Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Kedung Lantung Diresmikan: Merayakan Warisan Bumi, Menghidupkan Budaya

Redaksi by Redaksi
16/10/2026
in Peristiwa
Kedung Lantung Diresmikan: Merayakan Warisan Bumi, Menghidupkan Budaya

Peresmian Geosite Kedung Lantung (16/10/2026)

Pada Kamis hingga Jumat (15–16/10/2026), Festival Lantung 2026 menjadi momen peluncuran Geosite Kedung Lantung. Festival mengusung tema “merayakan warisan bumi, menghidupkan budaya” ini, dihadiri sejumlah pemangku kebijakan, mulai dari Pemkab Bojonegoro, DPRD Bojonegoro, perwakilan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), hingga SKK Migas.

Perbukitan Lantung, Dusun Lantung, Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, menyimpan lebih dari sekadar bentang alam. Di sana, lapisan batuan, jejak geologi, dan pengetahuan lingkungan bertemu dalam sebuah lanskap menyimpan cerita panjang bumi. Geosite ini, telah diresmikan.

Peresmian ini bukan sekadar penanda hadirnya fasilitas baru. Ia menjadi langkah menunjukkan Kedung Lantung sebagai ruang belajar geologi, konservasi, dan kebudayaan lokal. Di tengah perbukitan yang menyimpan rekam jejak proses alam, Kedung Lantung berpeluang jadi titik temu antara pengetahuan ilmiah, pengalaman masyarakat, dan upaya merawat lingkungan.

Camat Sugihwaras, Heri Purwanto, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, EMCL, dan SKK Migas atas dukungan pembangunan fasilitas di Kedung Lantung. Menurut dia, keberadaan fasilitas tersebut diharapkan membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi wilayahnya.

“Kami berterima kasih kepada Pemkab Bojonegoro, EMCL, dan SKK Migas yang telah mendukung pembangunan fasilitas Kedung Lantung. Harapannya, kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut, tidak berhenti pada festival saja, tetapi memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat,” ujar Heri.

Baginya, keberlanjutan menjadi kunci agar pengembangan geosite tidak berhenti sebagai agenda seremonial. Fasilitas yang telah dibangun perlu diikuti aktivitas yang konsisten, keterlibatan warga, serta peluang ekonomi yang tumbuh dari kekayaan alam dan budaya setempat.

Community Relation EMCL, Rifky Ramadan, mengatakan pengembangan Geosite Kedung Lantung merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak. Ia menilai, kawasan tersebut menyimpan nilai pengetahuan yang perlu digali lebih jauh, terutama berkaitan dengan fenomena geologi dan konservasi lingkungan.

Kedung Lantung, kata dia, mewarisi nilai-nilai pengetahuan yang penting untuk dipelajari. Karena itu, pihaknya berkolaborasi dengan Universitas Bojonegoro (Unigoro) dan Bojonegoro History (Bohis) untuk menggali potensi Kedung Lantung.

“Ini hasil kolaborasi, baik dari sisi pengetahuan maupun konservasi lingkungan,” kata Rifky.

Kolaborasi itu mempertemukan beragam cara pandang terhadap lanskap. Perguruan tinggi membawa pendekatan akademik, komunitas sejarah menelusuri jejak dan narasi lokal, sementara masyarakat menjadi bagian penting dari kehidupan kawasan. Dengan cara itu, Kedung Lantung tidak hanya dipandang sebagai objek wisata, melainkan ruang pengetahuan yang perlu dipahami sekaligus dijaga.

Geosite Kedung Lantung: Diresmikan dengan Bangga dan Berbahagia (16/10/2026)

Perwakilan SKK Migas, Erwin Adrianto, menyampaikan bahwa pengembangan geosite menunjukkan kontribusi industri hulu minyak dan gas bumi tidak semata-mata berkaitan dengan produksi. Menurut dia, pengembangan masyarakat, konservasi, dan pemajuan kebudayaan juga menjadi bagian penting dari kerja kolaboratif di wilayah operasi migas.

“Keberadaan Geosite Kedung Lantung menjadi bukti bahwa perusahaan migas tidak hanya berfokus pada produksi. Ada aspek pengembangan masyarakat, konservasi lingkungan, dan pemajuan budaya yang juga perlu mendapat perhatian,” ujar Erwin.

Pernyataan itu menempatkan pengembangan Kedung Lantung dalam cakupan yang lebih luas. Aktivitas industri dan kehidupan masyarakat berada dalam lanskap yang sama. Karena itu, upaya membangun kebermanfaatan perlu melampaui urusan ekonomi produksi, dengan turut memperhatikan warisan geologi, lingkungan, serta pengetahuan yang tumbuh di tengah masyarakat.

Sementara itu, Asisten Administrasi Umum (Asda III) Sekretariat Daerah Bojonegoro, Machmuddin, menyebut Kedung Lantung sebagai geosite istimewa karena memiliki fenomena geologi berupa sistem petroleum gas. Fenomena tersebut menjadi salah satu nilai penting yang membedakan kawasan ini dari bentang alam lainnya.

“Kedung Lantung memiliki keistimewaan dari sisi geologi, terutama fenomena sistem petroleum gas yang tergolong langka. Potensi seperti ini perlu dikenali, diteliti, dan dikembangkan agar masyarakat semakin memahami kekayaan geologi yang dimiliki Bojonegoro,” kata Machmuddin.

Ia juga menyoroti langkah Kedung Lantung menuju pengakuan di tingkat dunia melalui proses yang berkaitan dengan UNESCO. Upaya tersebut menjadi kesempatan bagi Bojonegoro untuk memperkenalkan kekayaan geologi dan upaya konservasinya kepada khalayak yang lebih luas. Namun, pengakuan internasional juga menuntut konsistensi dalam menjaga kualitas kawasan, mengembangkan pengetahuan, dan melibatkan masyarakat.

Peluncuran Geosite Kedung Lantung melalui Festival Lantung 2026 dengan demikian menjadi titik awal, bukan garis akhir. Nilai sebuah geosite tidak hanya ditentukan oleh keunikan batuan atau kelangkaan fenomena geologinya, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat merawatnya dan mewariskan pengetahuan yang terkandung di dalamnya.

Di Lantung, bumi menyimpan catatan dalam lapisan-lapisan batuannya. Tugas manusia adalah membacanya tanpa merusak halaman-halamannya. Dari sebuah dusun di Sugihwaras, Bojonegoro kini memiliki ruang baru untuk memperkenalkan cerita bumi kepada dunia—seraya memastikan bahwa manfaatnya tetap tumbuh di tanah tempat cerita itu bermula.

Tags: Kedung LantungLantung Festival 2026Peresmian Geosite
Previous Post

Camping Ground dan Sarasehan Budaya Ramaikan Festival Lantung

BERITA MENARIK LAINNYA

Camping Ground dan Sarasehan Budaya Ramaikan Festival Lantung
Peristiwa

Camping Ground dan Sarasehan Budaya Ramaikan Festival Lantung

15/10/2026
TPS3R Sudu Bojonegoro Matangkan Sistem Pengelolaan Sampah Berkelanjutan
Peristiwa

TPS3R Sudu Bojonegoro Matangkan Sistem Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

14/10/2026
Peringatan Hari Tani, Bupati Bojonegoro Ingin Wujudkan Lumbung Pangan
Peristiwa

Peringatan Hari Tani, Bupati Bojonegoro Ingin Wujudkan Lumbung Pangan

10/10/2026

Anyar Nabs

Kedung Lantung Diresmikan: Merayakan Warisan Bumi, Menghidupkan Budaya

Kedung Lantung Diresmikan: Merayakan Warisan Bumi, Menghidupkan Budaya

16/10/2026
Camping Ground dan Sarasehan Budaya Ramaikan Festival Lantung

Camping Ground dan Sarasehan Budaya Ramaikan Festival Lantung

15/10/2026
Kenapa Kita Manut Sama Apa Saja: Dari Jurnal Tier Atas Sampai Jebakan Nalar Impor

Kenapa Kita Manut Sama Apa Saja: Dari Jurnal Tier Atas Sampai Jebakan Nalar Impor

15/10/2026
TPS3R Sudu Bojonegoro Matangkan Sistem Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

TPS3R Sudu Bojonegoro Matangkan Sistem Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

14/10/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: