Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta — Soe Hoek Gie
Hidup akan mendamparkan kita pada bermacam perbedaan. Apapun itu. Dari yang kecil hingga yang besar. Pasti ada titik beda antara kita dan lainnya. Kepercayaan dan keyakinan adalah salah satunya.
Hari ini adalah Hari Natal. Hari paling bahagia bagi sosok yang teramat dekat dalam hidup saya, kekasih saya. Tentu, menjadi hari bahagia juga bagi saya. Meski kami berbeda dalam keyakinan.
Cinta datang tanpa sepengetahuan. Ia hadir menggenapi yang ganjil. Dan ia datang untuk tidak memilih siapapun yang dicintainya, kecuali cinta itu sendiri. Begitulah cinta, kehadirannya mampu meredam beda.
Saya muslim dan pacar saya kristiani. Hingga hari ini, kami selalu percaya semua akan baik-baik saja. Tidak ada permasalahan tentang perbedaan keyakinan. Kami selalu menghormati kepercayaan masing-masing. Seperti kami mentakzimi cinta kami.
Ketika hari Jumat dan waktunya Jumatan, dia mengingatkan saya untuk segera ke masjid. Begitu sebaliknya, ketika hari Minggu tiba, saya berusaha mengingatkannya untuk berangkat ke gereja. Jumat dan Minggu memang beda, tapi siang-malam dan 24 jam-nya tetap sama. Begitu kami saling memahami.
Perihal kecil itu kami lakukan untuk saling menghormati kepercayaan kami masing-masing. Selain saling mengingatkan, kami juga sering bercerita tentang perbedaan-perbedaan yang kami jalani dalam hidup.
25 Desember Hari Raya Natal tiba. Saya pun terpantik ingin merasakan bahagianya. Apa itu karena dia sedang ikut merayakannya? Saya tidak tahu. Saya hanya ingin tahu bagaimana suasana bahagia natal itu dirasakan.
Dan dari dia pula, saya mendapat cerita ini. Cerita tentang Natal:
Di sebagian daerah, suasana natal akan sangat terasa kehangatannya. Dengan semua hiasan yang bertemakan merah. Pohon natal di sudut rumah dengan berbagai cemilan yang menghias meja. Dan banyak orang datang untuk bersinggah.
Namun, suasana natal di desaku, seakan tidak ada yang berbeda dengan hari-hari biasa. Meskipun ada, hanya ada sedikit yang membedakan. Yakni, adanya pohon natal yang menghiasi rumahku. Ya, hanya itu.
Tidak ada orang yang bersinggah, bahkan hanya untuk mengucapkan selamat natal. Kerabatku yang jauh hanya sempat mengucapkan lewat telepon. Ya, begitulah menjadi yang berbeda.
Eits, tapi bukan berarti aku tidak menantikan natal di setiap tahunnya atau aku tidak bahagia di hari natal. Aku selalu menantikan natal dan selalu berbahagia di Hari Natal.
Perayaan natalku selalu kurayakan di gereja beribadah didalamnya dan memaknai natal yang sebenarnya.
Meski hanya di gereja, bahagia natalku tidak pernah berkurang bahkan semakin bertambah di setiap tahunnya.
Dulu, ketika masih kecil, seperti teman-teman lainnya, aku ingin sekali merasakan natal dengan salju dan kehangatan seperti yang ditampilkan tontonan televisi. Namun semakin bertambahnya usiaku, pengertianku akan natal yang semula hanya sebuah pohon natal, makanan dan kado itu berubah dengan pandanganku yang sekarang.
Aku mengartikan semua itu hanyalah kebiasaan. Yang mungkin dulunya dilakukan orang kemudian diikuti oleh orang lain. Dan menjadi sebuah tradisi yang menyebar di seluruh dunia.
Menurutku, kalaupun tidak melakukan tradisi tersebut, Tuhan juga tidak akan mempermasalahkannya. Sejatinya, natal adalah bukti nyata cinta Tuhan yang lahir ke dunia dan menyelamatkan manusia.
Dan di setiap natalku, aku selalu memaknai hal tersebut dan lebih menyiapkan hatiku untuk bersyukur dan berterimakasih kepadanya karena kasihnya yang begitu besar. Begitulah bahagia natalku. Terimakasih sudah memintaku bercerita soal itu.
Membaca ceritanya, tentu membuat saya sangat kagum akan betapa sederhananya dia memaknai hari raya, dan betapa tabahnya dia menjalani perbedaan di sudut liyan kehidupan mayoritas.
Kelak jika hari raya Iedul Fitri tiba, tentu saya akan mengingatkannya untuk meminta saya bercerita tentang pengalaman saya menjalani hari raya. Tentang betapa bahagianya saya merayakan hari raya Iedul Fitri seperti halnya dia menceritakan bahagianya dia merayakan hari raya Natal.
Kami akan selalu menghormati satu sama lain. Saling berkisah tentang perbedaan-perbedaan yang kami jalani. Sebab bagi kami, beda adalah keniscayaan, dan cinta hadir sebagai perawat kehidupan.








