Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

‎Metode Padangan: Oikos Theos Logos untuk Masa Depan

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
25/03/2026
in Cecurhatan
‎Metode Padangan: Oikos Theos Logos untuk Masa Depan

Metode Padangan: Ekoteologi Masa Silam

Ekoteologi berangkat dari tiga pilar kunci: oikos, theos, dan logos sebagai pondasi merespon krisis lingkungan. Dalam Metode Padangan, saya melihat tiga pilar itu menyatu secara elegan sejak ratusan tahun silam.

Padangan, September 2022. Hujan tiba-tiba turun deras di tengah siang yang amat terik. Namun sekejap kemudian, hujan berhenti, dan menyisakan suasana kesejukan mendalam. Sementara mobil melaju pelan, memindah peti kayu jati berisi catatan kuno itu dari Makbaroh Klotok menuju Pesantren Petak.

Pasca menurunkan peti dari mobil, Pakde Kiai Muhajir Samwil mengajak saya meletakkannya ke tempat aman. Kami membawanya ke lantai atas Ndalem Kasepuhan Petak. Para petugas digitalisasi dari Provinsi Jawa Timur segera melakukan proses pembersihan dan pengamatan. Kami berdua kembali ke lantai bawah, berbincang dengan KH Athoillah Maimun, KH Ismail Sulaiman, dan Lora Usman Bangkalan.

Tak berselang lama. Sekitar ‎tiga puluh menit kemudian, seorang petugas digitalisasi tergesa turun ke bawah. Menemui saya. Ia berbisik pelan dan meminta saya kembali ke lantai atas untuk memberitahukan sesuatu yang menurutnya cukup penting diketahui. Bersamanya, saya pun segera bergegas kembali menuju ke lantai atas.

‎”Jenengan mawon, saya tidak berani” ucap petugas itu pada saya, sambil menunjuk dokumen kuno yang terikat rapi dengan seutas tali, tersusun menjadi satu bundelan. Ia meminta saya untuk melepaskan ikat tali tersebut.

‎Bundelan kertas itu saya tatap dengan seksama. Terlihat unik. Kertas-kertas menguning berusia tua. Sepintas seperti berserakan, tapi jika dilihat dengan teliti sangat tertata rapi. Ada seutas tali yang menyatukannya. Saya pun mendekat. Berniat melepas ikatan tali itu, seperti permintaan petugas digitalisasi.

Namun, mata saya tertegun ketika menyadari ada yang aneh dengan talinya. Semula saya kira tali rafia. Ternyata tidak. Saya pegang perlahan. Teksturnya lebih keras, padat, agak kaku. Namun ada kelenturan yang unik. Kelenturan yang melintasi ruang dan waktu. Tak seperti tali plastik rafia pada umumnya. Tali itu lebih tepat jika disebut sebagai daun kering.

Proses pemindahan peti Manuskrip Padangan

Ketertegunan saya bertambah ketika di dekat simpul tali, tampak sebuah segel tulisan kecil yang menempel, seolah jadi penanda atau identitas dari ikatan tersebut. Letaknya yang tak jauh dari pusat simpul, membuat tulisan itu terasa penting — bukan sekadar pelengkap, tapi pememberi makna.

‎Segel tulisan itu berbunyi: “Innaka ala kuli syai’in qodir. Rabbanaaghfirlī wa liwālidayya walil-mu’minīna yauma yaqūmul ḥisāb” — Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua orang tuaku serta orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab”. 

‎Kumpulan catatan yang menua oleh waktu, tali dari daun kering yang tak lazim, serta segel berisi tulisan doa. Ketiganya menjadi satu kesatuan kosmik yang lebih dari sekadar benda. Kesatuan semesta, dengan tiga unsur yang merangkai maknanya: catatan ilmu, ikatan alam, dan bisikan spiritual yang menyatu dalam diam.

Saya pun mengurungkan niat untuk membukanya. Bergegas ke lantai bawah. Menemui para sesepuh, menceritakan apa yang saya lihat, khususnya tali daun berusia ratusan tahun yang mengikat catatan-catatan itu. Saya meminta pertimbangan agar pakde-pakde yang lebih sepuh saja yang membukanya.

Sekilas pandangan mata, tali itu serupa daun tal, mirip daun pandan, bahkan juga seperti janur kelapa kering. Dan yang jelas, kehadiran tali daun itu cukup menyita perhatian saya. Di balik kesederhanaannya, tersimpan pelajaran sunyi yang tak segera menampakkan diri, tapi pelan-pelan meminta untuk dimengerti dan dipelajari.

