Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Pusaka Kalam Munyeng

Totok Supriyanto by Totok Supriyanto
21/01/2025
in JURNAKULTURA
Pusaka Kalam Munyeng

Tak lama setelah Trunajaya dihukum dengan keji, Mangkurat II berangkat ke Surabaya. Setibanya di Surabaya, ia segera berkunjung di Astana Ngampel, sementara itu, Pangeran Lamongan dipaksa untuk menyerah dan mengakui tahtanya.

Mangkurat II lalu memberi perintah kepada Raden Mangun-Jaya, untuk segera menuju Astana Giri, dengan maksud meminta restu kepada Panembahan Giri, untuk memanggilnya dan bila perlu meminta pusaka yang paling terkenal bernama Kalam-Munyeng untuknya naik tahta.

Sesampainya di Giri, Pandita penerus Sunan Giri bertanya: “Hai Mangun-jaya, siapakah Mangkurat? Apakah ia keturunan Mataram atau bukan? Kabar yang beredar dia anak amral, apakah itu benar? Kalau memang benar dia trah Mataram, maka akan kurestui sebagai Raja, tetapi kalau dia anak amral, keturunan dari tanah sebrang, maka tak akan kurestui!.”

Mangunjaya menjawab: “Sang Pandita, saya tidak tahu, sebenarnya saya hanya mengikuti pendapat orang-orang saja, bahwa para priyayi Mataram banyak yang sudah percaya. Menurut informasi mereka, memang benar berasal dari seberang, hanya saja ia diasuh oleh amral.”

Panembahan Giri berkata: “Kalau begitu, Mangunjaya, pulanglah, aku tidak ingin menemui Rajamu, apalagi merestuinya. Tak akan kuserahkan pusaka Giri.”

Karena marah utusannya sia-sia, Mangkurat II memutuskan untuk menyerang Giri. Empat ratus pasukan Giri ditumpas, menyisakan Raden Singa-Sari yang tetap bertahan sebagai tembok terakhir gerbang istana Giri.

Akhirnya Panembahan Adilangu bergabung menyerangnya, Raden Singa-sari pun gugur bersama Panembahan Giri. Pusaka Kalam Munyeng berhasil direbut, anak perempuan Panembahan dibawa sebagai bukti kemenangannya.

Mangkurat II kemudian tinggal untuk sementara di Gresik, mengangkat Raden Mangun-Jaya menjadi Bupati Sumenep, dan mendapatkan gelar Pangeran Cakra-Ningrat

Pusaka Kalam-Munyeng, belakangan dikatakan sebagai sebuah pusaka berwujud Keris, namun namanya terkorupsi huruf menjadi Kala-Munyeng, sungguh dua hal yang berbeda meskipun kehilangan satu huruf saja.

Apapun, dengan direbutnya Kalam-Munyeng menandakan telah berakhirnya era Giri sebagai tempat berkumpulnya para Ulama/Pandita dan Wali untuk membahas urusan-urusan agama, tergantikan seorang Susuhunan yang lekat dengan sifat “Kala” bernama Mangkurat II atau Sunan Amral. Jika boleh menganggap bahwa “amral” adalah Admiral (Kompeni), apakah boleh untuk dikatakan bahwa Kalam-Munyeng berasal dari kata “Kalam” dan “Hyang”, atau mudah diartikan sebagai Ayat Suci, sebagai simbolik bahwa Giri pernah menjadi pusat dakwah Islam di Jawa?

Sumber Pustaka: Poenika Serat Babad Tanah Djawi Wiwit Saking Nabi Adam Doemoegi Ing Taoen 1647, 1941.

Tags: Budaya JawaKerisPusaka Kalam Munyeng
Previous Post

Kaidah Perahu, Tradisi Ekosufisme Padangan

Next Post

Perayaan 1 Abad Pramoedya, Perpustakaan Jenggala Gelar Dialog Bersama Soesilo Toer

BERITA MENARIK LAINNYA

Menghayati Siklus Abadi Sungai Bengawan: Kemarau Tak Bisa Cebok, Penghujan Tak Bisa Jongkok
Cecurhatan

Menghayati Siklus Abadi Sungai Bengawan: Kemarau Tak Bisa Cebok, Penghujan Tak Bisa Jongkok

13/10/2026
Alkemis Kebudayaan
JURNAKULTURA

Alkemis Kebudayaan

05/10/2026
Kapak Purba Berusia 4.000 Tahun Ditemukan di Bojonegoro
JURNAKULTURA

Kapak Purba Berusia 4.000 Tahun Ditemukan di Bojonegoro

29/09/2026

Anyar Nabs

Sertijab Direktur Eksekutif LPDS: Tantangan Jurnalisme di Era Digital dan Target Penguatan Kompetensi Pers

Sertijab Direktur Eksekutif LPDS: Tantangan Jurnalisme di Era Digital dan Target Penguatan Kompetensi Pers

21/10/2026
Industri Pencitraan Pahlawan: Politik Vigilantisme Batman dan Pejabat Ngonten

Industri Pencitraan Pahlawan: Politik Vigilantisme Batman dan Pejabat Ngonten

21/10/2026
Dari Api Abadi hingga Doa Bersama, Merawat Kebersamaan di HJB 349

Dari Api Abadi hingga Doa Bersama, Merawat Kebersamaan di HJB 349

20/10/2026
Skill Saja Tak Cukup, EMCL Gembleng Etos dan Mental Kerja Para Pelajar dan Mahasiswa Magang

Skill Saja Tak Cukup, EMCL Gembleng Etos dan Mental Kerja Para Pelajar dan Mahasiswa Magang

19/10/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: