Suatu sore, aku membayangkan duduk di sebuah warung kopi sederhana bersama seorang lelaki tua berkacamata bulat. Rambutnya tipis, wajahnya tenang seperti guru matematika pensiunan yang lebih suka menanam tomat daripada debat di televisi. Ia memesan teh panas tanpa gula. Aku memesan kopi tubruk dan pisang goreng.
Lelaki itu adalah Ernst Friedrich Schumacher. Orang-orang sering menyebutnya Sumacher saja. Penulis buku Small Is Beautiful—Kecil Itu Indah. Di luar warung, motor lewat sambil knalpotnya batuk-batuk. Seorang tukang galon mondar-mandir. Di televisi kecil pojok warung, seorang pejabat bicara tentang pertumbuhan ekonomi sambil tersenyum lebar sekali, seperti habis menang undian.
Grafik warna-warni bergerak naik turun. Kata-kata seperti “hilirisasi”, “daya saing global”, “iklim investasi”, dan “optimalisasi penerimaan negara” meluncur mulus seperti iklan sampo.
Aku menatap Sumacher. “Pak,” kataku, “kenapa ya sekarang buku panjenengan malah terasa makin relevan? Padahal ditulis puluhan tahun lalu.” Sumacher meniup tehnya pelan. “Karena manusia modern,” katanya santai, “sudah terlalu lama percaya bahwa besar pasti lebih baik.” Aku tertawa kecil.
“Mirip orang Indonesia sekarang, Pak. Semua ingin besar. Mall besar. Jalan tol panjang. Gedung tinggi. Proyek raksasa. Bahkan kopi sekarang ukurannya kayak ember.” Sumacher ikut tersenyum.
“Ya. Tapi apakah hati manusia ikut membesar?” Aku diam.
Warung mendadak terasa agak sunyi. Di meja sebelah, dua sopir ojek online sedang menghitung pendapatan hari itu. Salah satu mengeluh bensin naik, order turun, cicilan tetap jalan. Yang satu lagi cuma tertawa pahit sambil berkata, “Yang penting masih bisa makan.”
Sumacher melirik mereka. “Itu,” katanya pelan, “ekonomi yang nyata.”
“Nyata bagaimana?” tanyaku. “Ekonomi bukan angka di layar kementerian. Ekonomi adalah apakah orang bisa hidup dengan tenang atau tidak.” Aku menyeruput kopi. Agak pahit.
“Sekarang orang kecil makin sulit napas, Pak.”
“Iya.”
“Semua serba mahal.” “Iya.” “Kerja keras belum tentu cukup.” “Iya.” “Pajak naik terus, iuran bertambah, listrik mahal, sekolah mahal, rumah mahal. Kadang rasanya negara hadir cuma waktu nagih.” Sumacher tersenyum tipis sekali.
“Negara modern sering lupa,” katanya, “bahwa pajak seharusnya lahir dari kepercayaan rakyat, bukan dari ketakutan rakyat.” Aku langsung teringat obrolan di kampung.
Pedagang kecil dikejar macam-macam aturan. UMKM diminta tertib administrasi sampai pusing sendiri. Tapi perusahaan besar yang merusak hutan bisa tiba-tiba mendapat karpet merah investasi. “Kadang saya bingung, Pak,” kataku. “Yang dipalak kok justru rakyat kecil.” “Karena sistem ekonomi besar,” jawabnya pelan, “sering membutuhkan rakyat sebagai bahan bakar, bukan sebagai tujuan.”
Hujan mulai turun tipis-tipis. Di jalan raya, truk-truk besar melintas membawa batu, pasir, kayu, nikel, sawit, batubara. Semua bergerak keluar dari desa-desa menuju pelabuhan dan kota-kota besar. Seperti arus panjang yang tak pernah selesai.
Sumacher memperhatikan jalan itu lama sekali. “Kalian hidup di zaman ekonomi ekstraktif,” katanya akhirnya. “Ekstraktif?” “Sistem yang mengambil terus-menerus. Mengambil tanah. Mengambil hutan. Mengambil tenaga manusia. Bahkan mengambil waktu hidup manusia.”
Aku terdiam. Benar juga. Gunung dikeruk. Sungai keruh. Laut tercemar. Sawah berubah gudang. Orang desa pindah ke kota lalu menjadi pekerja kontrak tanpa kepastian. Semuanya demi sesuatu yang disebut pertumbuhan. “Lucunya,” kataku, “setelah semua diambil, rakyat tetap disuruh hemat.”
Sumacher tertawa kecil. “Karena kerakusan selalu pandai menyuruh orang lain berkorban.” Di televisi, pejabat bicara tentang bonus demografi. Tentang generasi muda produktif. Tentang masa depan cerah. Aku melirik anak-anak muda di warung. Kepala tertunduk menatap layar ponsel. Sebagian kerja freelance. Sebagian reseller. Sebagian admin toko online. Semua tampak lelah meski masih muda.
“Anak muda sekarang cemas terus, Pak,” kataku. “Kerja kontrak. Gaji pas-pasan. Harga rumah seperti bercanda kejam. Pendidikan mahal. Kota makin padat. Orang-orang berlomba terlihat sukses padahal diam-diam kelelahan.” Sumacher mendengarkan seperti kakek yang sabar.
“Peradaban modern,” katanya kemudian, “sering memproduksi kekayaan sekaligus memproduksi kecemasan.” Aku manggut-manggut. Mall makin mewah. Tapi orang makin sulit tidur. Teknologi makin canggih. Tapi percakapan keluarga makin pendek. Makanan makin banyak. Tapi rasa syukur makin langka.
“Kadang saya curiga ekonomi sekarang seperti lomba lari,” kataku, “tapi garis finisnya terus dipindah.” “Itu memang disengaja,” jawab Sumacher sambil tersenyum kecil. “Kalau manusia merasa cukup, mesin konsumsi bisa melambat.”
Aku langsung ingat iklan-iklan di ponsel. Baru beli HP, tiga bulan kemudian sudah terasa kuno. Baru merasa cukup, media sosial datang membawa iri hati. Orang dipaksa terus membeli agar ekonomi tetap tumbuh, meski batin makin keropos.
Di kampung-kampung dulu, orang memang tidak kaya. Tapi banyak yang masih punya waktu duduk di gardu ronda, memelihara ayam, ngobrol setelah magrib, atau sekadar tidur tanpa dihantui tagihan pinjaman online. Sekarang semuanya bergerak cepat sekali. Cepat belanja. Cepat marah. Cepat viral.
Cepat bangkrut. Sumacher mengunyah pisang goreng pelan.
“Kalian diajari bahwa kemajuan berarti membesarkan semuanya,” katanya sambil menunjuk jalan raya. “Padahal kalau terlalu besar, manusia justru hilang.”
Aku mengangguk. Sekarang sawah kecil kalah oleh industri besar. Warung kecil kalah oleh aplikasi besar. Petani kecil kalah oleh korporasi besar. Nelayan kecil kalah oleh kapal besar. Bahkan kadang tetangga kalah dekat dibanding algoritma.
“Jadi kecil itu indah maksudnya hidup miskin?” tanyaku. “Bukan.” “Lalu?” “Kecil itu artinya manusia masih terlihat.” Kalimat itu membuatku diam cukup lama. Di luar warung, seorang anak kecil berlari sambil tertawa mengejar sandal jepitnya yang hanyut di selokan. Ibunya teriak dari teras. “Awas jatuh!” Anak itu malah makin tertawa.
Sumacher memperhatikan pemandangan itu seperti sedang melihat sesuatu yang sangat penting. “Lihat,” katanya. “Kebahagiaan sering datang dari hal-hal kecil yang sekarang dianggap tidak produktif.” Aku tertawa. “Kalau sekarang, Pak, orang nongkrong lama di warung bisa dianggap pemalas.” “Padahal mungkin itu satu-satunya terapi murah yang mereka punya.” Kami tertawa bersama.
Lalu aku bercerita tentang petani yang kehilangan tanah karena proyek. Tentang guru honorer yang gajinya kalah oleh cicilan motor. Tentang anak-anak muda yang akhirnya pergi ke kota besar lalu hidup di kamar sempit demi mengejar sesuatu yang juga tidak jelas bentuknya.
“Modernitas,” kata Sumacher pelan, “kadang menjanjikan kebebasan sambil diam-diam menciptakan ketergantungan.”
“Ketergantungan apa?” “Pada utang. Pada konsumsi. Pada pekerjaan yang tidak dicintai. Pada sistem yang membuat manusia takut berhenti.” Aku menatap cangkir kopi yang tinggal ampas.
Hujan makin deras. Warung jadi hangat oleh bau minyak goreng dan kopi. Di televisi, pejabat tadi masih bicara tentang pertumbuhan ekonomi. Grafik naik turun seperti roller coaster. Aku membayangkan kalau Sumacher hidup di Indonesia sekarang.
Mungkin ia akan lebih senang ngobrol dengan tukang tambal ban daripada hadir di seminar hotel bintang lima. Ia mungkin lebih tertarik melihat koperasi kecil, pasar desa, kebun pangan warga, bengkel sederhana yang masih memperbaiki barang lama, atau ibu-ibu yang saling berbagi bibit cabai daripada startup yang bakar uang demi valuasi.
Sebab baginya, ekonomi seharusnya membantu manusia hidup, bukan membuat manusia habis hidupnya. “Lalu solusinya apa, Pak?” tanyaku akhirnya. Ia tersenyum. “Mungkin manusia perlu belajar cukup.” “Cukup itu sulit.” “Karena seluruh dunia sekarang bekerja lembur agar manusia tidak pernah merasa cukup.” Aku tertawa keras sampai pemilik warung melirik.
Malam turun perlahan. Aku membayar kopi. Ketika menoleh lagi, Sumacher sudah tidak ada. Yang tertinggal hanya cangkir teh hangat dan suara hujan di seng warung. Di kejauhan, kota masih sibuk mengejar yang besar: proyek besar, utang besar, kekuasaan besar, keuntungan besar.
Tapi diam-diam hidup sebenarnya masih ditopang oleh hal-hal kecil: warung kecil, petani kecil, pengrajin kecil, keluarga kecil, percakapan kecil, doa-doa kecil, dan manusia-manusia kecil yang setiap hari menjaga dunia agar tidak benar-benar runtuh. Aku berdiri cukup lama di depan warung.
Untuk pertama kalinya aku merasa: mungkin di zaman negara makin rakus, ekonomi makin ekstraktif, dan manusia makin lelah ini—kecil itu bukan sekadar indah. Kecil adalah benteng terakhir agar manusia tetap waras.[]








