Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Peringkat Perguruan Tinggi Bojonegoro Berdasar Webometrics dan Kritik dari Mahasiswa yang Gemar Rebahan

Yogi Abdul Gofur by Yogi Abdul Gofur
21/03/2020
in Cecurhatan
Peringkat Perguruan Tinggi Bojonegoro Berdasar Webometrics dan Kritik dari Mahasiswa yang Gemar Rebahan

Banyak perguruan tinggi di Bojonegoro. Namun minim budaya diskusi. Saat di sejumlah kota diskusi banyak dibubarkan, di sini diskusi telah membubarkan dirinya sendiri. Sebuah sikap yang tawadhu sekali. 

Begini, Nabs. Apa yang terngiang dalam pikiran ketika mendengar kata mahasiswa? Apakah seorang intelektual? Penyambung lidah rakyat? Budak cinta alias bucin? Jomblo Dadakan? Atau Revolusioner seperti Che Guevara?

Menurut Bung Hatta, mahasiswa itu akal dan hati dari masyarakat. Mr.Crack atau Eyang Habibie dalam sebuah momentum acara Perhimpunan Pelajar Indonesia di (Aachen, Germany) pernah berkata: menjadi mahasiswa merupakan kebanggan dan tanggung jawab.

Okelah. Saban insan memiliki definisi sendiri tentang apa itu mahasiswa. Lantas bagaimana dengan kamu, Nabsky?

Sebelum membahas Perguruan Tinggi (PT), alangkah baiknya tahu tentang klasifikasi atau pengelompokan dari PT di Indonesia; Perguruan Tinggi Negeri, Universitas Terbuka, Perguruan Tinggi Swasta dan Perguruan Tinggi Kedinasan.

Perguran Tinggi juga banyak ragam dan varian penamaannya seperti Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Akademi, Politeknik, dan sebagainya.
Tentu ada klasifikasi lain tentang PT, salah satunya berdasarkan rangking atau pemeringkatan.

Pemeringkatan juga ada turunannya. Namun dalam tulisan ini, saya ingin menyampaikan peringkat Perguran Tinggi Bojonegoro berdasar salah satu pemeringkatan bergengsi dalam segi nasional maupun global, yaitu Webometrics.

Baik, Nabs. Berikut peringkat kampus se-Bojonegoro berdasar Webometrics:

1. Universitas Terbuka
Universitas Terbuka (UT) juga ada di Bojonegoro. Memiliki dua kampus yaitu kampus Lisman dan Mangga. UT berada di peringkat 4755 dunia dan 61 nasional.

2. Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Giri Bojonegoro. STAI Sunan Giri alias IAI Sunan Giri berada di peringkat 12708 dunia dan 358 nasional.

3. Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri. Unugiri Bojonegoro berada di peringkat 19592 dunia dan 716 Nasional.

4. Universitas Bojonegoro atau Unigoro  atau Yellow Campus berada di peringkat 20348 dunia dan 778 nasional.

5. Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bojonegoro
Berada di peringkat 22387 dunia dan 914 nasional.

6. STIKes ICSada Bojonegoro
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Insan Cendekia Husada atau biasa disebut Kampus Ungu berada di peringkat 24183 dunia dan 1066 nasional.

7. Akademi Kesehatan Rajekwesi Bojonegoro berada di peringkat 24208 dunia dan 1070 nasional.

8. Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) At-Tanwir Talun Sumberjo Bojonegoro duduki peringkat 24709 dunia dan 1140 nasional.

9. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Bojonegoro atau STIKes Maboro, menduduki peringkat 25399 dunia dan 1232 nasional.

10. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Cendekia Bojonegoro bercokol di peringkat 26804 dunia dan 1502 nasional.

11. Akademi Kebidanan (AKBID) Pemkab Bojonegoro
Bertengger di peringkat 28173 dunia dan 1905 nasional.

12. Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Muhammadiyah Bojonegoro atau STIT Mubo berada di rangking 29106 dunia dan 2235 nasional.

Ya, itu rangking sejumlah universitas atau perguruan tinggi yang ada di Bojonegoro. Berapapun urutannya, yang penting ada angkanya ya, Nabs. Toh kita lebih suka kuantitas kan. Jadi kian panjang deret angkanya, kian kereen.

Namun ketika ngobrol soal Perguruan Tinggi di Bojonegoro, terbersit dalam pikiran seperti; mengapa tradisi berpikir, merenung dan berdiskusi di kalangan mahasiswa Bojonegoro masih minim?

Budaya diskusi, musyawaroh progresif hingga pembahasan bersama soal tema dan keilmuan tertentu kok amat sepi sekali ya. Saya bisa nulis kek gini karena saya bagian dari mereka dong.

Banyak kampus di Bojonegoro. Tapi budaya diskusi minim. Saat di sejumlah kota diskusi dibubarkan, di sini diskusi telah membubarkan dirinya sendiri. Semacam tawadhuitas brutal hingga menghancurkan eksistensi diri sendiri.

Jika progresivitas mahasiswa di sebuah daerah cuma dinilai dari seberapa giat mereka berdemonstrasi, anak kecil juga bisa demo kan ya? Demo minta uang orang tua maksudnya hehe.

Mungkin banyak faktor yang mempengaruhi dinamika tersebut. Baik faktor pendukung maupun penghambat. Kemudian muncul pertanyaan, “Apakah aspek historis suatu daerah mempengaruhi progresivitas mahasiswa?”

Terus jawaban yang muncul biasanya gini: dari sebuah buku sejarah yang ada di Perpustakaan Daerah yang berada di Jalan Patimura, menyebut Bojonegoro berasal dari Bodjo dan Negara. Kalau diterjemah secara langsung artinya, istrinya negara.

Pusat sebagai suami dan Bojonegoro sebagai istrinya, maka dari itu suami harus patuh terhadap perintah istri. Wkwkwk jadi terkesan begitu-begitu saja sih jawaban sekelas mahasiswa.

Tidak, Nabs. Mahasiswa yang berproses di Bojonegoro bisa melampaui batas maksimal atau setidaknya menyamai capaian kapasitas ilmu kawan-kawan yang sedang berproses di kota besar kok.

Ingat, Nabs. Urip iku sawang-sinawang, pokok’e yakin. Nek jare Pak Habibie: Di manapun engkau berada selalulah menjadi yang terbaik dan berikan yang terbaik dari yang bisa kau berikan. Wasekk ~

Berproses dan berdinamika di Bojonegoro, tentunya memiliki kekhasan gaya hidup yang sederhana (tidak semua). Nah, untuk menyamai kapasitas progresivitas kawan-kawan di kota besar, lakukanlah amanat yang terkandung dalam ayat suci Al-Qur’an, utawi iki iku Iqro atau bacalah.

Ya, membaca buku dengan cara membeli, meminjam dan tidak dikembalikan di Perpustakaan Daerah yang mini jika dibanding dengan pusat perbelanjaan yang bertebaran di Bojonegoro serta pengunjungnya iso dititeni mbek diitung nganggo driji,mampu meningkatkan budaya kritis.

Tidak hanya itu, menjadikan  warung kopi yang banyak tersebar di Bojonegoro sebagai panggon rasan-rasan tetangga ruang progresif untuk berpikir dan berdiskusi juga amat meningkatkan budaya diskusi.

Berbicara mengenai buku, penulis masih ingat dawuh salah satu dosen sing penulis pernah head to head dan diskusi dua arah sembari mengerjakan ujian susulan, beliau ngendikan, “Mosok kuliah yahono yahene gak ndue buku blas kiii, gak sungkan karo statusmu sebagai Social Control alias Mahasiswa?”

Bagi saya yang suka berkelana dan gemar lomah-lameh alias rebahan plus kurang sregep membaca, mendengar kalimat itu rasanya kayak dipukul Tyson Si Leher Beton dan langsung pengen kulakan buku untuk segera saya bagi-bagikan pada khalayak ramai.

Perguruan tinggi nomor satu di dunia versi Webometrics, adalah Harvard University (USA). Eits.., perlu diingat bahwa peringkat bisa berubah lho! Ada beberapa faktor yang mempengaruhi, salah satunya jumlah publikasi jurnal internasional.

Siapa tahu, kelak salah satu perguruan tinggi di Bojonegoro ada yang masuk sebagai perguruan tinggi kelas internasional.

Tapi bagi penulis dan mahasiswa yang berdinamika dan berproses di Bumi Angling Dharma, ahhh….bodo amat…mending kita ngopi di kampus, kalau di Unigoro ada warung Mak Ran yang melegenda dan menjelma sebagai kampus ke-dua.

Sedang di Dua Sejoli yang katanya akan dimerger menjadi one heart, yaitu kampus IAI Sunan Giri dan Unugiri, ada Mbak Ul yang menjelma sebagai ruang diskusi dan penelanjangan identitas dalam rangka mewujudkan masyarakat tanpa kelas, hehe

Baik, Nabs. Mungkin sampai di sini dulu ya…Oh ya.., apabila para Jurnabiyyin kepalanya cenut-cenut pasca baca tulisan ini, bolehlah ngopi sama saya. Soalnya, gara-gara nulis tulisan ini, kepala saya juga cenut-cenut, Je.

Tags: Kampus BojonegoroMahasiswaPerguruan Tinggi Bojonegoro
Previous Post

Bupati Bojonegoro Prihatin pada Pedagang Kecil dan Warung Kopi yang Berhenti Jualan saat Pandemik Corona

Next Post

Begini Nasib Menikah Saat Pandemik Corona Sesuai Anjuran Bupati Bojonegoro

BERITA MENARIK LAINNYA

Kemarau yang Datang Lebih Awal
Cecurhatan

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan
Cecurhatan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
Di Antara Embargo dan Martabat
Cecurhatan

Di Antara Embargo dan Martabat

07/04/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

15/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

13/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: