Sebanyak 60 mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Bojonegoro mengikuti kegiatan camping ground di puncak Kedung Lantung, Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, Bojonegoro, Rabu (15/10/2026). Kegiatan ini menjadi pembuka Festival Lantung yang berlangsung selama dua hari, 15–16 Oktober 2026, dengan memadukan aktivitas alam, pengenalan tradisi lokal, dan sarasehan budaya.
Festival Lantung merupakan perhelatan wisata, budaya, dan edukasi masyarakat. Acara yang didukung ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) ini, digelar dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Bojonegoro ke-349, serta meresmikan Geosite Kedung Lantung.
Pada Rabu siang, para peserta menyusuri kawasan perbukitan dan jurang Lantung sebelum mendirikan tenda di puncak bukit yang tidak jauh dari lokasi utama festival. Selain menjadi ruang perjumpaan antarmahasiswa, kegiatan ini mengajak peserta mengenal lanskap Kedung Lantung secara langsung, termasuk karakter alam yang membentuk kehidupan masyarakat setempat.
Memasuki malam hari, peserta mengikuti lokakarya pembuatan ublik, lampu tradisional berbahan bakar minyak tanah. Peralatan penerangan ini merupakan bagian dari ingatan kolektif masyarakat Kedung Lantung pada masa lalu. Melalui praktik tersebut, tradisi tidak sekadar diperkenalkan sebagai cerita, tetapi juga dihidupkan kembali melalui pengalaman langsung.

Agenda dilanjutkan dengan sarasehan budaya yang membahas Kedung Lantung dari dua perspektif, yakni geologi dan kebudayaan. Forum ini dirancang untuk memperluas pemahaman peserta mengenai Lantung, bukan hanya sebagai bentang alam, melainkan juga sebagai ruang yang menyimpan pengetahuan, tradisi, dan hubungan panjang antara manusia dengan lingkungannya.
Sarasehan menghadirkan dua narasumber, Burhanuddin Arriza, geolog dari UPN Yogyakarta, dan Ahmad Wahyu Rizkiawan, penulis dan periset kebudayaan. Keduanya mengulas Kedung Lantung melalui sudut pandang berbeda yang saling melengkapi.
Panitia Festival Lantung, Lukman Chakim, menjelaskan bahwa kegiatan kemah merupakan bagian dari rangkaian festival sekaligus agenda pembuka sebelum kegiatan lainnya berlangsung.
“Jadi, hari pertama sekaligus pembuka, ada camping di puncak Lantung,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Burhanuddin Arriza menjelaskan bahwa Kedung Lantung memiliki keunikan geologi karena memperlihatkan hubungan antara struktur geologi, batuan sedimen, dan sistem petroleum secara langsung.
Salah satu fenomena yang menarik perhatian ialah keberadaan rembesan minyak bumi alami. Menurut Burhanuddin, fenomena tersebut menunjukkan bahwa hidrokarbon yang terbentuk dan bermigrasi di bawah permukaan bumi dapat mencapai permukaan melalui rekahan atau zona lemah pada batuan.
“Kedung Lantung bukan sekadar tempat dengan rembesan minyak, tetapi merupakan laboratorium alam terbuka. Di sini kita dapat belajar bagaimana batuan, struktur geologi, fluida, dan proses tektonik saling berinteraksi,” jelasnya.

Ia menambahkan, karakter tersebut menjadikan Kedung Lantung memiliki nilai penting bagi penelitian, pendidikan, konservasi, sekaligus pengembangan geowisata. Kawasan ini membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memahami proses geologi melalui fenomena alam yang dapat diamati secara langsung.
Sementara itu, Ahmad Wahyu Rizkiawan memandang Kedung Lantung sebagai laboratorium kebudayaan, tempat proses alam bertemu dengan pengetahuan dan praktik hidup masyarakat.
Ia menyoroti cara masyarakat setempat mengambil lantung—rembesan minyak bumi alami—dengan menggunakan bulu ayam. Praktik tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat mengembangkan cara tersendiri untuk merespons kondisi alam di sekitarnya.
Menurut Wahyu, cara masyarakat Lantung berbeda dengan masyarakat Kedewan yang menggunakan jerami dalam praktik pengambilan lantung. Perbedaan ini menunjukkan bahwa pengetahuan lokal tumbuh melalui pengalaman, pengamatan, dan adaptasi terhadap karakter lingkungan masing-masing.
“Di Kedung Lantung, kita tidak hanya melihat fenomena geologi, tetapi juga cara manusia memahami dan merespons alam. Penggunaan bulu ayam untuk mengambil lantung merupakan bagian dari pengetahuan lokal yang patut dicatat dan diwariskan,” ungkapnya.
Perspektif tersebut menempatkan kebudayaan bukan semata-mata sebagai kesenian atau tradisi seremonial, melainkan juga sebagai pengetahuan praktis yang lahir dari interaksi manusia dengan lingkungannya.
Melalui camping ground, lokakarya pembuatan ublik, dan sarasehan budaya, Festival Lantung berupaya mempertemukan generasi muda dengan kekayaan alam dan pengetahuan lokal Bojonegoro. Kedung Lantung pun hadir bukan hanya sebagai bentang geologi, melainkan sebagai ruang belajar yang mempertautkan bumi, manusia, dan ingatan kebudayaan.








