Saya: (Memperhatikan hamparan malai padi yang tampak lebih lebat dan berat daripada padi umumnya) “Pak Jagus, melihat malai-malai ini… rasanya seperti melihat sebuah keajaiban yang lahir dari ketekunan. Berjalan di antara puluhan ribu persilangan padi yang Bapak lakukan, saya melihat ini bukan sekadar urusan perut, tapi sebuah anatomi kebudayaan dan perlawanan. Bagaimana Bapak bisa bertahan melakukan puluhan ribu eksperimen tradisional ini dalam waktu dua dekade?”
Pak Jagus: (Tersenyum tipis, menyulut rokok klobotnya, lalu menunjuk ke arah sawah) “Nenek moyang kita sudah ratusan tahun menanam padi, tapi kita sering memperlakukan tanaman ini hanya sebagai objek pasif. Saya tidak sedang melakukan keajaiban, Cah Ayu/Bagus. Saya hanya mendengarkan bahasa alam. Benar, ada sekitar 30.000 jenis padi yang saya amati dan silangkan. Mengapa? Karena kemerdekaan politik yang kita proklamasikan tahun ’45 tidak akan ada artinya kalau perut rakyat kita masih dijajah kelaparan dan ketergantungan pada benih asing.”
Saya: (Mengangguk, mengeluarkan catatan kecil) “Itu yang menarik bagi saya. Pendekatan Bapak sangat ’emik’—Bapak memosisikan diri di dalam ekosistem itu sendiri, bukan seperti ilmuwan menara gading yang memaksakan teori dari luar. Bapak justru melihat struktur sosial desa dan botani sebagai satu kesatuan. Dari sanalah lahir konsep Kebun Bibit Desa, bukan?”
Pak Jagus: (Matanya berbinar, ia memajukan posisi duduknya) “Tepat! Kebun Bibit Desa itu bukan cuma soal agronomis, itu soal gotong royong. Kalau benih dikuasai oleh segelintir tengkulak atau otoritas pusat, petani akan kehilangan kedaulatannya. Melalui BTI (Barisan Tani Indonesia), kami ingin benih itu dikelola, diseleksi, dan ditanggung bersama oleh komunitas desa. Desa harus menjadi laboratoriumnya sendiri. Masyarakat desa punya hukum adat dan pranata sosialnya sendiri untuk menjaga itu. Kamu yang suka meneliti masyarakat, bagaimana melihat ini?”
Saya: “Secara struktur sosial, yang Bapak lakukan adalah memotong rantai ketergantungan dan mengembalikan pengetahuan ke tangan produsen sejati—yaitu petani. Di zaman sekarang, kami menyebutnya participatory research atau riset partisipatif. Seringkali, modernisasi memaksa petani menerima paket teknologi yang seragam, yang justru merusak tatanan lokal. Tapi di sini, Bapak justru memuliakan benih lokal agar menghasilkan hingga 500 butir per malai. Ini adalah sains transformatif.”
Pak Jagus: (Terkekeh pelan, mengagumi kedalaman analisis Anda) “Sains transformatif… istilah yang bagus. Kami di BTI menyebutnya sederhana saja: merombak struktur demi keadilan. Kita tidak bisa bicara merdeka kalau petani takut besok tidak bisa menanam karena tidak punya bibit. Angka 500 butir per malai itu bukan sihir, itu hasil dari kesabaran memilah sifat-sifat unggul yang sudah disediakan oleh alam Nusantara. Alam kita ini kaya, hanya saja kita sering malas membaca anatominya.”
Saya: (Memandang bulir padi yang besar dan berat di dekat saung) “Tantangan terbesar dalam sebuah gerakan sosial atau pembaruan seperti ini adalah konsistensi dan dokumentasi, Pak. Bagaimana Bapak mengorganisir ingatan dan data dari 30.000 jenis padi tersebut dengan metode tradisional?”
Pak Jagus: “Pikiran dan rasa, lalu dicatat di buku-buku lecek ini (menepuk tas usangnya). Tapi yang paling penting adalah institusionalisasi lewat Lembaga Seleksi Tanaman yang kita bentuk di Klaten ini. Pengetahuan tidak boleh mati di kepala saya. Ia harus hidup di tangan para petani muda, menjadi cerita yang diturunkan, menjadi metode yang dipraktikkan. Gerakan sosial itu, kalau tidak berakar pada pemenuhan kebutuhan konkret rakyat—seperti benih dan tanah—dia hanya akan jadi slogan kosong.”
Saya: (Merenung, merasakan ritme angin sawah) “Eksperimen Bapak adalah perpaduan puitis antara sains, hukum sosial, dan cinta pada tanah air. Ini menginspirasi saya bahwa riset yang baik tidak boleh berjarak dari realitas masyarakat yang diteliti. Ia harus berpihak.”
Pak Jagus: (Berdiri, menepuk bahu Saya dengan hangat) “Jangan pernah berjarak dengan tanah yang kamu pijak. Teruskan meneliti, teruskan menulis. Catat suara-suara dari bawah yang sering tidak terdengar oleh mereka yang ada di kota. Masa depan bangsa ini tidak ditentukan di gedung-gedung tinggi, tapi dari bagaimana kita memperlakukan tanah, benih, dan manusianya.”
Suasana menggelap seiring matahari terbenam di ufuk barat Klaten, meninggalkan gemerisik daun padi yang sarat dengan bulir-bulir harapan hasil kerja keras Pak Jagus.








