Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Filosofi Ketan dan Nasihat Sebelum Berpasangan

Muhammad Sidkin Ali by Muhammad Sidkin Ali
08/04/2020
in JURNAKULTURA
Filosofi Ketan dan Nasihat Sebelum Berpasangan

Ketan, menurut orang Jawa diartikan sebagai kraketan: ngeraketne iketan atau merapatkan ikatan. Atau malah kelingan mantan? Eh 

Beberapa hari ini, hujan mengguyur desa. Ketika siang, langit memberi alarm melalui awan mendung. Lantas menjelang petang, ia menjatuhkan tangisnya ke bumi. Tangis rindu langit terhadap bumi.

Serupa rindu yang menghadirkan kenangan, hujan memicu jalanan Kota Bojonegoro kerap disesaki genangan. Terutama kawasan jalan yang konon sudah dibangun drainasenya.

Membangun drainase memang seperti membangun cinta. Kadang berhasil, kadang tidak. Buktinya, meski drainase sudah diperbaiki hingga menyebabkan kemacetan panjang, toh saat hujan masih saja banjir genangan.

Yah, setidaknya sudah berusaha lah ya. Berusaha untuk terlihat tidak sedang nganggur, misalnya. Atau sudah berusaha untuk terlihat peka dan gercep pada perbaikan fasilitas publik Bojonegoro, misalnya.

Permisalan memang satu-satunya cara mendekatkan utopia pada kenyataan. Kita, boleh banget membayangkan punya jalananan kota yang tak pernah tergenang air kala hujan. Cuma, ya, itu cuma bayangan aja.

Hujan yang terus mengguyur membuat beberapa aktivitas menjadi terganggu. Seperti saya yang seharusnya bisa mengikuti diskusi daring terpaksa tidak dapat ikut karena sinyal tidak mendukung. Maklum, biasanya saat hujan, sinyal suka hilang.

Tentu, ini tidak menjadi alasan bagi jomblo rebahan seperti saya untuk menjadi tidak produktif. Kegiatan membaca buku dan menulis menjadi alternatif. Sombong sekali ane haha.

Sesungguhnya yang dilakukan para Jurnabiyyin di waktu hujan seperti ini tidak lain adalah bermalas-malasan. Kasur lebih menggoda dari pada buku bacaan ya, Nabs. Lha gimana, mau jalan-jalan ya sedang patuh himbauan di rumah saja.

Eitts.. Selain itu biasanya kita mencari kehangatan di kala hujan. Mendekat di perapian atau sekadar menyeduh kopi hangat agar tak kedinginan. Nah di waktu seperti ini, boleh lah saya memberi tips untuk menemani kalian.

Hanya satu tips dan ini sederhana sekali. Mari menikmati hujan dengan sepiring ketan! Ketan? Iya ketan!

Kalo Nabsky nanya, tumben nulis tentang makanan? Apa saya pindah haluan jadi reviewer makanan? Jawaban saya tentu tidak. Anggap saja ini upaya menjadi pasangan yang bisa segala urusan, terutama memasak makanan. Bukan begitu, Deq Intan?

Oke, kembali ke ketan. Beras ketan merupakan varietas beras yang berwarna putih banget (bukan putih bening seperti beras yang dimasak jadi nasi lho ya) ada juga yang berwarna hitam dan ketika dimasak, beras ketan akan menjadi lengket.

Konon, makanan dari beras ketan sudah ada sejak zaman Majapahit. Ketan diolah menjadi kue dan dihidangkan dalam acara-acara kerajaan dan kerakyatan.

Nama ketan menurut orang Jawa diartikan sebagai “kraketan” atau “ngeraketne iketan” berarti merekatkan ikatan. Ini bermakna bahwa ketan merupakan simbol tali persaudaraan. Dimaknai seperti ini karena ketan biasanya dibagikan juga kepada tetangga. Utamanya ketika tradisi ruwahan atau megengan.

Seperti yang dikatakan Ucu Sawitri dari Ikatan Praktisi Kuliner Indonesia, bahwa ketan yang dihidangkan merupakan simbol merekatkan antar sesama. Ia tidak memandang bulu, siapa pun yang ada di sekitar disebutnya sebagai saudara. Saling erat berpegang, tidak peduli ia miskin atau kaya raya.

Makna ketan ini seharusnya bisa memberikan pelajaran hidup di tengah pandemi covid-19. Musim yang serba apa pun dikerjakan di rumah sejatinya membuka peluang bagi siapa saja untuk saling tolong menolong dalam kebaikan.

Saling membantu antar tetangga dalam hal makan, misalnya. Ini bisa kita lakukan dengan mudah. Akan tetapi hal ini amat sulit dilakukan karena membutuhkan keberanian, kebesaran jiwa dan keikhlasan hati.

Inilah yang membuat sebagian dari kita tidak bisa saling rekat dan melekat seperti ketan. Sehingga pelbagai masalah terutama berkaitan dengan ekonomi masih terus bergulir tanpa solusi.

Padahal jika mau belajar dari ketan yang sifatnya lengket, masing-masing dari kita bisa saling mengeratkan tali persaudaraan.

