Menatap siluet Masjid Süleymaniye: kisah lahir dan berdirinya salah satu karya puncak Mimar Sinan (1490 -1588 M) di Istanbul Turki.
TAHUN 1588. Büyükçekmece, Turkiye.
Hari itu, seorang lelaki berusia nyaris seratus tahun duduk di tepi jembatan panjang yang membelah laguna. Rambutnya telah memutih sempurna. Tangannya, yang selama tujuh dasawarsa tak pernah lepas dari jangka dan mistar, kini hanya mampu menggenggam sebatang tongkat kayu zaitun.
Di hadapannya, matahari senja perlahan tenggelam di ufuk barat, mencelupkan langit dalam warna jingga dan lembayung. Lelaki itu tidak menatap matahari. Ia menatap ke kejauhan, ke arah Istanbul: ke arah empat menara yang menjulang di atas Bukit Ketiga. Ke arah kubah raksasa yang memantulkan cahaya senja seperti cermin. “Süleymaniye Camii,” gumamnya lirih. Seperti doa.
Lima puluh satu tahun telah berlalu sejak ia meletakkan batu pertama. Tiga sultan telah silih berganti. Para menteri yang dulu menjadi sahabat kini telah menjadi debu. Malah Sultan Süleyman Kanuni, penguasa agung yang memerintah separuh dunia, telah 22 tahun terbaring di türbe (makam) di belakang masjid itu. Namun masjid itu masih tegak. Kubahnya masih menyentuh langit. Dan dalam hati lelaki tua ini, hanya satu kepuasan yang tersisa, “Aku telah meninggalkan sesuatu yang tak akan dapat dihancurkan waktu.”

Lima bulan kemudian, pada 17 Juli 1588, Koca Mimâr Sinân Ağa-Sinan sang Arsitek Agung-mengembuskan napas terakhir di Istanbul. Ia dimakamkan di depan karyanya sendiri. Di sisi utara Süleymaniye Camii, dalam sebuah türbe (makam) sederhana yang ia rancang sendiri. Tepat di seberang jalan dari makam sultan yang ia layani selama 28 tahun. Di batu nisannya, tidak tertulis daftar 477 karya yang ia tinggalkan. Tidak tertulis pujian dari tiga sultan. Tidak tertulis perbandingan dengan Michelangelo yang kerap dilontarkan para sejarawan kemudian. Hanya satu kalimat pendek, yang ia pilih sendiri, “Ya Rabb, anugerahkanlah kepadaku kesempatan meninggalkan jejak di muka bumi ini, agar namaku dikenang selama-lainnya.”
17 Tahun Keliling Dunia
Allah mengabulkan doanya. Lebih dari yang ia minta. Siapakah sejatinya Koca Mimâr Sinân Ağa? Untuk memahami Süleymaniye Camii, atau Masjid Süleymaniye, kita harus memahami sosok yang membangunnya.
Tahun 1490, Di desa Ağırnas, Kayseri, di tengah padang rumput Anatolia yang luas, seorang anak gembala bernama Joseph menghabiskan hari-harinya dengan menggiring domba dan memahat batu-batu kecil dengan pisau sederhana. Ia tidak tahu, batu-batu itu adalah bahasa pertamanya: bahasa yang kelak akan ia gunakan untuk berbicara dengan Tuhan.
Ketika ia berusia 21 atau 22 tahun, takdir memanggil dengan cara yang pahit: devşirme. Sistem “pengumpulan anak-anak” itulah yang menjadi tulang punggung birokrasi Kesultanan Turki Usmani. Anak-anak Kristen diambil dari keluarga mereka, dipotong dari akar, dan ditanam di tanah baru: Islam, bahasa Turki, dan kesetiaan mutlak kepada sultan. Joseph dari Ağırnas menjadi Sinan putra Abdulmennan.
Ia mungkin menangis ketika meninggalkan ibunya. Mungkin juga tidak. Sejarah tak pernah merekam air mata para devşirme. Yang direkam sejarah adalah ini: Sinán menolak menjadi sekadar prajurit biasa. Saat para pemuda lain memilih menjadi pencatat atau bendahara—posisi yang lebih nyaman—Sinan memilih masuk ke dapur istana.
Bukan untuk menjadi juru masak. Namun, untuk belajar pertukangan kayu. Ia ingin menjadi arsitek. “Aku memilih menjadi tukang kayu,” tulisnya kemudian dalam otobiografinya, “karena aku ingin membangun sesuatu yang abadi. Bukan sekadar mencatat sesuatu yang sementara.”
Sejarah mencatat 17 tahun berikutnya sebagai periode yang paling menentukan dalam hidup Sinan. Ia ikut dalam semua ekspedisi militer Turki Usmani: 1514: Ekspedisi Çaldıran bersama Yavuz Sultan Selim melawan Syah Ismail dari Persia; 1517: Penaklukan Mesir, menyaksikan runtuhnya Kesultanan Mamluk; 1521: Penaklukan Belgrade bersama Sultan Süleyman Kanuni; 1522: Pengepungan Rhodes, pulau terakhir Para Ksatria Hospitaller; 1526: Pertempuran Mohács, yang menghancurkan Kerajaan Hongaria; 1532: Ekspedisi Alman ke jantung Eropa; 1535: Ekspedisi Irak, menginjakkan kaki di Baghdad dan melihat reruntuhan peradaban Mesopotamia; 1537: Ekspedisi Korfu dan Italia Selatan; dan 1538: Ekspedisi Karaboğdan (Moldova).
Apa yang dilihat Sinan di semua tempat itu?
Di Mesir, ia mempelajari geometri piramida. Di Rhodes, ia mempelajari benteng-benteng Ksatria Salib. Di Baghdad, ia melihat sisa-sisa kejayaan Dinasti Abbasiyah. Di Hongaria, ia melihat arsitektur Gotik. Di Italia, ia mencuri pandang-mungkin dengan sedikit rasa iri-pada kubah-kubah Renaissance yang mulai bermunculan.
Namun, momen paling menentukan terjadi di Danau Van, timur Anatolia, 1533. Saat itu, pasukan Turki Usmani kesulitan menyeberangi danau. Kapal-kapal yang diperlukan tidak ada. Sinan, yang saat itu menjabat sebagai komandan pasukan zeni, mengambil keputusan nekat: ia membangun tiga kapal perang dalam 13 hari. Dari nol. Dengan kayu-kayu yang ditebang di hutan sekitar. Ketiga kapal itu mengarungi Danau Van, membawa pasukan dan meriam, dan memenangkan pertempuran.
Sejak hari itu, namanya tidak lagi sekadar “Sinan si Tukang kayu”. Ia menjadi “Sinan yang Bisa Membuat Apa pun dari Ketiadaan”.
Menjadi Kepala Arsitek Istana
Pada tahun 1538, dalam Ekspedisi Karaboğdan. Pasukan Turki Usmani terhenti di tepi Sungai Prut. Jembatan yang dibangun para insinyur istana ambruk berkali-kali. Waktu terus berjalan dan musuh kian dekat. Perdana Menteri Lütfi Pasha, yang kemudian menjadi menantu sultan, mengambil keputusan berani: ia menunjuk Sinan, seorang perwira zeni berusia 48 tahun, untuk menyelesaikan masalah ini. Sinan membangun jembatan dalam 13 hari. Kokoh. Indah. Fungsional.
Ketika Sultan Süleyman Kanuni menyeberangi jembatan itu bersama seluruh pasukannya, ia berhenti di tengah, menatap struktur kayu yang membentang di atas sungai, lalu menoleh ke arah Lütfi Pasha, “Siapa yang membangun ini?”
“Seorang perwira zeni, Paduka. Namanya Sinan.”
Sultan Süleyman Kanuni pun memanggil Sinan. Terjadi dialog singkat yang tak tercatat dalam sejarah. Namun, akibatnya kita tahu: Sinan diangkat sebagai Hassa Başmimarı: Kepala Arsitek Istana. Jabatan yang akan dipegangnya selama 49 tahun, melayani tiga sultan. Ia sudah berusia 49 tahun saat itu. Seusia ketika kebanyakan orang mulai memikirkan pension, Sinan justru baru memulai babak terbesar dalam hidupnya.
Dua tahun kemudian, Sultan Süleyman Kanuni memanggil Sinan ke istana. “Sinan,” kata sang sultan. “Aku ingin membangun masjid. Bukan sekadar masjid. Naamun, masjid yang akan mengalahkan segalanya. Yaitu, masjid yang akan membuat orang-orang berkata: di sinilah keagungan Islam. Di sinilah kejayaan Turki Usmani.”

Sinan mengangguk. Namun, dalam hatinya ia tahu: ini bukan sekadar tugas. Ini adalah pertaruhan, karena di Istanbul sudah berdiri Hagia Sophia: mahakarya Kaisar Justinianus, gereja yang dikonversi menjadi masjid, kubah yang telah menantang arsitektur selama seribu tahun.
Sinan memilih lokasi di Bukit Ketiga Istanbul, di atas reruntuhan Istana Lama (Eski Saray) yang harus dibongkar. Dari sini, pandangan terbentang ke Tanduk Emas, ke Bosphorus, ke seluruh penjuru kota. Setiap kapal yang masuk ke pelabuhan akan melihat masjid ini pertama kali. Setiap duta besar yang datang ke Istanbul akan tercengang oleh siluetnya.
Peletakan batu pertama dilakukan pada 13 Juni 1550. Namun sebelum pembangunan dimulai, Sinan dan sang sultan berdiskusi panjang tentang satu hal: menara. Empat menara. Bukan dua. Bukan tiga. Empat. Dan di keempat minaret itu ada sepuluh serambi (şerefe).
“Mengapa empat? Mengapa sepuluh” tanya para menteri.
“Empat minaret melambangkan Sultan sebagai penguasa keempat setelah penaklukan Istanbul. Mehmed II (Fatih), Bayezid II, Selim I, dan kini Kanuni. Dan sepuluh serambi melambangkan Sultan sebagai sultan kesepuluh Turki Usmani,” jawab Sinan.
Para menteri tercengang. Ini bukan sekadar menara. Ini adalah pernyataan politik yang terukir di langit. Dua minaret di sisi kiri lebih pendek (56 meter). Dua di sisi kanan lebih panjang (76 meter). Perbedaan ini disengaja: untuk menciptakan ilusi perspektif, agar dari kejauhan semua tampak seimbang.
Akustik yang Nyaris Sempurna
Pembangunan Süleymaniye bukan proyek kecil. Lebih dari 3.500 pekerja terlibat setiap hari. Tidak hanya dari Turki. Namun, juga dari berbagai penjuru imperium: tukang batu dari Armenia, tukang kayu dari Bosnia, pemahat marmer dari Italia, kaligrafer dari Persia. Bahan-bahan didatangkan dari berbagai penjuru dunia.
Sinan, seperti konduktor orkestra raksasa, mengendalikan semuanya. Namun satu hal yang tak bisa ia kendalikan: waktu. Tujuh tahun berlalu. 1550, 1551, 1552, 1553, 1554, 1555, dan 1556. Masjid itu belum juga selesai. Dan di istana, bisik-bisik mulai terdengar, “Mimar Sinan sudah gila,”; “Ia tak mampu menyelesaikan pekerjaannya.”; “Kubahnya akan runtuh, kalian lihat saja.”
Kisah paling dramatis dalam pembangunan Masjid Süleymaniye terjadi pada 1556, ketika pembangunan hampir rampung. Seperti dicatat dalam Tezkiretü’l-Bünyân, otobiografi Sinan yang ditulis oleh sahabatnya, Sai Çelebi, suatu malam Sultan Süleyman masuk ke area konstruksi dan mendapati Sinan sedang duduk di atas perancah, di bawah kubah utama, dengan nargile (alias syisya di dunia Arab) di tangannya.
“Sinan! Apa yang kau lakukan?” bentak sang sultan. “Di luar sana para menteri bilang kau sudah gila. Ternyata, memang demikian. Ini buktinya: kau duduk santai di atas perancah, menghisap nargile, sementara pekerjaanmu tak kunjung selesai!”
Sinan tidak panik. Ia berdiri, memberi hormat, lalu ia menjawab dengan tenang, “Paduka, di dalam nargile ini tidak ada tembakau. Yang ada hanyalah air. Dan saya tidak sedang bersantai. Saya sedang mendengarkan.”
“Mendengarkan apa?”
“Kubah ini, Paduka. Saya harus memastikan bahwa ia bernapas dengan benar.”
Sinan kemudian menjelaskan sesuatu yang belum pernah dipikirkan siapa pun kala itu: akustik. Ia menjelaskan bahwa dalam masjid sebesar ini, dengan ribuan jamaah, suara Imam harus sampai ke seluruh sudut. Tanpa pengeras suara. Tanpa mikrofon. Hanya dengan kekuatan desain. Dengan menempatkan 64 kendi keramik berongga di berbagai titik, dengan mengosongkan ruang-ruang tertentu di bawah lantai, dengan menghitung sudut pantulan suara dari dinding ke dinding, ia menciptakan akustik yang nyaris sempurna. Suara dari mimbar, dari mihrab, dari setiap sudut: semuanya akan terdengar bening di seluruh ruangan.
Sultan terdiam. Lalu ia bertanya, setengah berbisik, “Berapa lama lagi masjid ini rampung?”
“Dua bulan, Paduka. Beri saya waktu dua bulan.”
Dua bulan kemudian, 15 Oktober 1557, Masjid Süleymaniye diresmikan untuk shalat Jumat pertama kalinya. Ketika kubah utama selesai ditutup dan ayat “Innallâha yumsikus-samâwâti wal-ardha an tazulâ (Sungguh, Allah menahan langit dan bumi agar tidak lenyap) terukir indah di sekelilingnya, sang sultan menatap Sinan dengan mata berkaca-kaca dan berucap, “Datanglah kemari, wahai arsitekku. Engkau telah membangun mahakarya yang akan dikenang selama-lamanya.”
Sang sultan kemudian menyerahkan kunci masjid kepada Sinan: sebuah kehormatan yang tak pernah diberikan kepada arsitek mana pun sebelumnya.
Di Bawah Kubah yang Tak Pernah Tidur
Kini, di tahun 2026: seorang mahasiswa arsitektur duduk di halaman Masjid Süleymaniye, menatap kubah raksasa yang memutih di bawah matahari. Di pangkuannya, laptop terbuka dengan gambar-gambar 3D rancangan tugas akhir. Namun, pandangannya tidak tertuju ke layar. Ia menatap ke atas, ke jendela-jendela kubah, ke permainan cahaya yang terus berubah.
Di samping mahasiswa tersebut, seorang pemandu tua berbicara kepada sekelompok turis, “Sinan membangun ini 466 tahun lalu. Belum pernah sekalipun retak karena gempa. Belum pernah sekalipun bocor saat hujan. Ia menghitung segalanya: angin, air, panas, dingin, malah asap dari ribuan lampu minyak. Sinan berkata kepada murid-muridnya, ‘Kalian boleh membangun lebih tinggi dariku. Kalian boleh membangun lebih besar dariku. Namun, ingatlah: bangunan yang sesungguhnya bukanlah yang tahan terhadap gempa. Bangunan yang sesungguhnya adalah yang tahan terhadap waktu.’”
Mendengar penjelasan yang demikian mahasiswa itu tersenyum. Ia lantas menutup laptopnya, menyimpannya di tas, lalu berjalan perlahan memasuki ruang utama. Di bawah kubah setinggi 53 meter, ia berdiri diam. Cahaya masuk dari 32 jendela, menari-nari di lantai marmer. Suara azan Zuhur baru saja usai dan keheningan merayap masuk seperti kabut pagi. Ia membayangkan Sinan sedang berdiri di tempat yang sama, 466 tahun lalu, di hari pertama masjid ini diresmikan. Mungkin saat itu juga sama heningnya. Mungkin saat itu juga cahaya masuk dengan cara yang persis sama.
“Sinan,” bisiknya lirih. “Aku datang dari negeri yang jauh. Dari masa yang berbeda. Dari peradaban yang tak pernah kau bayangkan. Namun di sini, di bawah kubahmu, aku merasa bahwa jarak 466 tahun dan 9.000 kilometer tidak berarti apa-apa. Karena arsitektur sejati, seperti cinta sejati, berbicara dalam bahasa yang melampaui waktu.”







