 124 Murid TK Muslimat NU 04 Bangilan

05/06/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: