Algoritma manusia tidak sama dengan algoritma Tuhan. Lembaran hitam Amon ditutup saat itu juga. Dosa-dosa yang setinggi gunung dihapus, diganti lembaran putih bersih karena ketulusan hati.
Matahari, sore itu menggantung rendah di ufuk barat, memantulkan warna jingga kemerahan di atas dinding-dinding batu kelabu, dinding sebuah benteng perbatasan yang sunyi. Benteng-benteng Kota Kuno (City Citadel) Yerikho—Batas luar kota-kota di kawasan Palestina. Sedang angin gurun pun berdesau merdu, pelan, menerbangkan sejumput debu kering, menciptakan suasana magis yang hening.
Di sudut gerbang, tampak seorang pria duduk menyendiri. Namanya Amon. Orang-orang mengenalnya sebagai seorang penyamun jalanan dari kaum Bani Israil. Lelaki yang tangannya telah terbiasa menggenggam belati, merampas kepingan dinar, dan membuat jalanan berdarah. Tatapannya kosong, menatap hamparan pasir di depannya.
Hingga kemudian, kira-kira seratus langkah—sekitar 70-80 meter—dari gerbang benteng, dua manusia berjalan kaki melintasi gerbang perbatasan.
Sosok di depan berjalan dengan keanggunan yang tiada tara. Langkah kakinya ringan, wajahnya memancarkan keteduhan yang sanggup meruntuhkan kemarahan apa pun di dunia. Mengenakan pakaian sederhana, semacam jubah putih, namun tampak elegan.
Dialah Isa bin Maryam, Sang Ruhullah, Sang Kalimatullah. Di sampingnya, berjalan seorang murid setianya, Syam’un ash-Shafa, dikenal sebagai Simon Petrus (Peter). Seorang dari kaum Hawariyyin (murid Nabi Isa), nelayan dari Galilea. Seorang yang selalu mendampingi Sang Ruhullah dengan raut penuh takzim.
Ketika jarak mereka semakin dekat—tersisa sekitar tiga puluh langkah—suasana di sekitar benteng mendadak terasa hening. Suara desau angin gurun seolah meredup di telinga sang pencuri. Pria beringas itu terpaku saat matanya menangkap keteduhan wajah Nabi Isa alaihissalam. Daya Agung Mukjizat Sang Ruhullah menembus kedalaman hati sanubari Amon.
Saat kedua orang itu lewat, seolah ada dinding kaca yang pecah di dalam dada Amon. Waktu rasanya melambat. Hanya dengan sekali menatap wajah teduh itu, sebuah ketukan halus mampir di hatinya. Ketukan yang dikirim langsung oleh Penguasa Langit dan Bumi. Sesuatu yang beku di dalam dadanya mendadak mencair. Hatinya bergetar hebat. Pun Hidayah-Nya mengahampiri.
Amon mulai berdialog dengan dirinya sendiri. Sebuah perdebatan batin yang sunyi, namun teramat bising di dalam kepala.
“Dia adalah Isa bin Maryam… dan yang bersamanya adalah seorang Hawariy yang suci,” bisik Amon, gemetar. “Lantas siapakah kau Amon, wahai jiwa yang celaka?”
Air mata yang tak pernah tumpah selama bertahun-tahun, kini mengambang di sudut mata Amon. Ia menjawab pertanyaannya sendiri dengan getir, “Kau hanyalah seekor serigala jalanan. Pencuri sialan yang menghabiskan umur untuk merampas, menyakiti, dan mengalirkan darah manusia-manusia tak bersalah. Untuk apa kau masih bernapas?”
Penyesalan itu datang seperti air bah. Menghantam egonya hingga berkeping-keping. Dengan tubuh yang gemetar karena rindu akan ampunan, ia bangkit dari duduknya. Ia mulai melangkah, mencoba mendekati jubah putih Nabi Isa dan Peter.
Namun, baru beberapa langkah berjalan, langkah kakinya mendadak tertahan oleh rasa tahu diri yang teramat besar. Amon kembali berbisik pada dirinya sendiri, “Bodoh sekali kau Amon. Apakah kau pantas berjalan sejajar dengan manusia-manusia suci itu? Tidak. Kau tidak sama dengan mereka. Berjalanlah jauh di belakang. Berjalanlah dengan kepala tertunduk, seperti jalannya para pendosa yang memikul segunung kehinaan.”
Maka, jadilah ia berjalan di belakang mereka. Mengikuti bayang-bayang kedua orang shaleh itu dengan jarak yang terjaga—sekitar tiga depa, sembari meratapi setiap jengkal dosa masa lalunya.
Di depan, Peter menyadari ada langkah kaki lain di belakang mereka. Ia menoleh. Begitu pandangannya menangkap sosok lelaki lusuh itu, sang Hawariy langsung mengenalnya. Itu adalah Amon si penyamun berdarah dingin yang ditakuti di perbatasan Palestina.
Seketika, sebuah senyum sinis—mungkin terlalu tipis untuk dilihat manusia, namun teramat jelas bagi Tuhan—muncul di dalam benak Peter. Ia mengatakan dalam batinnya, “Lihatlah Amon orang jahat dan celaka itu. Berani-beraninya ia berjalan mengekor di belakang kita dengan tubuh penuh noda.” Sebaliknya Amon tidak berani menengadah ke langit, sambil memukul diri dan ia berbisik, “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.”
Detik itu juga, sebuah ketetapan besar diputuskan oleh Dzat Yang Memiliki sifat Rahman Rahim.
Manusia hanya bisa melihat bungkus luar, tetapi Tuhan melihat langsung ke dalam rahasia hati, inti sanubari. Allah melihat jiwa Amon yang remuk redam, digenangi air mata penyesalan dan tobat yang tulus. Sementara di saat yang sama, Allah melihat hati Peter yang tiba-tiba ditumbuhi rumput liar bernama ujub—merasa lebih mulia, merasa lebih suci, dan merendahkan jiwa lain yang sedang merangkak mencari jalan pulang.
Wahyu kemudian turun kepada Nabi Isa alaihissalam. Sebuah pesan langit yang menggetarkan: Perintahkan kepada muridmu dan pencuri di belakangnya untuk memulai seluruh amal mereka dari angka nol. Sejurus kemudian Nabi Isa berkata kepada Amon sembari menelunjukkan tangan kanannya, “Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah, sebaliknya engkau Wahai Peter: tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan oleh-Nya.”
Algoritma manusia tidak sama dengan algoritma Tuhan. Lembaran hitam Amon ditutup saat itu juga. Dosa-dosa yang setinggi gunung dihapus, diganti lembaran putih bersih karena ketulusan hati. Sedangkan bagi Peter, seluruh pahala shalatnya, puasanya, dan kesetiaannya menemani sang Nabi, luruh berjatuhan menjadi abu yang terbang ditiup angin gurun, hanya karena satu detik kesombongan. Sebab di hadapan Tuhan, sepotong hati yang hancur karena penyesalan jauh lebih dicintai daripada seribu rakaat amalan yang dipenuhi kesombongan.
Berkata Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari dalam Al-Hikam: Sebuah Maksiat yang berbuah kerendahan diri dan kefakiran (di hadapan Allah) lebih baik daripada amal ibadah yang melahirkan bibit kesombongan.
Disadur dari kitab Hilyatul Auliya wa Thabaqat al-Ashfiya karya Abu Nu’aim al-Ashfihani.