Selain dimaknai sebagai simbol ikatan persaudaraan, ketan yang bersifat lengket ini berarti juga untuk merekatkan dua insan yang menjalin pernikahan. Tak jarang jika saat lamaran atau pernikahan, kue ketan seperti jadah, wajik atau jenang menjadi makanan yang wajib ada.

Harapannya sederhana, agar rumah tangga keduanya berjalan harmonis, saling melekat dan tak terpisah. Tak ada pemisah kecuali maut. Pun jika maut memisahkan, keduanya akan terus mencinta walau di dunia yang berbeda.

Sifat ketan yang lengket karena memiliki gluten tinggi ini mengisyaratkan bahwa dalam berpasangan terutama berumah tangga, tak melepas satu sama lain menjadi kunci harmonis.

Jika saling memegang erat prinsip pernikahan seperti kejujuran dan keterbukaan, maka keduanya akan menjadi pasangan yang semakin lengket.

Nama ketan bagi orang Jawa juga berarti kemutan. Dalam bahasa Jawa, kemutan berarti teringat. Maksudnya ialah ketan dapat mengingatkan manusia untuk berinstropeksi diri.

Di bulan Sya’ban ini, masyarakat muslim Jawa biasanya melaksanakan tradisi ruwahan atau megengan. Tradisi ini untuk menyambut bulan suci ramadhan. Di antaranya tradisi ini sebagai pengingat atau renungan atas dosa yang telah dilakukan.

Oleh karena itu, banyak masyarakat yang memasak ketan, kolak, apem lontong bahkan ketupat dan dibagikan kepada tetangga. Selain untuk merekatkan tali persaudaraan, juga bermakna sebagai renungan bahwa terhadap tetangga pun kita memiliki kesalahan.

Tentu dengan memasak ketan dan membagikannya kepada tetangga tidak langsung menggugurkan kesalahan dan dosa. Tetapi ini sebagai wasilah untuk merenungi diri menyambut bulan yang penuh keberkahan, yakni ramadhan.

Sebagian masyarakat Jawa juga berkeyakinan bahwa ketan berasal dari bahasa Arab, khota’ yang berarti salah. Makna kesalahan merupakan bagian dari perenungan diri yang wajib dilakukan manusia. Juga dalam berumah tangga, kesalahan adalah hal nisbi terjadi dan harus dimaafkan.

Dalam hal memasak ketan, pastinya tidak mudah. Untuk menikmati sepiring ketan, langkah yang dilakukan seperti menanak nasi. Hanya bedanya pada saat beras ketan sudah diaru ditambahi parutan kelapa.

Parutan ini menambah cita rasa yang berbeda. Ketika beras ketan sudah matang, ketan bisa ditambahi dengan parutan kelapa lagi. Jika ingin ketan yang gurih, maka taburkan parutan kelapa. Jika ingin manis, bisa ditambah gula pasir atau gula merah yang dicairkan.

Proses yang panjang ini menyiratkan khususnya dalam berumah tangga, perjalanan yang dilalui tidak singkat. Akan ada banyak rintangan dan tantangan. Sebab itu, pasangan saling percaya bahwa dengan melekat dan saling support menjadikan keduanya bertahan menjalani kehidupan.

Rasa gurih atau manis ketan bermakna bahwa akhir dari rasa erat, baik hidup bermasyarakat atau berumah tangga ialah hasil manis menjalani proses panjang. Hasil itu adalah kebahagiaan.

Oleh karena itu, sesungguhnya ketan mengajarkan kita banyak hal tentang hidup. Mulai dari hidup berpasangan hingga bermasyarakat.

Nah, sebagai jomblo yang memegang erat tali persaudaraan, saya mengajak kalian untuk menikmati ketan. Apalagi ketan hangat. Entah kalian memasak sendiri atau membelinya, semoga tidak merasa kesepian.

Ingat! Ramadhan sebentar lagi datang. Segera cari pasangan biar waktu sahur dan buka ada yang mengingatkan. Selamat menikmati kenangan mantan, eh ketan maksudnya.

Tags: filosofiFilosofi KetanKetan
Previous Post

Liga 3 Jatim 2020 Terancam Batal Akibat Corona, Para Pemain Bersuara

Next Post

Surat Cinta dari Kapolri Bagaikan Pacar Over-protective

BERITA MENARIK LAINNYA

‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman
JURNAKULTURA

‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman

08/04/2026
Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian
JURNAKULTURA

Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian

31/03/2026
Sejarah Nikah Malam Songo di Bojonegoro
JURNAKULTURA

Sejarah Nikah Malam Songo di Bojonegoro

15/03/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Tangan yang Dipotong, Jiwa yang Diselamatkan: Hikmah Humor dan Pencurian (16)

Tangan yang Dipotong, Jiwa yang Diselamatkan: Hikmah Humor dan Pencurian (16)

20/05/2026
Naik Haji, Pelarian sekaligus Pencarian

Naik Haji, Pelarian sekaligus Pencarian

17/05/2026
Kecil Itu Indah

Kecil Itu Indah

16/05/2026
Anak Macan Wall Street

Anak Macan Wall Street

15/05/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: