Remukan ledre bahkan bisa jadi alasan bahwa keberuntungan masih layak dicoba, diharap, ataupun ditertawakan.
Ledre merupakan jajanan khas Bojonegoro yang renyah, dibuat dari tepung dan pisang raja. Adonannya dipanggang, lalu digulung hingga membentuk lembaran ringan yang mudah patah. Sekali digigit, remukannya berjatuhan. Remukan ledre jadi bagian tak terpisahkan. Dari situlah berkembang mitos: konon, orang yang berhasil memakan ledre tanpa menjatuhkan remahannya akan mendapatkan jodoh idaman.
“Tidak diemplok langsung, tapi digigit. Nah, kalau remukannya tidak jatuh, dapat jodoh idaman,” ucap seorang pengunjung sembari berkelakar.
Dalam Festival Ledre Bojonegoro, Kamis (8/10/2026), sejumlah muda-mudi tampak mencoba mitos tersebut. Mereka menggigit ledre dengan hati-hati, berusaha menjaga setiap serpihan agar tidak jatuh.
Ada yang berhasil lalu tertawa bangga. Ada pula yang remahannya berhamburan, tetapi tetap tertawa bersama kawan-kawannya. Tak ada yang benar-benar kecewa. Sebab, dalam permainan kecil itu, kegagalan pun punya alasan untuk dirayakan.

Sejumlah remaja tampak mencoba. Mereka menggigit ledre dengan hati-hati, berusaha menjaga remukannya agar tidak berjatuhan. Namun, serpihan remukan tipis itu berjatuhan dan justru mengundang tawa. Mereka mengucap harapan bersama. Di antara remah ledre dan gelak tawa, terselip doa.
“Semoga jodohnya baik-baik semua” ucap salah satu remaja, disusul tawa bersama.
Tohirun, salah seorang pengunjung, turut mencoba ledre yang dibuat langsung para perajin. Fresh from the oven, katanya. Ia menggigit ledre dengan mantap. Namun, remukannya berjatuhan. Alih-alih menyerah, Tohirun segera menangkap remukan itu dan memasukkannya ke mulut. Pengunjung lain juga melakukan perihal serupa.
Ada yang menggigit perlahan, ada yang terlalu bersemangat, ada pula yang sibuk menangkap remukan sebelum menyentuh tanah. Gelak tawa mengiringi percobaan. Mereka mencoba makan ledre bukan semata merasakan manis dan renyahnya, melainkan juga menguji keberuntungan, menggoda teman, dan membicarakan jodoh tanpa perlu terlalu serius.
Mitos itu memang sederhana. Tidak ada jaminan remukan ledre yang berhasil dipertahankan, akan mengantar pada jodoh impian. Namun, justru di situ letak kelucuannya. Sesuatu yang sulit dilakukan diberi hadiah berupa harapan.
Kegagalan tidak mendatangkan kesialan, sementara keberhasilan boleh dirayakan sebagai pertanda baik. Di antara remah yang jatuh dan tawa yang pecah, masyarakat menemukan cara yang ringan untuk merawat pengharapan.
Barangkali, jodoh memang tidak sesederhana menggigit ledre tanpa menjatuhkan remahannya. Namun, mitos itu membuat sebuah jajanan menjadi lebih dari sekadar makanan. Ada permainan, keakraban, dan doa yang diam-diam diselipkan di antara bunyi renyah setiap gigitan. Di Bojonegoro, bahkan remukan ledre bisa jadi alasan bahwa keberuntungan masih layak ditertawakan, dicoba, dan diharapkan.








