Ficus, yang dalam bahasa sehari-hari kita kenal sebagai pohon beringin, ara, atau karet kebo, bukan sekadar tanaman hias kota atau pelindung tepi jalan. Dalam banyak tradisi Asia Tenggara, khususnya Jawa dan Bali, ficus adalah lambang kosmos itu sendiri.
Akarnya yang menjalar ke dalam tanah bagaikan tangan yang memeluk bumi, batangnya kokoh menyangga langit, dan cabangnya yang melebar menjadi payung bagi segala makhluk. Filosofi ficus mengajarkan keterkaitan yang tak terpisahkan: manusia bukan penguasa alam, melainkan bagian kecil dari jaringan kehidupan yang saling menopang.
Ketika ficus tumbuh di atas candi atau merangkul batu karang di tepi laut, ia bukan ia yang merusak, melainkan ia yang menyesuaikan diri, merangkul, dan akhirnya menjadi satu dengan lingkungan. Inilah esensi “manunggaling kawula gusti” versi botani—penyatuan antara ciptaan dan Pencipta melalui harmoni dengan alam.
Namun, ketika manusia melupakan filosofi itu, ficus yang dulu diagungkan justru menjadi saksi bisu kehancuran. Di lereng Merapi, ribuan pohon beringin tua yang berusia ratusan tahun terkubur lahar dingin pada erupsi 2010 dan kembali terancam pada 2024–2025.
Akar-akarnya yang dulu menahan tanah kini tak lagi kuat karena hutan di bagian hulu telah gundul akibat tambang pasir ilegal dan perkebunan monokultur. Tanah yang longsor bukan sekadar bencana geologis, melainkan jeritan bumi yang telah kehilangan pelukannya.
Ficus mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada dominasi, melainkan pada kemampuan merangkul dan menjaga keseimbangan. Ketika kita menebang habis hutan untuk sawit atau vila, kita sebenarnya sedang mencabut akar-akar yang selama ini melindungi kita sendiri dari banjir bandang dan longsor.
Di Sumatra dan Kalimantan, ficus raksasa yang dulu menjadi rumah bagi orangutan dan harimau kini tumbang bersama hutan hujan tropis yang dibakar untuk membuka lahan. Kebakaran hutan 2015 dan kembali masif pada 2024 menciptakan kabut asap yang menyelimuti langit hingga ke Malaysia dan Singapura.
Di tengah abu-abu itu, ficus yang tersisa berdiri sendirian seperti monumen peringatan. Daunnya yang dulu hijau kini menguning sebelum waktunya, bukan karena musim, tetapi karena paru-paru bumi telah dibakar.
Filosofi ficus kembali berbisik: jika kamu membakar rumah saudaramu, asapnya akan kembali ke rumahmu sendiri. Bencana asap bukan hukuman langit, melainkan konsekuensi logis dari keserakahan yang melupakan keterkaitan.
Di tepian Sungai Citarum, Ciliwung, hingga Bengawan Solo, ficus yang dulu tumbuh subur di bantaran kini tenggelam dalam lautan sampah plastik dan lumpur. Banjir Jakarta 2020, Semarang 2023, dan banjir bandang Batu 2021 memiliki pola yang sama: hutan mangrove dan riparian buffer ditebang, ficus dan pohon-pohon besar lainnya hilang, sehingga air hujan tak lagi terserap melainkan langsung mengalir deras membawa serta apa pun yang ada di depannya—rumah, mobil, dan mimpi.
Ficus mengajarkan bahwa kehidupan sejati tumbuh dalam kesabaran dan kerendahan hati, menancapkan akar dalam-dalam sebelum menjulang ke langit. Ketika kita membangun mal dan perumahan mewah di daerah resapan air, kita sedang menolak filosofi itu, dan memilih jalan pintas yang akhirnya menenggelamkan kita sendiri.
Gempa dan tsunami Palu-Donggala 2018 serta likuifaksi yang mengerikan itu juga berbicara dalam bahasa ficus. Tanah yang mencair seperti lumpur hidup terjadi karena lapisan vegetasi pelindung telah hilang bertahun-tahun sebelumnya.
Ficus dan pohon-pohon besar lainnya yang dulu menahan butiran tanah dengan akarnya tak lagi ada. Yang tersisa hanya beton dan aspal yang tak mampu menahan getaran bumi. Di Aceh pasca-tsunami 2004, justru daerah yang masih memiliki hutan mangrove dan pohon ficus di pesisir mengalami kerusakan jauh lebih ringan. Alam ternyata telah menyediakan benteng hidup, tetapi kita memilih tembok beton yang rapuh.
Maka amanat ficus di tengah rentetan bencana Indonesia sangatlah jelas: kembalilah merangkul, bukan menaklukkan. Tanam kembali ficus dan segala pohon asli di lereng gunung, di bantaran sungai, di pesisir pantai, dan di setiap sudut kota yang kini gersang.
Biarkan akarnya menjalar pelan-pelan, menembus tanah, menyatukan kembali yang tercerai-berai. Jangan lagi menganggap alam sebagai musuh atau sekadar sumber daya, melainkan sebagai keluarga besar yang saling melindungi. Ketika kita kembali menghormati filosofi ficus—hidup dengan merendah, melindungi dengan merangkul, dan bertahan dengan kesabaran—maka bencana yang selama ini kita anggap “takdir” perlahan-lahan akan berubah menjadi cerita lama.
Sebab pada hakikatnya, menjaga alam bukanlah kebaikan tambahan, melainkan syarat mutlak agar kita sendiri tetap bisa bernapas, berteduh, dan bermakna di bumi yang kita pinjam dari anak cucu.








