Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Kolaboratif (KKNTK) Universitas Bojonegoro (Unigoro) Kelompok 5 tuntaskan program kerja unggulan berupa pemetaan potensi wisata desa dan kawasan rawan bencana longsor di Desa Soko, Temayang, Bojonegoro. Hasil pemetaan itu diharap jadi rujukan bagi pemerintah desa dalam mengembangkan potensi lokal sekaligus memperkuat upaya mitigasi bencana berbasis data.
Program diawali dengan serangkaian observasi lapangan, identifikasi lokasi, pengambilan titik koordinat menggunakan Quantum Geographic Information System (QGIS), serta pengumpulan data pada sejumlah titik yang memiliki potensi wisata maupun tingkat kerawanan longsor. Sebagian data diperoleh melalui survei lapangan, termasuk penelusuran kawasan gua yang menjadi salah satu potensi wisata Desa Soko.
Seluruh informasi kemudian diolah menjadi peta tematik yang dipasang di Kantor Desa Soko. Kehadiran peta tersebut diharapkan dapat menjadi media informasi sekaligus acuan dalam penyusunan kebijakan pembangunan desa yang lebih terarah.
Pemetaan potensi wisata dilakukan untuk mengidentifikasi lokasi-lokasi yang memiliki daya tarik dan peluang pengembangan sebagai destinasi wisata desa. Sementara itu, peta kawasan rawan longsor disusun sebagai langkah preventif agar masyarakat lebih memahami wilayah yang memiliki tingkat kerentanan tinggi, sehingga upaya mitigasi dapat dilakukan lebih dini dan risiko bencana dapat diminimalkan.
Keberhasilan program ini tidak lepas dari dukungan Pemerintah Desa Soko, perangkat desa, serta masyarakat yang terlibat sejak proses pengumpulan data hingga pemasangan peta. Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat mampu menghadirkan solusi yang bermanfaat bagi pembangunan desa.
Salah satu anggota Karang Taruna Desa Soko, Jeklin, menilai program tersebut memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Menurut dia, program ini sangat bermanfaat karena masyarakat sekarang memiliki informasi yang lebih jelas mengenai potensi wisata yang dimiliki Desa Soko sekaligus mengetahui wilayah yang perlu diwaspadai potensi longsor.
“Harapannya, peta ini dapat dimanfaatkan dengan baik untuk mendukung pembangunan desa dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap mitigasi bencana,” ujar Jeklin (26/7/2026).
Sementara itu, Koordinator Program Kerja Pemetaan Potensi Wisata Desa dan Pemetaan Kawasan Rawan Bencana Mitigasi Longsor, Firda, menjelaskan bahwa program tersebut dirancang untuk menghasilkan data yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh Pemerintah Desa Soko. Penyusunan peta dilakukan melalui observasi lapangan, pengambilan titik koordinat, hingga verifikasi data agar informasi yang disajikan sesuai dengan kondisi di lapangan.
Program kerja ini, menurut dia, dilaksanakan sebagai bentuk kontribusi mahasiswa KKNTK Universitas Bojonegoro kepada Desa Soko, Temayang. Ia berharap peta potensi wisata dapat menjadi referensi mengembangkan destinasi wisata desa.
“Sementara peta rawan bencana longsor, dapat menjadi edukasi dalam upaya mitigasi bencana,” kata Firda.
Melalui program ini, mahasiswa KKNTK Universitas Bojonegoro Kelompok 5 tidak hanya mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan, tetapi juga menghadirkan luaran yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat.
Peta potensi wisata diharapkan menjadi pijakan awal dalam mengembangkan destinasi lokal. Sedangkan peta kawasan rawan longsor menjadi instrumen penting untuk memperkuat kesiapsiagaan desa menghadapi potensi bencana longsor.
Ke depan, hasil pemetaan tersebut diharapkan terus diperbarui mengikuti dinamika kondisi lapangan. Dengan demikian, Desa Soko memiliki basis data spasial yang dapat mendukung perencanaan pembangunan, pengelolaan potensi wisata, serta pengurangan risiko bencana secara berkelanjutan.