Daun Berusia Ratusan Tahun

Dokumen kuno berisi ilmu pengetahuan, segel doa pengharapan, dan tali dari daun. Bagi saya, ini semiotika yang sangat istimewa. Tampak betapa ilmu, ayat, dan alam menyatu sebagai pesan dari masa lalu. Tali daun yang mengikat dokumen cukup menyita perhatian. Ia seperti menunjukkan bahwa lembar daun bisa bertahan cukup lama.

Sejumlah dokumen yang ditali menggunakan daun

Dalam konteks waktu, polimer polipropilena (bahan dasar plastik) baru ditemukan pada 1950-an, tali rafia dibuat pada 1960-an, dan penggunaannya baru beredar luas di Indonesia pada 1980-an. Sementara catatan-catatan itu dikemas pada abad 19 hingga awal 20 M. Artinya, belum ada tali rafia saat mengemasnya. Namun bukan hanya itu.

Dalam konteks fungsi, kain lebih lumrah dijadikan tali. Selain lebih mudah dicari, kain juga sudah umum digunakan sebagai pengikat pada abad 19 M. Namun faktanya, lebih memilih daun sebagai alat penyimpul catatan-catatan itu. Seperti ada sebuah pesan penting dari masa silam untuk dititeni.

Beberapa waktu kemudian, saya menemui KH Ismail Sulaiman untuk menanyakan perihal yang sejak awal menyita perhatian saya: penggunaan daun sebagai tali pengikat manuskrip. Bukan sekadar soal teknik, melainkan ibrah dan jejak pengetahuan yang mungkin tersembunyi di baliknya.

“Kok menggunakan daun, nopo wonten rahasianya, Pakde?” tanya saya pada KH Ismail Sulaiman.

“Sing jelas Mbah-mbah mbiyen kuat banget ngugemi kaidah Makarimal Akhlaq” ucap beliau menjelaskan.

Kaidah Makarimal Akhlaq yang dimaksud, adalah hadits populer berbunyi: Innama bu’itstu li utammima makarimal akhlaq (sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak). Kemuliaan akhlak, dalam hal ini, tidak hanya untuk manusia. Namun juga untuk alam. Ini alasan para Masyayikh Padangan, dari zaman ke zaman, dikenal sangat memuliakan alam.

Ngugemi berarti memegang erat. Di Padangan, kaidah Makarimal Akhlaq bukan sekadar teks yang berhenti pada spektrum wacana. Namun benar-benar menyublim dalam praktik kehidupan sehari-hari. Menjadi metode yang mengkristal dalam berbagai tauladan, riwayat bijak, hingga hikayat nasehat yang terus hidup dalam rentang waktu berabad-abad.

Metode Padangan

Keselarasan antara alam, spiritualitas, dan ilmu pengetahuan menjadi metode dakwah Masyayikh Padangan yang selalu muncul dari zaman ke zaman. Baik melalui risalah catatan, riwayat tauladan, atau hikayat yang terus ditulis dan diceritakan. Kedekatan dengan alam menyublim sebagai tarekat (metode) dalam kehidupan masyarakat. Secara muttasil, metode ini bisa dirunut jejaknya sejak abad 14 M.

Pada abad 20 M, Syekh Hasyim Padangan (Mbah Jalakan) meninggikan pilar keilmuan dan logika melalui berbagai penulisan di bidang ilmu alat dan gramatika bahasa. Melalui nisbah Alfadangi yang masyhur hingga Mesir dan India, Mbah Hasyim memunculkan kembali Padangan sebagai pusat literasi dan keilmuan Islam. Kecenderungan ini melanjutkan tradisi para Sidi (leluhur) Padangan pada masa sebelumnya.

Di masa tak berjauhan, Syekh Ahmad Munada (Mbah Robayan) meninggikan pilar tasawuf melalui gerakan suluk tarekat. Membangun poros hubung antara sumber daya alam dengan dimensi spiritual. Mbah Robayan memasyhurkan kembali Padangan sebagai pusat spiritual Islam yang ramah pada alam. Laku ini tentu melanjutkan tradisi para Sidi Padangan pada periode sebelumnya.

Pada abad 19 M, Syekh Abdurrohman Padangan (Mbah Klotok) dan Syekh Syihabuddin Padangan (Mbah Betet) banyak menulis unsur alam dalam berbagai catatannya. Kedekatan dengan alam menjadi medium bersosial dengan masyarakat. Ini terlihat dalam risalah nasehat maupun catatan suwuk mujarobat. Perihal ini tentu melanjutkan nilai-nilai dan ajaran para Sidi Padangan di waktu yang lebih lampau.

Peti kayu jati yang digunakan untuk menyimpan Manuskrip Padangan

Pada abad 17 M, Mbah Sabil Padangan, Mbah Sambu Lasem, dan Mbah Jabbar Singgahan — leluhur dari Mbah Klotok, Mbah Betet, Mbah Robayan, dan Mbah Jalakan— juga dikenal dekat dengan alam. Masyhur diriwayatkan dalam berbagai tauladan, Mbah Sabil merawat Sungai Bengawan, Mbah Sambu merawat Pesisir Lautan, dan Mbah Jabbar merawat Pegunungan Kendeng. Tradisi ini juga melanjutkan metode para Sidi Padangan pada masa yang lebih jauh ke belakang.

Pada abad 14 M, Sidi Jamaluddin Husain, sohibul wilayah Gunung Jali Padangan — leluhur dari Mbah Sabil, Mbah Sambu, dan Mbah Jabbar — juga masyhur memiliki kedekatan dengan alam. Bahkan memiliki ajaran wasathiyah untuk merawat alam. Ajaran-ajaran ini menyublim dalam berbagai hikayat seperti Teken Baldhatun Thoyibah, Kerikil Lamtaro, Carang Ilahilastu, Uyah Uluhiyah, dan lain sebagainya.

Ekoteologi: Oikos Theos Logos

Oikos bermakna ruang hidup atau alam sebagai tempat bernaung. Theos merujuk pada dimensi spiritualitas dan ketuhanan yang memberi arah dan makna. Sementara Logos merepresentasikan rasio, akal, dan ilmu pengetahuan sebagai alat memahami realitas. Oikos, Theos, dan Logos adalah muasal kata dan pondasi dari apa yang hari ini kita sebut: Ekoteologi.

Tali daun adalah Oikos: representasi simbol alam. Segel berisi doa merupakan Theos: relasi spiritual dengan Tuhan. Sementara dokumen ilmu pengetahuan merepresentasikan Logos: jejak pengetahuan dan rasio. Dalam konteks ini; alam, spiritualitas, dan pengetahuan terjalin utuh dalam satu hela napas panjang.

Melalui berbagai risalah, riwayat, dan hikayat, Para Sidi Padangan secara tegas menunjukan bahwa alam harus menjadi tali yang menyatukan spiritualitas dan sains (ilmu pengetahuan). Alam mengikat yang sakral dan yang rasional dalam satu simpul makna. Sehingga keduanya tidak tercerai, melainkan saling menguatkan dalam harmoni.

‎Dari tiga pilar ini, ekoteologi tidak berhenti sebagai wacana, tapi tumbuh dan hidup selama berabad-abad, melintasi waktu yang panjang sebagai sebuah kaidah metodologis: “bahwa merawat bumi (Oikos) adalah bentuk ketaatan kepada Tuhan (Theos) yang harus dijalankan dengan kesadaran akal dan ilmu pengetahuan (Logos)”.

Sejak berabad-abad silam, dari abad 14  hingga abad 20 Masehi, para Sidi Padangan selalu memunculkan metode penyelaras kosmik — baik melalui catatan, riwayat, maupun hikayat — untuk senantiasa membangun keseimbangan antara Alam (lingkungan), Tauhid (spiritualitas), dan Ilmu (sains). Sebuah mekanisme yang kami sebut Metode Padangan.

Para Sidi Padangan telah menunjukan sebuah metode untuk generasi masa depan: bahwa alam harus jadi simpul pengikat antara spiritualitas dan sains. Maka sebuah kebetulan yang baik, pada akhir 2025, Kementerian Agama RI (Kemenag RI) menjadikan ekoteologi sebagai program prioritas yang harus diimplementasikan lembaga-lembaga di bawah naungannya.

Tags: Ekoteologi KemenagMakin Tahu IndonesiaManuskrip PadanganMetode PadanganSidi Padangan
Previous Post

Riwayat yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Next Post

Obituari Jurgen Habermas: Jejak Demokrasi di Desa-desa Indonesia

BERITA MENARIK LAINNYA

Ketika Perang Menang, Masa Depan yang Kalah
Cecurhatan

Ketika Perang Menang, Masa Depan yang Kalah

27/03/2026
Riwayat yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Cecurhatan

Riwayat yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

24/03/2026
Aku Lelah, Maulana: Pengembaraan Ruhani Iqbal bersama Rumi Menembus Cakrawala
Cecurhatan

Aku Lelah, Maulana: Pengembaraan Ruhani Iqbal bersama Rumi Menembus Cakrawala

22/03/2026

Anyar Nabs

Ketika Perang Menang, Masa Depan yang Kalah

Ketika Perang Menang, Masa Depan yang Kalah

27/03/2026
Obituari Jurgen Habermas: Jejak Demokrasi di Desa-desa Indonesia

Obituari Jurgen Habermas: Jejak Demokrasi di Desa-desa Indonesia

26/03/2026
‎Metode Padangan: Oikos Theos Logos untuk Masa Depan

‎Metode Padangan: Oikos Theos Logos untuk Masa Depan

25/03/2026
Riwayat yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Riwayat yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

24/03/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: