Toga diarak keliling kampus ketika wisuda. Foto mengenakan pakaian kebesaran akademik dikirim ke grup WhatsApp keluarga. Orang tua tersenyum di samping anaknya. Ucapan pun berdatangan: Alhamdulillah, jadi sarjana pertama di keluarga.
Untuk sesaat, gelar itu terasa seperti tiket menuju kelas sosial yang lebih tinggi. Tetapi tiket itu ternyata tidak selalu berlaku lama. Begitu sang sarjana pulang ke desa, lalu beberapa tahun berlalu tanpa pekerjaan tetap, tanpa penghasilan yang dianggap cukup, dan tanpa tanda-tanda kehidupan yang segera “jadi”, gelar itu kehilangan daya magisnya.
Di rumah sebelah, seseorang yang hanya lulusan SMA mungkin sudah mengenakan seragam sebagai abdi negara. Di rumah yang lain, seseorang yang tidak pernah kuliah bisa saja menikah dengan anak juragan. Rumahnya direnovasi. Kendaraannya berganti. Kehidupannya tampak lebih mapan.
Dan di sebuah hajatan, ketika kursi-kursi mulai disusun, status sosial sering kali tidak ditentukan oleh berapa tinggi pendidikan seseorang. Yang menentukan adalah: siapa yang sudah dianggap berhasil.
Gelar Sarjana dan Prestise yang Kedaluwarsa
Siti, 28 tahun, bukan nama sebenarnya, adalah sarjana pertama di keluarganya. Ia lulus dari sebuah perguruan tinggi negeri dengan jurusan yang cukup bergengsi. Masa kuliahnya juga terbilang cemerlang: selesai dalam tiga setengah tahun, meraih predikat summa cumlaude, sekaligus menjadi wisudawan terbaik di tingkat program studi dan fakultas.
Ketika pertama kali pulang membawa ijazah, ia seperti membawa kabar baik untuk satu keluarga. Namanya disebut dalam pengajian. Ibunya bercerita kepada tetangga bahwa anaknya kuliah di kota. Foto wisudanya terpajang. Gelar sarjana menjadi semacam kebanggaan kolektif.
Tiga tahun pertama, status itu masih terasa kuat. Kemudian kenyataan datang perlahan. Siti belum mendapatkan pekerjaan tetap. Ia berpindah dari satu pekerjaan lepas ke pekerjaan lainnya. Penghasilannya naik turun. Tidak ada kantor dengan seragam, tidak ada slip gaji yang membuat orang tua bisa dengan mudah menjelaskan kepada tetangga bahwa anaknya telah “mapan”.
Pertanyaan pun berubah. Dulu: “Sudah lulus?”, Lalu: “Kerja di mana?”, Beberapa tahun kemudian: “Kapan mapan?”, dan setelah usia tertentu: “Kapan menikah?”
Siti tertawa ketika menceritakannya. Tetapi di balik tawanya ada sesuatu yang getir, “Awalnya dielu-elukan. Lama-lama yang ditanya bukan lagi kuliahnya, tapi kapan hidupnya jadi.”
Barangkali di situlah letak ironi gelar sarjana di sebagian masyarakat desa. Gelar adalah modal simbolik. Tetapi modal simbolik membutuhkan waktu untuk berubah menjadi sesuatu yang terlihat. Dan masyarakat cenderung lebih cepat percaya kepada sesuatu yang bisa dilihat.
Ketika Menantu Juragan Mengalahkan Wisudawan Terbaik
Titik balik cerita Siti datang dari seseorang yang dulu bermain bersamanya ketika masih sekolah dasar. Temannya itu menikah pada usia 22 tahun dengan anak pemilik toko sembako terbesar di desa. Pendidikan mereka tidak sama. Temannya hanya lulusan SMA. Tidak pernah mengerjakan skripsi, tidak pernah berdiri di panggung wisuda dengan toga dan selempang. Tetapi beberapa tahun setelah menikah, kehidupannya berubah.
Rumah direnovasi. Kendaraan berganti. Jaringan sosialnya melebar. Ia mulai duduk dalam lingkaran orang-orang yang sebelumnya terasa jauh. Bahkan pendapatnya tentang urusan desa — harga pupuk, perdagangan, pembangunan jalan — mulai lebih sering didengar.
Siti menyaksikan semua itu dari jarak dekat: “Dia nggak pernah kuliah. Tapi begitu menikah dengan anak juragan, omongannya lebih didengar daripada aku yang katanya anak kuliahan.”
Di titik itu, Siti mulai memahami sesuatu. Masyarakat desa tidak hanya mengenali seseorang berdasarkan apa yang pernah ia capai, tetapi juga berdasarkan posisi sosial yang sedang ia miliki. Ijazah adalah tanda pernah menempuh pendidikan.
Pernikahan dengan keluarga mapan adalah tanda telah masuk ke dalam jaringan ekonomi tertentu. Keduanya bekerja dengan logika sosial yang berbeda. Yang satu menunjukkan potensi. Yang lain menunjukkan posisi. Dan dalam kehidupan sehari-hari, posisi sering kali lebih cepat terbaca daripada potensi.
Lulusan SMA dan Seragam Abdi Negara
Ironi lainnya datang dari adik kelas Siti ketika SMA. Ia tidak melanjutkan kuliah karena persoalan biaya. Secara akademik, ia juga bukan siswa yang dulu diprediksi akan menjadi orang paling sukses di angkatannya. Tetapi ia memiliki satu tujuan: menjadi abdi negara. Bertahun-tahun ia mencoba. Berkali-kali mengikuti seleksi. Sampai akhirnya berhasil.
Konon, untuk memenuhi kebutuhan selama proses itu, keluarganya bahkan harus menjual sebidang sawah warisan. Ketika SK pengangkatan akhirnya keluar, kabarnya menyebar cepat. Di desa, berita seperti itu tidak membutuhkan waktu lama untuk menjadi pengetahuan bersama. Status baru pun segera melekat pada namanya.
“Sudah jadi abdi negara.”
Kalimat itu sederhana, tetapi membawa banyak makna. Ia dianggap memiliki masa depan yang lebih pasti. Dipandang sebagai calon menantu yang baik. Dianggap memiliki pekerjaan yang jelas. Bahkan keluarganya ikut memperoleh semacam kenaikan gengsi sosial.
Di hadapan status semacam itu, gelar sarjana Siti kembali berhadapan dengan pertanyaan yang sama: Apa yang sudah dihasilkan dari gelar itu? Siti tidak merasa iri. Yang ia rasakan justru semacam kesadaran yang tidak nyaman: bahwa masyarakat ternyata tidak selalu sedang menilai tingkat pendidikan seseorang.
Mereka sedang membaca kepastian hidup. Gelar adalah Janji, Status adalah Bukti. Kalau dipikir lebih dalam, cara masyarakat memandang hal ini sebenarnya cukup masuk akal. Gelar sarjana adalah sebuah janji. Ia menjanjikan pengetahuan, kompetensi, kesempatan kerja, mobilitas sosial, bahkan kemungkinan kehidupan yang lebih baik.
Tetapi semuanya masih berupa kemungkinan. Ijazah tidak otomatis menghadirkan pekerjaan. Pendidikan tinggi tidak otomatis menghasilkan kekayaan. Gelar tidak otomatis membuat seseorang memiliki rumah, kendaraan, jabatan, jaringan bisnis, atau pasangan dari keluarga berada. Sementara itu, status sebagai abdi negara atau menjadi bagian dari keluarga mapan adalah sesuatu yang lebih mudah dibaca.
Ada seragam. Ada SK. Ada jabatan. Ada rumah yang direnovasi. Ada kendaraan. Ada jaringan keluarga. Ada kehidupan yang secara kasatmata terlihat berubah. Gelar berbicara tentang apa yang mungkin terjadi. Status sosial berbicara tentang apa yang sudah terjadi. Masyarakat, terutama dalam ruang sosial yang dekat seperti desa, sering kali lebih mudah mempercayai yang kedua. Sebab kehidupan sehari-hari tidak berlangsung di atas transkrip nilai.
Ia berlangsung di antara rumah, sawah, warung, kantor desa, hajatan, pengajian, arisan, dan percakapan di teras rumah. Di ruang-ruang itulah keberhasilan dibaca.
Bukan berarti pendidikan tinggi tidak penting. Justru sebaliknya. Pendidikan adalah investasi yang hasilnya sering kali tidak langsung terlihat. Masalahnya, masyarakat sering menggunakan ukuran keberhasilan yang berbeda dengan apa yang diajarkan kampus.
Kampus mungkin berbicara tentang pengetahuan, daya pikir kritis, kompetensi, riset, dan kemampuan menciptakan perubahan. Masyarakat sehari-hari lebih sederhana: “Kerjanya apa?”, “Gajinya berapa?”, “Sudah punya rumah?”, “Sudah menikah?”, “Anaknya siapa?”
Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya merupakan mekanisme sosial untuk menentukan posisi seseorang. Di sana, pendidikan hanyalah salah satu indikator. Bahkan bukan selalu indikator utama. Itulah sebabnya seorang sarjana bisa merasa kalah pamor dari orang yang hanya lulusan SMA tetapi sudah menjadi abdi negara.
Seorang wisudawan terbaik bisa merasa tertinggal dari teman sekolahnya yang menikah dengan keluarga juragan. Bukan karena gelarnya menjadi tidak berharga. Tetapi karena gelar belum selesai menjalankan janjinya.
Siti masih menyimpan ijazahnya di dalam lemari. Sesekali tetangga datang meminta bantuan mengisi formulir, membuat surat, atau menerjemahkan istilah asing yang mereka tidak pahami. Pengetahuannya tetap berguna. Tetapi ia tahu, dalam hierarki sosial desanya, pengetahuan tidak selalu identik dengan kekuasaan.
Pada rapat RT, hajatan, atau pertemuan warga, ia sudah lama berhenti menghitung siapa yang duduk di kursi paling depan. Sebab ia mulai memahami bahwa kursi itu tidak selalu diberikan pada orang berpendidikan tinggi.
Kadang diberikan pada orang yang paling mapan. Kadang pada pemilik jabatan. Kadang kepada orang yang mempunyai jaringan keluarga paling luas. Kadang kepada mereka yang dianggap sudah “jadi”.
Dan mungkin, di situlah ironi paling sunyi dari seorang sarjana di desa. Ia menghabiskan bertahun-tahun untuk membuktikan bahwa dirinya mampu belajar. Tetapi setelah lulus, ia masih harus menghabiskan bertahun-tahun lagi untuk membuktikan bahwa hidupnya layak disebut berhasil. Ijazahnya tinggi.
Tetapi masyarakat masih menunggu satu hal yang lebih mudah dilihat: kapan hidupnya benar-benar menjadi “jadi”.








