Tepat setelah azan magrib berkumandang pada Senin (19/10/2026) sore itu, Api Abadi sampai di halaman kantor Badan Koordinator Wilayah (Bakorwil) II Bojonegoro. Api Abadi yang dibawa Camat Trucuk, Edi Santoso, secara estafet diserahkan kepada Camat Bojonegoro, David Yudha Prasetya.
Langkah seremonial berjalan perlahan penuh khidmat. Api Abadi tersebut singgah sejenak di teras Gedung Maharani sebelum dibawa ke Pendopo Malowopati, kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro. Api Abadi ini akan dihadirkan pada acara Penyemayaman Api Abadi di Pendopo Malowopati dan Doa Bersama Lintas Agama.
Tak berselang lama, Api Abadi di ujung obor tersebut kembali tegak berdiri di tangan David. Tepatnya pada pukul 19.30 wib, badal isya. Dia bersama barisan pasukan membawa Api Abadi tersebut menuju Pendopo Malowopati.
David berjalan perlahan dengan pasti, bersama rombongan pasukan mengikuti di belakang. Berbaris rapi layaknya pasukan kerajaan. Di bagian ekor barisan, rombongan hadrah mengumandangkan selawatan. Turut hadir Ketua Komisi A DPRD Bojonegoro, Sudiono, berjalan mendampingi David di barisan depan.

Tibalah saat di mana Api Abadi yang dibawa David berhenti di gapura kantor Pemkab Bojonegoro. Ketua DPRD Bojonegoro, Abdullah Umar bersama barisan sudah bersiap menyambut rombongan David. Saatnya Api Abadi kembali berpindah tangan. David menyerahkan obor Api Abadi kepada Umar.
Umar mengarak api tersebut menuju ke Pendopo Malowopati. Langkah barisan senada dengan rombongan sebelumnya. Perlahan penuh khidmat dengan nuansa sakral. Langkah Umar berhenti ketika sampai di teras pendopo. Di sana sudah ada Wakil Bupati (Wabup) Bojonegoro, Nurul Azizah, menanti barisan Umar yang siap menerima passing. Lantas, Nurul membawa obor api yang menjilat udara tersebut masuk ke dalam pendopo Malowopati.
Di dalam pendopo, Nurul menyerahkan Api Abadi kepada Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono. Rangkaian kirab Api Abadi untuk memperingati Hari Jadi Bojonegoro ke-349 (HJB 349) memasuki puncaknya. Obor Api Abadi di pindah pada tungku persemayaman sebagai tanda akhir dari kirab.
Wahono memimpin penyemayaman Api Abadi. Wabup Nurul Azizah dan Sekretaris Daerah (Sekda) Edi Susanto turut mendampingi. Tak luput pula berjejer para jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Bojonegoro. Kirab Api Abadi ditutup dengan tepuk tangan meriah.
Kirab sudah selesai. Namun, rangkaian acara bernuansa hitam khas Samin malam itu masih terus berjalan. Pasca Penyemayaman Api Abadi, acara dilanjutkan dengan penampilan Tari Khayangan Api. Sebuah tarian tradisional khas Bojonegoro. Tari yang menggambarkan fenomena api abadi serta legenda Mbah Kriya Kusuma. Di Bojonegoro, Mbah Kriyo dikenal sebagai pembuat benda pusaka pada masa Kerajaan Majapahit.
Setelah tarian selesai, acara dilanjutkan dengan doa bersama. Pembacaan doa dipimpin para pemuka agama secara bergantian. Para hadirin mendengar doa dengan khidmat dan penuh hormat. Seluruh doa dipanjatkan untuk seluruh umat manusia, wabil khusus warga Bojonegoro. Ini menjadi momen sakral sebagai bentuk renungan kala hari menggenapi usia. Terutama dalam peringatan HJB 349.

Dalam sambutannya, Wahono mengungkapkan bawah kirab Api Abadi ini tidak hanya sebuah giat seremonial peringatan HJB. Menurutnya, Api Abadi ialah simbol semangat perjuangan dan pengabdian masyarakat Bojonegoro. Berdasarkan rasa cinta yang mendalam, semangat tersebut ibarat Api Abadi yang tidak pernah dan tidak boleh padam.
“Api Abadi adalah simbol semangat perjuangan yang tidak akan pernah padam. Perhormatan terhadap sejarah dan komitmen bersama untuk meneruskan pembangunan demi kesejahteraan masyarakat Bojonegoro yang kita cintai bersama,” kata Wahono.
Melalui kirab Api Abadi, Wahono mengingatkan masyarakat atas ajakan untuk mengenang sejarah. Perjalanan panjang Kabupaten Bojonegoro tidak berhenti pada catatan dan kenangan, melainkan jasa para pendahulu yang layak diberi penghormatan. Sejarah panjang Bojonegoro membuahkan berbagai inspirasi untuk dipetik dan dipanen. Terutama nilai-nilai perjuangan yang diwariskan.
“Maka dari penyemayaman Api Abadi ini kita diajak untuk mengenang sejarah perjalanan daerah Kabupaten Bojonegoro sekaligus untuk menghormati jasa para pendahulu kita, serta mengambil inspirasi dari nilai-nilai perjuangan yang diwariskan kepada kita,” ucapnya.
Sebagai generasi penerus, masyarakat bukan hanya mewarisi perjuangan. Namun, juga wajib melanjutkan dan meningkatkan api semangat perjuangan. Tentunya dengan rasa penuh tanggung jawab. Khususnya dala peran dan tugas masing-masing dengan landasan rasa kebersamaan.
“Sebagai generasi penerus tentu kita bukan hanya menjaga warisan sejarah, tetapi juga mengisi pembangunan ini dengan kerja nyata, integritas, inovasi dan semangat gotong royong,” ujarnya.
Ritus kirab Api Abadi juga merupakan bentuk penghargaan budaya dan penghormatan sejarah. Api Abadi diambil dari situs sejarah Kayangan Api, situs leluhur asli dari Bojonegoro. Semiotika Api Abadi menuturkan semangat yang terus menyala, tanpa mengenal padam. Sebuah nyala di dada yang bermuatan penuh optimisme.
“Api Abadi ini sebagai pengingat bahwa semangat membangun Bojonegoro harus terus menyala dengan persatuan, kebersamaan dan kerja keras seluruh masyarakat. Kita optimis dapat mewujudkan Kabupaten Bojonegoro ini yang semakin maju, produktif, sejahtera dan membanggakan,” tuturnya.
Pemotongan tumpeng menjadi penghujung acara. Wahono melakukan pemotongan tumpeng sebagai bentuk syukur dalam perayaan HJB 349. Dengan demikian, segala doa dan harapan yang tertuang dalam peringatan HJB 349 dapat terwujud. Nantinya, akan menjadi berkah bagi seluruh tumpah darah masyarakat Kabupaten Bojonegoro.
Acara Penyemayaman Api Abadi dan Doa Bersama Lintas Agama dihadiri seluruh pejabat Kabupaten Bojonegoro. Mulai dari Forkopimda, OPD, pejabat teras, perwakilan partai politik, dan organisasi masyarakat di Bojonegoro. Tidak ketinggalan pula para pejabat dari 430 desa dan kelurahan yang mengikuti secara daring dari daerah masing-masing.








