Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Fazlur Rahman Khan, Sosok di Balik Lahirnya Terminal Haji Jeddah

Ahmad Rofi' Usmani by Ahmad Rofi' Usmani
20/03/2026
in Figur
Fazlur Rahman Khan, Sosok di Balik Lahirnya Terminal Haji Jeddah

Fazlur Rahman Khan (1929-1982)

Mengenal lebih dalam Fazlur Rahman Khan, si jenius dari Bangladesh, figur di balik lahirnya terminal Haji Jeddah. 

JEDDAH, 27 Maret 1982. Malam itu, seorang lelaki itu terbaring di kamar hotelnya di Jeddah. Di luar, Terminal Haji yang ia rancang berdiri megah. Tenda-tenda fiberglassnya bergelombang lembut ditiup angin gurun. Usianya baru 52 tahun. Namun, jantungnya sudah terlalu lelah memompa darah untuk tubuh yang tak pernah berhenti bekerja.

Ia datang ke Saudi untuk sebuah proyek. Namun, malam itu, di kota yang gerbang udaranya ia ciptakan untuk para tamu Allah, jantungnya berhenti. Beberapa jam kemudian, jenazahnya akan diterbangkan melintasi samudera, kembali ke Chicago, kota yang menjadi saksi kejayaannya. Namun, jiwanya, entah mengapa, seakan terasa masih betah bersemayam di bawah tenda-tenda putih itu. Menyaksikan jutaan manusia yang tak pernah dikenalnya, tiba dan pergi, berganti musim demi musim, dalam ziarah kerinduan terbesar di muka bumi.

Siapa lelaki itu? Mengapa takdir mempertemukannya dengan tempat yang tak pernah ia kunjungi sebagai peziarah?

Merantau ke Negeri Paman Sam

Fazlur Rahman Khan lahir pada 3 April 1929 di Dhaka. Saat itu, Dhaka masih bagian dari British Raj, kini ibu kota Bangladesh. Ia tumbuh di desa Bhandarikandii, Distrik Faridpur, di mana Sungai Padma mengalir lambat membawa lumpur subur dari Himalaya.

Ayahnya, Abdur Rahman Khan, adalah seorang guru matematika SMA yang juga menulis buku-buku teks. Dari ayahnya, Fazlur Rahman Khan kecil belajar bahwa angka bukan sekadar angka: angka adalah bahasa untuk memahami keteraturan alam. Dari ibunya, Khadijah Khatun, seorang perempuan dari keluarga bangsawan Bengal, ia belajar bahwa keindahan hidup tak pernah bisa direduksi menjadi sekadar rumus.

Di sekitar rumahnya, bambu tumbuh di mana-mana. Anak-anak bermain di antara rumpun bambu, para nelayan membuat rakit dari bambu, dan para petani membangun gubuk sementara dengan bambu yang dijalin. Fazlur Rahman kecil mungkin tak pernah menduga bahwa struktur berongga bambu itu kelak akan menjadi inspirasi terbesar dalam kariernya: sebuah sistem yang oleh para insinyur di kemudian hari disebut “tube structure”. “Saya baru pertama kali melihat gedung pencakar langit ketika berusia 21 tahun,” kenangnya suatu kali.

Ironis. Anak yang tak pernah melihat gedung tinggi di kampung halamannya itu kelak akan mengubah cara dunia dalam membangun gedung pencakar langit.

Pada tahun 1952, anak muda berusia 23 tahun dengan kumis tipis dan mata berbinar itu naik pesawat terbang pertama kali menuju Amerika Serikat. Ia membawa dua beasiswa: Fulbright dan beasiswa pemerintah Pakistan. Ia mendarat di University of Illinois at Urbana-Champaign, sebuah kampus yang kelak menjadi saksi bagaimana otaknya bekerja tanpa lelah.

Dalam tiga tahun, ia meraih dua gelar master-satu di bidang teknik struktur, satu lagi di mekanika teoritis dan terapan-dan satu gelar doktor di bidang teknik struktur. Disertasinya tentang analisis hubungan antar kriteria desain untuk balok beton prategang persegi panjang Sebuah topik yang terdengar membosankan bagi orang awam. Namun, bagi Fazlur Rahman Khan, ini adalah puisi dalam bahasa matematika.

“Luangkan waktu untuk menikmati hidup,” katanya bertahun-tahun kemudian. “Seorang teknisi jangan sampai tersesat dalam teknologinya sendiri. Ia harus bisa menghargai kehidupan, dan kehidupan adalah seni, drama, musik, dan yang terpenting: manusia.”

Frasa terakhir itu-“yang terpenting, manusia”-akan menjadi benang merah sepanjang kariernya.

Berguru pada Bambu di Negeri Pencakar Langit

Tiga tahun kemudian, Fazlur Rahman Khan bergabung dengan Skidmore, Owings & Merrill (SOM) di Chicago. Ia datang sebagai insinyur biasa, namun dengan kepala penuh ide. Ia melihat bagaimana gedung-gedung pencakar langit dibangun dengan kerangka baja kaku: kolom-kolom besar di seluruh lantai, seperti hutan beton di dalam ruangan. “Kenapa harus begitu?” tanyanya.

Ia ingat bambu di kampung halamannya. Batang bambu itu kuat bukan karena isinya padat. Namun, karena strukturnya berongga dengan dinding tipis di sekelilingnya. Ia membayangkan sebuah gedung yang seluruh kekuatannya berada di kulit luar, seperti tabung raksasa. Kolom-kolom interior dapat diminimalkan, ruang menjadi lega, pemandangan menjadi luas.

Ide ini, yang kemudian dikenal sebagai “framed tube structure”, pertama kali ia terapkan di Chestnut-DeWitt Apartments, Chicago, tahun 1963. Gedung 43 lantai itu menjadi prototipe bagi ribuan pencakar langit di seluruh dunia.

Namun, Fazlur Rahman Khan tak berhenti di situ. Ia terus menyempurnakan. Untuk John Hancock Center yang menjulang 100 lantai, ia menciptakan “trussed tube”: rangka berbentuk X di bagian luar yang tak hanya memperkuat struktur tapi juga menjadi elemen estetika ikonik.

Untuk Sears Tower (kini Willis Tower), yang menjadi gedung tertinggi dunia dari 1973 hingga 1998, ia menciptakan “bundled tube”: sembilan tabung yang digabung seperti seikat bambu, memungkinkan bentuk yang tak lagi kotak kaku. “Ketika merancang, saya membayangkan diri saya berada di posisi seluruh bangunan, merasakan setiap bagian,” katanya. “Dalam pikiran saya, saya visualisasikan tekanan dan puntiran yang dialami sebuah bangunan.”

Fazlur Rahman Khan tak hanya merancang dari atas meja. Ia turun ke laboratorium, ke lapangan. Ketika khawatir penghuni apartemen di lantai atas John Hancock Center akan pusing karena goyangan angin, ia membawa keluarganya ke Museum Sains dan Industri Chicago.

Di sana ada mesin cuci raksasa berputar. Ia menyewa platform berputar itu, lalu menyuruh orang-orang duduk, berdiri, berbaring, sambil ia mengatur kecepatan putaran. Dari situ ia mendapatkan data tentang ambang batas kenyamanan manusia terhadap gerakan bangunan.

Pada tahun 1974 pemerintah Arab Saudi datang ke SOM dengan mimpi besar: membangun bandara modern di Jeddah yang mampu menampung lonjakan jamaah haji. Saat itu, jumlahnya telah melonjak drastis, dari 50.000 jamaah udara di tahun 1960-an menjadi setengah juta pada tahun itu.

Fazlur Rahman Khan, yang saat itu telah menjadi partner di SOM, mendengar tantangan itu dengan saksama. Ini bukan soal gedung pencakar langit. Ini soal menaungi 80.000 orang selama 36 jam di tengah gurun yang suhunya bisa mencapai 55 derajat Celcius. Arsitek utama proyek ini adalah Gordon Bunshaft, legenda arsitektur modern. Tapi siapa yang memecahkan masalah strukturalnya? Fazlurrahman Khan.

Tim Desain menghabiskan berbulan-bulan di Jeddah, mengamati jamaah. Mereka melihat bagaimana para musafir itu tiba dengan koper besar, langsung membuka tikar dan tidur di sela-sela antrean. Mereka melihat pedagang kaki lima yang berjualan di sudut-sudut. Mereka menyaksikan ritual wudhu yang dilakukan di sembarang tempat. “Ini bukan bangunan,” kata mereka akhirnya. “Ini adalah desa teduh.”

Seperti Menjahit Awan

Fazlur Rahman Khan kembali pada ingatan lamanya. Terinspirasi oleh tenda-tenda Badui yang ia lihat di gurun pasir dan tenda-tenda sementara yang didirikan jamaah di Mina, Khan mengajukan ide yang tampak gila pada masanya: gunakan kain. Bukan kain biasa, namun fiberglass berlapis Teflon . Material ini belum pernah digunakan dalam skala sebesar itu. “Apakah kain bisa menjadi atap untuk 80.000 orang?” tanya para pejabat Saudi skeptis.

Fazlur Rahman Khan menjelaskan dengan sabar. Lapisan Teflon akan memantulkan 76 persen radiasi matahari. Sinar matahari yang tersisa, hanya 7 persen, akan menembus masuk: cukup untuk membuat ruangan terang di siang hari tanpa lampu listrik. Bentuk kerucut dengan lubang di puncaknya akan menciptakan efek cerobong asap: udara panas akan naik dan keluar, menarik udara sejuk dari bawah.

Hasilnya? Ketika suhu di luar mencapai 55 derajat Celcius, di bawah tenda suhu tetap nyaman di 27 derajat, hanya dengan mengandalkan angin alami. “Fazlur Rahman tak hanya memecahkan masalah teknik,” kata John Zils, koleganya di SOM. “Dia memecahkan masalah kemanusiaan. Dia menciptakan alat pendingin raksasa tanpa satu kompresor pun.”

Yang membuat para insinyur gemetar adalah proses pembangunannya. Bayangkan: Anda harus merentangkan kain fiberglass sebesar setengah lapangan bola di ketinggian 45 meter, di tengah angin gurun yang bisa berubah sekonyong-konyong. Setiap tenda diikat ke rangkaian kabel yang digantung dari pylon baja. Di sudut-sudut modul, terdapat menara berkaki empat yang kokoh.

Di tepi modul, pylon ganda seperti tangga raksasa. Di bagian dalam, satu pylon tunggal menjadi tiang utama . “Ini seperti menjahit awan,” kenang seorang pekerja lapangan. “Kami harus memastikan setiap jahitan, setiap sambungan kabel, mampu menahan beban dan tekanan angin. Kesalahan satu sentimeter bisa berarti bencana.”

Namun, tantangannya bukan hanya teknis. Komunikasi di era pra-digital adalah mimpi buruk. Telepon di Jeddah harganya 15.000 dolar. Faks baru ada, ukurannya sebesar kompor. Tidak ada email, tidak ada zoom. Gambar teknik dikirim dengan pesawat. Revisi memakan waktu berminggu-minggu. Namun, 600 orang di tiga benua bergerak selaras.

Ilustrasi: Terminal Haji Jeddah

Fazlur Rahman Khan, dengan ketenangannya yang khas, memimpin dari Chicago. Ia kerap terbang ke Jeddah, memeriksa langsung, berbicara dengan para insinyur lokal, memastikan bahwa setiap sambungan kabel, setiap jahitan kain, sesuai dengan mimpinya.

Penghargaan Dunia

Terminal Haji Jeddah selesai dibangun pada tahun 1981 dan beroperasi penuh setahun kemudian. Ketika pintu-pintunya pertama kali dibuka untuk jutaan jamaah, dunia arsitektur terpana. Yang mereka lihat bukanlah bangunan mati dari beton, melainkan ruang hidup yang bernapas.

Di siang hari, tenda-tenda putih itu bersinar lembut. Cahaya matahari yang tersaring menciptakan bayangan temaram, mengingatkan pada suasana di bawah rimbunnya pohon kurma. Di malam hari, lampu-lampu dari bawah menerobos naik, membuat tenda-tenda itu berpendar seperti lentera raksasa yang memanggil para musafir dari kejauhan.

Di dalamnya, kehidupan mengalir. Di area seluas 400.000 meter persegi, ribuan jamaah duduk bersila membaca Al-Quran . Di sudut lain, para ibu menyiapkan bekal. Para pedagang kaki lima (yang diakomodasi secara resmi) menawarkan barang dagangan mereka, menciptakan souk atau pasar dadakan yang hidup—persis seperti yang diamati tim SOM saat riset awal .

Pada tahun 1983, setahun setelah Fazlur Rahman Khan berpulang, Terminal Haji Jeddah menerima Aga Khan Award for Architecture. Juri menulis, “Desain sistem atap yang brilian dan imajinatif ini telah memenangkan tantangan luar biasa untuk menaungi ruang yang sangat luas ini dengan keanggunan dan keindahan yang tak tertandingi.”

Kemudian, pada tahun 2010, American Institute of Architects memberikannya Twenty-five Year Award, penghargaan untuk bangunan yang telah menunjukkan keunggulan desain selama seperempat abad. Namun, penghargaan tertinggi mungkin tak pernah diberikan oleh dewan juri mana pun.

Penghargaan itu adalah jutaan pasang mata yang berbinar ketika pertama kali melangkah masuk ke bawah tenda itu. Penghargaan itu adalah hembusan napas lega setelah 18 jam penerbangan. Penghargaan itu adalah air mata haru yang tak tertahankan ketika seseorang menyadari: inilah gerbang menuju panggilan suci.

Kini, di pertengahan dekade 2020-an, Terminal Haji Jeddah bersiap untuk babak baru. Pemerintah Arab Saudi, sebagai bagian dari Visi 2030, memulai ekspansi besar-besaran. SOM kembali dipanggil. Kali ini mereka bermitra dengan Pace, konsultan teknik terkemuka di kawasan Timur Tengah.Tujuannya: meningkatkan kapasitas, mempercepat proses imigrasi hingga hanya 45 menit, dan mengintegrasikan teknologi modern tanpa merusak jiwa asli bangunan.

“Ini bukan renovasi biasa,” kata seorang juru bicara Pace. “Kami sedang memperpanjang napas sebuah legenda. Tantangannya adalah bagaimana menambahkan teknologi abad ke-21 ke dalam struktur yang lahir dari kearifan abad ke-20, tanpa kehilangan ruhnya.”

Ekspansi ini bukan sekadar proyek infrastruktur. Ini adalah pernyataan politik dan spiritual. Arab Saudi ingin menegaskan posisinya sebagai pusat dunia Islam. Terminal Haji Jeddah adalah pintu depannya. Pintu itu harus tetap terbuka lebar, ramah, dan menyejukkan, seperti yang selalu diimpikan Fazlur Rahman Khan!

Tags: Fazlur Rahman KhanMakin Tahu IndonesiaTerminal Haji Jeddah
Previous Post

Di Kota Bojonegoro, Parade Oklik Semarakkan Penghujung Ramadan

Next Post

Abdulloh Umar: Lebaran Momen Memperlebar Keberkahan

BERITA MENARIK LAINNYA

Obituari Jurgen Habermas: Jejak Demokrasi di Desa-desa Indonesia
Figur

Obituari Jurgen Habermas: Jejak Demokrasi di Desa-desa Indonesia

26/03/2026
Bruno Guiderdoni: Keseimbangan Sains, Quran, dan Iman
Figur

Bruno Guiderdoni: Keseimbangan Sains, Quran, dan Iman

18/03/2026
‎Kiai Sanusi Mbarangan, Mlampah Lillah Kalimatillah ‎
Figur

‎Kiai Sanusi Mbarangan, Mlampah Lillah Kalimatillah ‎

17/03/2026

Anyar Nabs

Ketika Perang Menang, Masa Depan yang Kalah

Ketika Perang Menang, Masa Depan yang Kalah

27/03/2026
Obituari Jurgen Habermas: Jejak Demokrasi di Desa-desa Indonesia

Obituari Jurgen Habermas: Jejak Demokrasi di Desa-desa Indonesia

26/03/2026
‎Metode Padangan: Oikos Theos Logos untuk Masa Depan

‎Metode Padangan: Oikos Theos Logos untuk Masa Depan

25/03/2026
Riwayat yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Riwayat yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

24/03/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: