Peradaban Islam Bojonegoro, termasuk kesenian-nya, berhubungan kuat dengan kaidah maritim sungai. Hal ini dibahas dalam Sarasehan Budaya bertajuk Peradaban Islam Bengawan Bojonegoro digelar di Museum Rajekwesi (12/9/2026). Kegiatan ini merupakan rangkaian acara dari Pameran Temporer 2026 yang berlangsung selama tiga hari, yakni pada (11–13/9/2026).
Sarasehan di hari kedua dengan tajuk Peradaban Islam Bengawan tersebut, menghadirkan dua narasumber, yakni maestro sandur Bojonegoro, Okky Dwi Cahyo dan penulis sekaligus periset naskah Bengawan, A. Wahyu Rizkiawan.
Bengawan memiliki posisi penting dalam sejarah kehidupan masyarakat Bojonegoro. Dari berbagai wilayah yang dilintasi sungai tersebut, Bojonegoro merupakan kawasan terpanjang yang dilalui alirannya. Di sepanjang sungai itu pula beragam kebudayaan tumbuh, termasuk kesenian dan cara hidup masyarakat.
Melalui Regeeringsreglement 1854 (RR 1854), kolonial mengatur kesenian hanya boleh dimiliki masyarakat agraris, sementara masyarakat maritim sungai hanya boleh berdagang. Karena itu, kesenian maritim sungai harus dihilangkan. Jipang (Bojonegoro) merupakan kawasan maritim sungai. Maka selama dua abad terakhir, kesenian di kawasan ini seperti sengaja dihilangkan.
Dalam acara ini, dua narasumber berusaha menunjukan bahwa Bojonegoro tak pernah kehilangan kesenian-nya. Budaya Njipangan — termasuk kesenian maritim sungai — masih menjadi subkultur yang tetap lestari hingga kini. Meski, kehadirannya tak begitu disadari dan di-amplifikasi.

Okky Dwi Cahyo dalam pemaparannya mengatakan, Sandur sebagai kesenian khas Bojonegoro tidak bisa dilepaskan dari keberadaan sungai.
Menurutnya, Sandur merupakan kesenian yang lahir dari bantaran sungai. Jejak hubungan tersebut salah satunya dapat dilihat dari berbagai istilah yang digunakan dalam kesenian Sandur.
Sejumlah istilah dalam Sandur juga menunjukkan adanya doa-doa yang dilokalkan. Istilah-istilah Islami dijawakan dan ditempatkan dalam konteks kebudayaan setempat.
Hal itu menunjukkan adanya sikap masyarakat untuk mengakomodasi sesuatu yang datang dari luar, kemudian menjadikannya sesuatu yang dekat dengan kehidupan mereka. Kecenderungan semacam ini, kata Okky, banyak ditemukan pada masyarakat yang hidup di kawasan sungai dan laut.
Hubungan Sandur dengan Bengawan bahkan masih dapat dilihat hingga sekarang. Mayoritas tempat kesenian Sandur, kata dia, berada tidak jauh dari aliran Bengawan. Di Bojonegoro, antara lain berada di Desa Ledok dan Jetak, yang sama-sama berada di kawasan Bengawan.
“Istilah-istilah seperti Somelah Somelah, Kuwato Lakuwata. Ini istilah yang muncul di kesenian Sandur, dan identik sungai,” ucap Okky.
Sementara itu, A. Wahyu Rizkiawan menjelaskan peradaban Islam Bengawan melalui sudut pandang naskah Bengawan. Ia membicarakan catatan-catatan kuno yang lahir dari pesantren-pesantren di sepanjang Bengawan, khususnya di wilayah Bojonegoro.
Menurut Rizky, naskah Bengawan yang ditemukan di Bojonegoro cukup beragam. Catatan tangan tersebut tidak hanya berisi doa dan cerita, tetapi juga merekam peristiwa faktual, catatan perjalanan, nasihat hudup, serta berbagai bidang keilmuan.
“Catatan manuskrip ini muncul dari pesantren-pesantren kuno yang berada di bantaran sungai Bengawan,” ucap Rizky.
Dalam sarasehan tersebut, Rizky juga membacakan satu lembar manuskrip bertema Kaidah Perahu. Naskah tersebut berisi nasihat para leluhur yang menggambarkan kehidupan ibarat berenang. Karena itu, manusia membutuhkan perahu sebagai kendaraan untuk menempuh perjalanan.
Kaidah tersebut ditulis dalam bahasa Jawa menggunakan huruf Pegon. Bagi Rizky, penggunaan analogi perahu dan berenang dalam sebuah teks nasihat menunjukkan betapa dekatnya sungai dengan kehidupan masyarakat pada masa itu.
“Bahkan analogi pengetahuan pun berhubungan dengan sungai Bengawan. Kaidah Perahu adalah contoh betapa dekatnya para leluhur dengan sungai,” ucap Rizky.
Dari Sandur hingga manuskrip, Bengawan tidak hanya hadir sebagai bentang geografis. Sungai itu menjadi ruang tempat gagasan, kesenian, doa, pengetahuan, dan cara hidup saling bertemu. Peradaban Islam Bengawan, dengan demikian, tidak semata-mata dapat dibaca melalui masjid, pesantren, atau bangunan tua.
Ia juga tersimpan dalam lembaran-lembaran tulisan tangan dan kesenian yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sungai menjadi jalannya. Manuskrip menjadi catatannya. Kesenian menjadi ingatannya.








