Dalam konsep antroposentrisme, ajakan ngopi adalah bagian dari oportunisme kepentingan yang teramat khas primata berbusana.
Manusia mengenal kepentingan sebelum mereka mengenal jatuh cinta. Itu sebuah legitimasi bahwa jatuh cinta, pada tataran tertentu, bagian dari kepentingan itu sendiri. Meski, kepentingan juga tak melulu berurusan dengan jatuh cinta.
Tapi serupa ide, konsep maupun rencana, kepentingan juga berkelas-kelas. Ada yang kepentingan hidupnya sekadar untuk diri sendiri. Ada pula yang kepentingan hidupnya melampaui tubuh dan menyeberang pada batas kosmos yang lebih besar: untuk masyarakat atau peradaban, misalnya.
Dan perbedaan skala atas kepentingan, disadari atau tidak, berdampak pada laku yang dilakukan masing-masing orang. Jadi jangan kaget kalau dalam hidup, kita akan menemui si oportunis jangka pendek atau si penyabar dengan laku berorientasi jangka panjang.
Kepentingan, dalam hal ini adalah visi hidup. Atau cita-cita. Atau harapan. Atau target. Atau progres pencapaian. Atau apapun yang ingin segera dicapai. Atau terserah kamu mau nyebut apa. Yang jelas, ia sedang ingin didapatkan.
“Adakah seseorang yang menemuimu bukan karena kepentingan pribadinya?” Tanya seorang kawan kepada saya, “di zaman ini, semua orang bergerak karena ada kepentingan pribadi yang tersembunyi.” Katanya mempertegas.
Tentu saya tak akan menjawab pertanyaan itu. Meski tentu juga, tak menjawab pertanyaan bukan berarti tak merenunginya. Saya merenungi dan mendalami pertanyaan itu. Serenung dan sedalam yang mungkin bisa saya lakukan.
Dan, ya, andai kita mau objektif pada kondisi, orang-orang yang menemui kita adalah mereka yang selalu punya kepentingan pribadi. Bahkan, ajakan ngopi adalah proses menuntaskan sebuah progres kepentingan pribadi. Itu sangat wajar adanya.
Kamu dan aku, tentu pernah merasakan kepentingan-kepentingan manusiawi semacam itu. Coba tengok lagi. Ingat sekali lagi. Ada tidak seseorang yang ngajak ngopi hanya untuk menuntaskan kepentingan.
Itu sangat wajar, karena kita manusia. Sebab, tak mungkin rasanya manusia menuntaskan kepentingan dengan cara nyepik tembok atau laron atau nyamuk atau bekicot.
Dalam konsep antroposentrisme, manusia identik figur nan penuh kepentingan. Hanya manusia yang punya keistimewaan memiliki skill yang tak bisa ditiru mamalia lainnya. Semacam kemuslihatan intelektual yang tentu tak pernah dimiliki nyamuk atau laron atau bekicot atau kancil sekalipun.
Antroposentrisme merupakan paham bahwa manusia adalah spesies paling pusat dan penting dibanding hewan atau hantu atau tumbuh-tumbuhan. Atau, penilaian kenyataan harus melalui sudut pandang manusia yang eksklusif.
Dalam filsafat lingkungan, antroposentrisme dianggap sebagai akar masalah yang tercipta akibat interaksi manusia dengan lingkungan. Sebab, hanya manusia yang punya budi akal untuk mempolitisasi dan memanipulasi dan mengkonflikisasi, sekaligus mengkapitalisasi lingkungan secara efektif dan terlihat baik-baik saja.
Di luar manusia, semua hanya berkepentingan secara pasif. Sebab, mereka hidup secara alamiah. Flora dan fauna, misalnya, naluri atau adaptasi hidup mereka menurut pada ketentuan alamiah saja.
Itu berbeda dengan manusia. Seperti yang kita semua ketahui, manusia menciptakan budaya untuk menjaga dan mengembangkan kepentingannya. Kebudayaan, secara aktif menjaga dan mengembangkan kepentingan manusia.
Dan saking hebatnya makhluk bernama manusia; ajakan ngopi berorientasi kepentingan tertentu, kerusakan lingkungan, penindasan, konflik, hingga diktatorisme adalah manipulasi dari antagonisme kepentingan manusia.
Tapi tak semua ajakan ngopi adalah manipulasi antagonisme kepentingan. Adakalanya justru protagonisme kepentingan manusia. Jadi jangan heran kalau kemana-mana, sesungguhnya manusia selalu membawa kepentingan. Entah baik atau tidak baik.
“Karena itu, seseorang yang menemuimu bukan karena kepentingan tertentu, adalah orang baik yang harus kau temani. Meski tentu saja nisbi hampir tak ada.” Imbuh kawan saya itu, sekali lagi.
Saya, lagi-lagi, tak menanggapi ucapan kawan saya. Tapi saya renungi. Saya ingat-ingat lagi. Dan saya langsung ingat kawan-kawan yang sering ngajak ngopi tanpa kepentingan. Ngobrol ala kadarnya.
Ajakan ngopi yang seperti itu, tentu bukan manipulasi oportunisme atau antagonisme kepentingan manusia. Tapi sebaliknya. Lebih pada manipulasi protagonisme kepentingan manusia.
Saya juga ingat kawan-kawan baik yang secara tak sengaja ketemu di sebuah warung kopi. Lalu, kami membicarakan perkara yang mula-mula tak terpikirkan. Dan itu, entah kenapa, rasanya sudah sangat nikmat sekali.
Manusia, tampaknya tak akan pernah lepas dari sebuah kepentingan. Tapi alangkah menyenangkannya, andai dalam episode hidup kita, Tuhan memberi kesempatan pada kita menemui orang-orang dengan kepentingan protagonis jangka panjang. Bukan kepentingan oportunis atau antagonis jangka pendek.








