Baghdad, 184 H.
Hari itu, Imam Asy-Syafii baru saja selamat dari tuduhan dan dakwaan pemberontakan yang hampir merenggut nyawanya. Ia dihadapkan kepada Harun Al-Rasyid dengan kedua tangan dan kaki terbelenggu rantai besi. Namun, tuduhan itu tidak terbukti. Ia pun lepas dari tuduhan yang ternyata merupakan fitnah belaka.
Selepas dibebaskan, Imam Asy-Syafii kemudian kembali ke Makkah. Kali ini, bukan sekadar kembali ke Kota Suci itu. Namun, dengan status baru sebagai orang yang hampir dijatuhi hukuman mati dan diberi kesempatan menjadi manusia bebas kembali. Karena itu, ia memandang naik haji tahun itu bukan merupakan kewajiban tahunan.
Namun, naik haji kali ini, baginya, merupakan pelarian sekaligus pencarian, “Ketika belenggu besi itu terlepas dari kedua kaki dan tanganku, aku berjanji pada diriku sendiri: tidak akan ada yang akan membelengguku lagi selain cinta kepada-Nya. Dan, cinta itu memerlukan pengorbanan. Aku harus berjalan, meski lututku gemetar.”
Kemudian, saat mengenakan kain ihram, Imam Asy-Syafii sadar bahwa ia sedang melepaskan segala atribut duniawi: pangkat (sebagai Imam Besar), harta (meski ia hidup sederhana), malah nama (karena semua jamaah tampak sama dengan pakaian putih tanpa jahitan).
Imam Asy-Syafii memulai perjalanan naik hajinya dari Kufah (Irak) melalui sebuah rute kuno yang dikenal dengan Darb Zubaidah. Jalur ini membentang sejauh sekitar 1.450 km) dan merupakan salah satu jalur haji terpenting pada masa itu.
Dalam catatan tangannya, sang Imam menggambarkan perjalanan ini dengan metafora yang dalam, “Setiap seribu langkah terasa seperti seribu tahun penantian. Namun, setiap langkah bagiku adalah doa.”
Menjelang meninggalkan Kufah, sang Imam kerap mengulang pesannya kepada murid-muridnya, “Jika kalian tidak sanggup berjalan karena lelah, ingatlah selalu Hajar yang berlari antara Shafa dan Marwah demi seteguk air untuk Ismail. Perjuangannya tidak sia-sia. Dan perjuangan kalian juga tidak akan sia-sia.
Ketika tiba di Makkah dan memasuki Masjidil Haram, sang Imam berucap pelan, “Aku tumbuh di bawah bayang-bayang Ka’bah. Namun, baru kali ini aku benar-benar ‘melihatnya’.”
Pada tanggal 9 Dzulhijjah, saat wukuf, sang Imam memilih tempat wukuf di As-Sakharat Al-Kibar yang berada di bawah Jabal Rahmah. Ini adalah tempat Rasulullah Saw. berwukuf. Dalam doanya di tempat itu, ia antara lain berdoa, “Ya Allah, di padang ini-di mana Adam dan Hawa bertemu kembali selepas berpisah sekian lama-pertemukanlah aku dengan cinta-Mu. Jagalah aku dari api neraka-Mu, karena Engkau adalah Yang Maha Pemurah.”
Hari itu, matahari terik menyengat. Beberapa jamaah pingsan karena kelelahan. Namun, sang Imam tetap berdiri, memandang ke arah langit dengan air mata yang mengalir deras di pipinya yang tirus. Dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia berbisik kepada seorang murid yang mendekat, “Anakku. Hari ini adalah hari di mana Allah Swt. membebaskan hamba-hamba-Nya dari neraka. Aku menangis karena dosa-dosaku yang bagiku terasa sebesar gunung.”
Ini adalah cerminan dari pemikirannya tentang haji: haji bukan perjalanan fisik, namun juga perjalanan batin dari “ketakutan” menuju “pengharapan”. Ketika ia berdiri di Arafah, ia mewakili semua orang yang berdosa yang berharap pada rahmat Allah. Dan baginya, ketakutan itu adalah bentuk ibadah yang paling jujur.
Selepas matahari terbenam di Arafah, rombongan sang Imam bergerak menuju Muzdalifah. Untuk bermalam (mabit). Kemudian, pada pagi 10 Dzulhijjah, mereka melanjutkan perjalanan ke Mina, untuk melempar Jumrah Aqabah, lalu menuju Masjidil Haram untuk melakukan tawaf ifadhah.
Dalam catatan pribadinya, ia menggambarkan bagaimana perasaannya saat melaksanakan tawaf, “Ka’bah itu tidak bergerak. Aku yang bergerak mengitarinya. Namun, seiring berjalannya waktu, aku merasakan sebaliknya: Ka’bah yang bergerak mengelilingi jiwaku, mengitari setiap sudut gelapnya, mengeluarkan segala kotoran yang bersembunyi di sana.”
Seusai bertawaf, sang Imam kemudian bersa’i antara Shafa dan Marwah. Dalam catatannya, ia kisah Hajar, “Hajar lari karena cinta. Aku lari karena rindu. Ia mencari air untuk anaknya. Aku mencari air untuk jiwaku yang kering. Keduanya sama: perjuangan untuk sesuatu yang kita cintai.”
Seusai melaksanakan sa’i, sang Imam menulis tentang pengalaman spiritualnya, “Setelah tujuh kali bolak-balij, aku berhenti. Aku terduduk di dekat Bukit Marwah, kelelahan. Namun, tiba-tiba aku mendengar suara dari dalam hatiku, “Apakah kau sudah berhenti berusaha?” Lalu, aku tersadar: perjuangan tidak pernah berakhir. Bahkan setelah haji, perjuangan tetap ada: melawan hawa nafsu, melawan sifat sombong, melawan rasa lelah untuk beribadah.”
Usai melaksanakan Tawaf Ifadhah, sang Imam kembali ke Mina. Untuk mabit dan melempat jamarat selama beberapa hari. Selama melempar jumrah, sang Imam antara lain berdoa, “Ya Allah, jangan biarkan aku meninggalkan Tanah Suci ini dalam keadaan yang sama saat aku datang. Ubahlah aku. Bentuklah aku. Dan jadikanlah ibadah hajiku ini sebagai saksi bahwa aku adalah hamba yang berusaha.”
Usai melempar jamarat, sang Imam kemudian bertahallul. Baginya, ternyata momen ini sangat emosional. Tulisnya, “Ketika pisau cukur menyentuh kulit kepalaku, aku merasa ada sesuatu yang berat yang terlepas. Entah itu dosa, entah itu rasa bersalah, atau entah itu bebab kehidupan yang selama ini aku pikul sendiri. Aku menangis. Bukan karena sakit, namun karena lega.
Seorang sosok sepuh di sampingku bertanya, “Kenapa kau menangis? Ini hanya rambut. Nanti, akan tumbuh lagi.” Aku menjawab, “Ini bukan hanya memotong rambut. Ini adalah simbol bahwa kita semua memikiki kesempatan untuk memulai lagi. Tidak ada kata terlambat untuk bertobat.”
Sang Imam kemudian berdoa, “Ya Allah, sebagaimana rambut-rambut ibi gugur dan akan tumbuh lagu dengan lebih sehat, gugurkanlag dosa-dosa kami dan tumbuhkanlah du tempatnya amal-amal saleh yang lebih lebih baik, amin.”
Usai melaksanakan seluruh ritual haji, Imam Asy-Syafii kemudian kembali ke Makkah dan duduk di pelataran Masjidil Haram sambil menulis paragraf panjang tentang apa yang ia pelajari dari haji, “Aku belajar bahwa manusia itu bagaikan pasir di gurun pasir: banyak, tersebar, dan kerap kali terlupakan. Namun, Allah tidak melupakan satu butir pasir pun. Dia tahu di mana kita berdiri, Dia tahu di mana kita bersujud, dan Dia tahu ke mana kita akan melangkah setelah itu.
Di Arafah, aku merasakan seperti berada di Padang Mahsyar. Di Mina, aku merasakan seperti sedang melempar dosa-dosaku. Di dekat Ka’bah, aku merasakan seperti memeluk rahmat-Nya. Dan ketika aku pulang, aku sadar: hidup ini adalah rangkaian panjang perjalanan kecil menuju perjalanan terbesar: menuju kematian. Maka, jadikanlah setiap langkahmu sebagai langkah menuju surga!”








