Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Bojonegoro nomor 02, Setyo Wahono-Nurul Azizah akan membentuk Dana Abadi Bojonegoro (Bojonegoro Investment fund). Program ini merupakan strategi jangka panjang untuk pembangunan berkelanjutan pasca sumber migas habis dieksploitasi.
Kabupaten Bojonegoro hari ini sebagai pemilik APBD besar Rp 8,2 triliun, ditopang dana bagi hasil (DBH) migas. Namun, harus disadari, pendapatan dari migas ini akan terus berkurang seiring turunnya produksi.
Produksi minyak di Bojonegoro sekarang ini dikisaran angka 140 ribu barel per hari (Bph), dari sebelumnya menyentuh level 230 ribu Bph sekitar tahun 2019-2021. Produksi ini menyumbang 30 persen produksi minyak nasional.
Menyadari potensi sumber daya alam migas yang dimiliki Bojonegoro saat ini merupakan sumber daya tidak terbarukan (non-renewable), maka paslon Bupati dan Wakil Bupati, Setyo Wahono-Nurul Azizah menyiapkan strategi jangka panjang untuk mewujudkan keberlanjutan pembangunan Bojonegoro.
“Agar Bojonegoro tidak jatuh miskin lagi pada saat migas habis, maka paslon Wahono-Nurul berkomitmen membentuk Dana Abadi Bojonegoro atau Bojonegoro Investment Fund,” ucap Joko Purwanto, Tim Pemenangan Paslon Setyo Wahono – Nurul Azizah.
Menurut Joko, 64 persen pendapatan daerah Kabupaten Bojonegoro saat ini berasal dari DBH Migas yang diterima dari pemerintah pusat.
“Jadi APBD Bojonegoro sangat bergantung dari pendapatan DBH Migas. Padahal ini (migas) sumber daya tak terbaharukan,” imbuhnya.
Karena itu, lanjut Joko, diperlukan menyiapkan startegi kebiajakan jangka panjang agar Bojonegoro tetap dapat melakukan pembangunan berkelanjutan, meskipun sumber migas telah habis kerena dikuras terus menerus.
Joko menegaskan, pembentukan Dana Abadi Bojonegoro ini juga untuk mewujudkan keadilan distribusi sumber daya alam migas untuk generasi Bojonegoro yang akan datang.
“Dari sebagian kecil pendapat migas yang diterima Bojonegoro disisihkan, diinvestasikan dan dikelola untuk pengembangan sumber daya manusia Bojonegoro,” jelasnya.
Dana Abadi Bojonegoro, tambah Joko, diperuntukan pembangunan sumber daya manusia (SDM), karena hingga saat ini indeks pembangunan manusia (IPM) Bojonegoro masih rendah. Berada di perangkat 26 dari 38 kabupaten kota di Jawa Timur.
Sementara Cabup Setyo Wahono menyampaikan, pembentukan Dana Abadi Bojonegoro (Bojonegoro Investment Fund) bersumber dari sebagian pendapatan Migas. Dana ini untuk pembangunan kualitas SDM lintas generasi Bojonegoro seperti pemberian beasiswa berkelanjutan.
“Ini untuk menjaga keberlanjutan pembangunan daerah pasca migas turun atau habis. Melalui cara ini, kita ingin keberadaan migas bisa menjadi berkah, bukan kutukan,” tegas cabup asli Bojonegoro dari Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo ini.
Setyo Wahono menegaskan, Dana Abadi Bojonegoro nanti dikelola secara terbuka, transparan dan akuntabel. Bahkan masyarakat bisa dengan mudah mengakses pengembangan Dana Abadi Bojonegoro secara realtime pada sistem informasi yang disediakan.
“Mulai dari dana digunakan untuk apa saja, diinvestasikan kemana saja, semua terbuka dan transparan,” pungkas adik Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Pratikno ini.








