Hujan yang mengguyur Desa Leran, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro, kemarin sore tak dibiarkan mengalir sia-sia ke selokan. Di pekarangan rumah warga Dusun Sidokumpul, tetesan air hujan itu langsung lenyap ditelan lubang-lubang biopori yang baru tertanam di tanah.
Di tengah ancaman kekeringan yang rutin melanda Bojonegoro setiap musim kemarau, warga setempat kini memilih bersiasat melalui gerakan konservasi air bertajuk “Banyu Kanggo Urip 2026”.
Sri Muji Asih, warga Desa Leran, mengaku bahwa karena kemarau tahun ini cukup panjang, membuat sumur warga banyak yang kering. Melalui gerakan Banyu Kanggo Urip, Sri dan para perempuan di sana mempelajari dan membuat aksi. Mereka membuat ribuan biopori, menanam pohon, dan mengajak warga lain untuk menyiapkan tabungan air.
“Jadi ketika hujan seperti kemarin, air langsung masuk ke lubang biopori. Setidaknya ada air yang tersimpan di dalam tanah untuk cadangan sumur kami,” tutur Sri kepada media pada Sabtu (23/10/2026).
Sri Muji mendapuk peran sebagai penggerak Srikandi Penyelamat Bumi, kelompok yang beranggotakan 40 perempuan dari empat desa: Leran dan Wotanngare (Kalitidu), Sedah Kidul (Purwosari), serta Kendung (Padangan). Mereka berkomitmen merawat ribuan sarana biopori, iopori, dan fasilitas penunjang mata air di wilayahnya.
Gerakan ini menempatkan perempuan di garis depan adaptasi perubahan iklim. Pada pengukuran Srikandi dan gerakan Banyu Kanggo Urip Jumat kemarin, Ketua TP PKK Kabupaten Bojonegoro, Cantika Wahono, menyebutkan bahwa perempuan adalah pihak pertama yang merasakan beban domestik saat sumber air mengering.
“Ibu-ibu yang paling memutar otak memenuhi kebutuhan air rumah tangga saat kemarau. Karena itu, merawat biopori adalah langkah nyata menabung air hujan untuk masa depan,” ujar Cantika.
Program ini merupakan bagian dari kegiatan Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bekerja sama dengan Yayasan Sikas Nusantara. Sebanyak 500 unit biopori dan 13 unit iopori disalurkan secara bertahap kepada masing-masing Srikandi desa untuk memperkuat cadangan air tanah warga.

Perwakilan EMCL, Wahyu Sadewo, menjelaskan bahwa daya serap biopori yang teruji saat hujan turun menjadi modal penting bagi keberlanjutan ekosistem desa. Kata dia, fasilitas ini dan keberadaan kelompok Srikandi Penyelamat Bumi disiapkan untuk menjaga ketahanan air warga secara jangka panjang.
“Kami mengapresiasi semangat dan antusiasme para Srikandi,” ucapnya.
Pengukuhan Srikandi kemarin juga diisi dengan aksi penanaman bersama. Cantika Wahono bersama ratusan perempuan dan tokoh masyarakat menanam berbagai jenis pohon, mulai dari pohon buah, peneduh, hingga pohon tegakan. Turut hadir, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro, Camat Kalitidu, Camat Purwosari, dan Camat Padangan.
Penghijauan ini menjadi komitmen kolektif para tokoh masyarakat, penggiat lingkungan, dan pemerintah daerah setempat untuk menjaga struktur tanah dan memastikan cadangan air tanah tetap melimpah di Bumi Rajekwesi itu.








