Bermacam ide pengembangan ledre dibahas secara detail dalam acara Sarasehan Ledre digelar di SMK N Purwosari (7/10/2026). Agenda diikuti pelajar dan masyarakat umum ini, merupakan pembuka pagelaran Festival Ledre Bojonegoro yang dihelat di Kecamatan Purwosari pada (8/10/2026).
Sarasehan Ledre menjadi ruang temu antara ide gagasan dan inovasi sedang berkembang. Dalam sarasehan ini, hadir sejumlah narasumber di antaranya; jurnalis Bojonegoro Raya, Yusab Alfa Ziqin; Camat Purwosari, Ike Widyaningrum; dan Kepala Disbudpar Bojonegoro, Elzadeba Agustina.
Dalam pemaparannya, Yusab Alfa Ziqin mengatakan ledre merupakan produk kebudayaan dalam bentuk jajanan. Sebab, mengandung nilai sejarah dan inovasi masyarakat. Karena itu, dengan peliputan khusus, ia mencoba mengabarkan kembali bagaimana ledre bisa tetap hidup di tengah-tengah masyarakat.
“Kami mengulik sejarah dan perkembangan ledre sampai hari ini. Harapannya agar generasi hari ini juga ikut mengetahui dan menjaganya” ucap Yusab.
Dalam sambutannya, Camat Purwosari, Ike Widyaningrum mengucap syukur karena sampai saat ini, pengetahuan tentang ledre tak benar-benar hilang. Terbukti, banyak peserta sarasehan yang mayoritas pelajar, masih memahami bagaimana ledre diproduksi. Adanya Festival Ledre, kata dia, harus membuatnya kian dekat dengan generasi muda.
“Purwosari ini identik ledre. Di sini, ada ratusan pengrajin ledre. Nanti semua harus ikut meramaikan Festival Ledre di Kecamatan Purwosari” ucap Ike pada para peserta sarasehan.
Sementara itu Kepala Disbudpar Bojonegoro, Elzadeba Agustina optimistis ledre bakal punya daya gebrak nasional. Sebagai makanan ringan Bojonegoro, keberadaan ledre punya nilai identitas yang bertahan selama puluhan tahun. Selain itu, keberadaannya juga berkembang dengan bermacam inovasi.

Melalui Surat Edaran (SE) Bupati, Elzadeba akan menggagas setiap kegiatan di Pemkab menyediakan ledre sebagai sajian khas. Ia menargetkan, pasca diadakan Festival Ledre Bojonegoro ini, popularitas ledre sebagai sajian khas Bojonegoro kian besar.
Di hadapan para peserta yang mayoritas pada pelajar, Elzadeba mengajak mereka untuk mengembangkan ledre agar lebih sesuai zaman. Bukan pengusaha yang hanya memproduksi, tapi juga membikin upaya inovasi. Baik dari segi rasa maupun kemasan.
“Nanti kami akan mengusulkan bimtek membuat ledre bagi siswa-siswi” pungkas dia.








