Festival Lantung jadi perayaan masyarakat, UMKM Desa bergeliat.
Malam menjelang. Namun, venue Festival Lantung kian ramai (16/10/2026). Anak-anak terlihat ceria berlarian. Ibu-ibu dan bapak-bapak, tampak gayeng memadati lapak UMKM Desa. Maklum, Festival Lantung hadirkan sejumlah kesenian lokal; Keroncong Modern, Tari Lantung, hingga pertunjukan Sandur.
Pasca diresmikan pada siang hari, venue Festival Lantung tak kunjung sepi. Sejumlah penampilan seperti band keroncong, tari lantung, dan sandur membuat para pengunjung senang. Sebab, di tiap pergantian tampilan, panitia menyediakan doorprize bagi pengunjung yang bisa menjawab pertanyaan.
Kemeriahan Festival Lantung juga dirasakan langsung masyarakat setempat. Linda, warga Desa Drenges, mengaku senang dengan penyelenggaraan festival tersebut. Menurutnya, acara hiburan mengangkat kreasi warga masih jarang digelar. Kehadiran beragam pertunjukan seni lokal jadi pengalaman tersendiri baginya, sekaligus membuka wawasan tentang kekayaan kesenian di Bojonegoro.
“Cukup senang karena tahu kalau di Bojonegoro banyak kesenian lokalnya,” ucap Linda.

Bagi Linda, festival semacam ini bukan sekadar hiburan, melainkan juga kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal kembali kekayaan budaya yang tumbuh di daerahnya sendiri. Apalagi, sejumlah penampilan yang disuguhkan menjadi pengalaman baru baginya.
Manfaat festival juga dirasakan dari sisi ekonomi. Zainal, warga setempat yang sehari-hari membuka warung kelontong, mengaku dagangannya lebih ramai selama kegiatan berlangsung. Kehadiran pengunjung membuat aktivitas jual beli meningkat. Ia juga melihat sejumlah warga membuka lapak untuk memanfaatkan keramaian festival.
“Bahkan banyak warga berjualan dan semua ramai. Semoga kegiatan seperti ini rutin diselenggarakan,” imbuhnya.
Pengalaman Linda dan Zainal memperlihatkan dua sisi penting Festival Lantung: ruang bagi masyarakat untuk mengenal dan merayakan kesenian lokal, sekaligus peluang ekonomi bagi warga. Dengan melibatkan masyarakat sebagai penonton, pelaku budaya, maupun pedagang, festival ini menunjukkan bahwa pengembangan geowisata dapat berjalan beriringan dengan kehidupan sosial dan ekonomi desa.

Selain menjadi hiburan bagi masyarakat, pertunjukan seni tersebut juga menjadi ruang bagi kesenian lokal untuk tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Festival Lantung mempertemukan masyarakat dengan ragam ekspresi budaya yang tumbuh dan dirawat di lingkungan mereka sendiri.
Pertunjukan Sandur menjadi salah satu penampilan menarik perhatian pengunjung. Kesenian tradisional khas Bojonegoro ini hadirkan perpaduan seni peran, tari, musik, dan humor yang lekat kehidupan masyarakat. Sementara Tari Lantung, kesenian tari yang tumbuh di desa tersebut, turut memberi warna dalam Festival Lantung.
Di sesela pertunjukan, suasana keakraban tampak di antara pengunjung. Mereka tak hanya datang untuk menyaksikan hiburan, tetapi juga menikmati kebersamaan dalam perayaan yang melibatkan berbagai unsur masyarakat.
Rangkaian acara malam itu melengkapi peresmian Geosite Kedung Lantung yang berlangsung pada siang harinya. Melalui Festival Lantung, potensi geologi kawasan tersebut diperkenalkan bersamaan dengan kekayaan seni dan budaya masyarakat setempat.
Dengan demikian, Kedung Lantung tidak hanya memiliki daya tarik dari bentang alamnya, tetapi juga menyimpan cerita, tradisi, dan ekspresi budaya yang menjadi bagian dari identitas masyarakatnya. Kombinasi potensi alam dan kebudayaan ini diharapkan dapat memperkuat daya tarik Kedung Lantung sebagai destinasi geowisata di Bojonegoro.








