Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Mendiskusikan Perpisahan

Chusnul Chotimmah by Chusnul Chotimmah
19/07/2019
in Cecurhatan
Mendiskusikan Perpisahan

“Tired of feeling so bad, the world that i knew just fell through and left me outside…” aku terus mendengarkan lagu itu berulang-ulang, seperti tak ada bosannya.

Seharian ini duduk saja di kursi sembari menyandarkan punggungku di pelukan kursi nyaman ini, menengadahkan kepala sembari meresapi musik Weyes Blood yang baru kukenal satu bulan lalu.

Tiba-tiba laguku terhenti. Seseorang menelpon ke nomorku. Dengan segera kulihat. Ya, reaksi seperti ini karena aku sedang menunggu panggilan dari seseorang. Ya, dia.

“Halo.”

“Aku sudah sampai.”

“Iya. Di mana sekarang?”

“Nggak di mana-mana.” Jawabnya singkat. Dingin dan sekadarnya. Secukupnya.

“Maksudku kamu posisi di mana ini?”

“Di Kos.” jawaban-jawaban yang menyingkat. Pesan yang terlalu lama dibalas. Respon yang selalu dingin. Setelah kupikir-pikir, sudah setengah tahun ini sikapnya selalu begitu padaku.

Mengapa baru sadar sekarang? Kurasa hampir semua orang berusaha membohongi dirinya sendiri agar merasa lebih baik, atau setidaknya merasa semua masih baik-baik saja.

“Kamu mau main ke sini?” kutawarkan padanya untuk datang ke kosku, satu jam perjalanan dari tempat kosnya. Rasanya tidak terlalu jauh dulu. Entah sekarang.

“Enggak, lagi males.”

“Aku kangen.” Itu senjata yang kuucapkan untuk memaksakan pertemuan kami.

“Iya.”

“Iya itu maksudnya apa?”

“Iya kamu kangen. Aku dengar.”

“Gitu aja?”

“Apa lagi?”

Aku bahkan tidak bisa menjawab pertanyaannya. Apa lagi? Entah apa lagi yang kucari. Sepertinya memang betul bahwa kami tidak baik-baik saja. Dan ketidaksehatan ini harus segera diobati, aku tahu betul.

“Aku ke sana ya?” ucapku menawarkan.

“Terserah kamu.”

Aku tertawa mendapati semua prediksiku akan jawaban yang dia berikan benar. Benar-benar aku harus bangga akan kemampuan prediksiku…ada lubang-lubang kecil yang digerogoti sunyi.

Nekat, aku mengambil motor dan memacu ke tempatnya berada. Di tengah jalan, hujan turun. Aku berhenti di pom bensin. Berpikir akan melanjutkan perjalanan ke tempatnya atau kembali pulang.

Jarak yang ditempuh akan sama karena aku berada di tengah-tengah. Aku pun akan tetap kebasahan karena lupa tak membawa mantel. Kubulatkan tekadku melanjutkan perjalanan begitu hujan mereda.

Aku sampai di cafe yang berjarak tak jauh dari kosnya. Kupesan kopi hitam kesukaannya dan milo hangat untukku. Sembari mengeringkan rambutku dengan jaketku, kutunggu dia di kursi paling dalam.

Di luar terlalu dingin, dan udara malam membuatnya kian buruk.
Dia datang membawakanku handuk kecil…dan juga kopi.

“Aku sudah pesan kopi buatmu.”

“Ini dengan jahe “

“Terus siapa yang minum kopi ini?”

“Biar. Nanti kuminum.” Jawabnya sambil duduk menyandarkan punggung di kursi dan membuka HPnya. Kami duduk berhadapan, tapi jarak seperti terbentang jauh.

Dia berdiri, merogoh sesuatu di dalam saku celananya. Korek api. Lantas menyalakan sebatang rokok dan kembali duduk. Aku melihat nyala api itu, tapi rautnya masih dingin. Aku tidak tahu lagi cara menyalakan api untuk mengusir dingin. Kukira segala cara sudah kucoba.

How it feels so good to feel how I wanna feel
Ever since I saw those lion eyes
Those tired feelings hide behind your cigarette nights

“Do we need to talk about something?” akhirnya kalimat itu keluar setelah sekian lama jeda hening yang terjadi.
Dia duduk tegak menghadapku. Meminum kopi jahenya, lalu hendak beralih ke kopi hitam yang terlanjur kupesan.

“Jangan diminum.”

“Kenapa?”

“Hanya jangan.”

“Alasannya?”

“Kamu nggak perlu memaksakan sesuatu. Why don’t you say something more important than just calm me down by drinking that fucking coffee you don’t even want to order.” Suaraku bergetar.

“Do you love me still?”

Dia melihatku dengan tatapannya yang dingin. “Kenapa lagi? Aku capek hari ini.”

“Please… Just be truth. Let’s cut this shit’s out if it’s better for us. Aku nggak pengen kamu jadi benci sama aku karena ketidaknyamanan ini.”

Dia tidak menjawabku. Hanya menundukkan kepala sejajar dengan lututnya. Aku sejujurnya ingin menangis saat ini, di sini. Ada gumpalan yang begitu menyesakkan dan tak tertahankan, tapi tidak kulakukan. Tidak dengan semua hal yang akan menggoyahkannya untuk berkata ‘ya’.

Aku terus diam menunggu reaksinya. Menunggu dia mengeluarkan satu kata itu dan semua ini berakhir.

Do you need me the way I need you?
Let’s be true for a change
Do you need someone?
Do you need my love?
Need my love

“Do you love me still?” sekali lagi kutanyakan padanya.

“I dont know. Aku merasa semuanya hambar. Bukan. Bukan salahmu. Beberapa bulan ini aku coba mencari hal-hal yang dulu bikin kita saling jatuh cinta, aku coba lagi, tapi nggak berhasil. Aku nggak tahu harus gimana, sementara kamu masih terus tertawa, cemburu, rindu, merajuk. Aku seperti mati.”

“Terima kasih sudah jujur. Ini jauh lebih baik. Sangat jauh lebih baik.”

Kami mengakhiri malam dengan pelukan perpisahan. Terakhir kali kudengar degup jantungnya dan jari-jari hangatnya menyisir rambut panjangku.

Kami menangis, tapi sama sekali tidak menyesali perpisahan ini. Apa yang lebih menyakitkan dari perpisahan? Matinya cinta karena kebencian yang merambat lebat. I set you free, My love. The man I’ve always love.

Tags: Fiksi Jelang Akhir Pekan
Previous Post

Persibo Bojonegoro Siap Tempur Lawan Arema Malang United

Next Post

Suporter Siap Banjiri Stadion demi Dukung Langsung Persibo Bojonegoro

BERITA MENARIK LAINNYA

Mencuri Melalui Cahaya, Riwayat Maling Cluring: Hikmah Humor dan Pencurian (17)
Cecurhatan

Mencuri Melalui Cahaya, Riwayat Maling Cluring: Hikmah Humor dan Pencurian (17)

26/05/2026
Antiklin Dandangilo: Lipatan Tektonik dan Jejak Rembesan Minyak Dangkal
Cecurhatan

Antiklin Dandangilo: Lipatan Tektonik dan Jejak Rembesan Minyak Dangkal

25/05/2026
Saat Bumi Terluka, Tubuh Ikut Merasakannya
Cecurhatan

Saat Bumi Terluka, Tubuh Ikut Merasakannya

24/05/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Mencuri Melalui Cahaya, Riwayat Maling Cluring: Hikmah Humor dan Pencurian (17)

Mencuri Melalui Cahaya, Riwayat Maling Cluring: Hikmah Humor dan Pencurian (17)

26/05/2026
Antiklin Dandangilo: Lipatan Tektonik dan Jejak Rembesan Minyak Dangkal

Antiklin Dandangilo: Lipatan Tektonik dan Jejak Rembesan Minyak Dangkal

25/05/2026
Saat Bumi Terluka, Tubuh Ikut Merasakannya

Saat Bumi Terluka, Tubuh Ikut Merasakannya

24/05/2026
Bojonegoro History Gelar Diskusi Ekspedisi Naga Api sebagai Upaya Penguatan Literasi Geopark Bojonegoro

Bojonegoro History Gelar Diskusi Ekspedisi Naga Api sebagai Upaya Penguatan Literasi Geopark Bojonegoro

24/05/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: