Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Siasat Menentang Tanpa Melawan

Toto Rahardjo by Toto Rahardjo
05/06/2026
in Cecurhatan
Siasat Menentang Tanpa Melawan

Menentang tanpa Melawan

Pada akhirnya, sejarah tidak akan diingat dari seberapa besar kekuasaan yang pernah berdiri, melainkan dari seberapa gigih manusia-manusia kecil menjaga api kebebasannya di sudut-sudut gelap yang tak terjangkau radar negara.

Di sebuah ruang tengah yang hanya diterangi lampu kuning lima watt, bau minyak kayu putih dan kertas tua selalu berhasil memanggil kembali ingatan tentang tahun-tahun di mana tubuh kami terasa begitu kecil, sementara bayangan negara terasa begitu raksasa.

Ada sebuah kearifan tua dalam bahasa Jawa yang sering dibisikkan para tetua di pesisir utara: Desamawacara nagaramawatata. Sebuah traktat tak tertulis yang berabad-abad menjaga batas—bahwa desa memiliki adatnya sendiri, dan negara punya hukumnya sendiri. Keduanya saling menghormati, atau setidaknya, menjaga jarak yang aman.

Namun, sejarah kita adalah sejarah tentang batas-batas yang dilanggar. Kita menyaksikan bagaimana meja-meja birokrasi di ibu kota mulai mendikte cara petani menanam padi, cara masyarakat adat mengubur jenazah, hingga cara seorang anak mengeja namanya sendiri.

Sosiolog James C. Scott pernah menulis dengan sangat jeli tentang bagaimana negara selalu berusaha “melihat” dan menyeragamkan jelatanya (Seeing Like a State). Ketika kontrol total itu masuk ke bilik-bilik paling intim di dalam rumah kita, trauma sosial itu pun lahir. Sebuah luka kolektif tentang hilangnya kedaulatan diri.

Gerilya Kecil di Bawah Meja Belajar
Ingatan saya melompat ke sebuah ruang kelas di awal tahun tujuh puluhan. Dindingnya bercat kapur yang mulai mengelupas, menampilkan bercak-bercak lembap mirip peta buta. Di depan kelas, seorang guru dengan penggaris kayu panjang memukul meja, mendiktekan apa yang harus dihafal untuk ujian esok hari. Kami dipaksa menelan bulat-bulat definisi tentang menjadi “warga negara yang baik”, yang dalam kamus penguasa saat itu berarti: diam, patuh, dan seragam.

Saya ingat rasa sesak di dada itu. Rasa asing yang timbul ketika menyadari bahwa “cara belajar” dan “cara menjadi orang” telah dirumuskan oleh sekelompok orang berseragam di Jakarta yang bahkan tidak pernah tahu bau tanah basah setelah hujan di desa kami.

“Nggak ada kekuasaan bekerja atas diri kita, kecuali kalau kitanya patuh.”

Kalimat itu baru saya temukan bertahun-tahun kemudian dalam teks-teks filsafat Étienne de La Boétie tentang Servitude Volontaire (Kepatuhan Sukarela). Namun, secara naluriah, anak-anak kecil di zaman itu sudah mempraktikannya. Ketika sistem mendikte dari atas, kami berpaling ke bawah. Kami melakukan gerilya.

Di bawah meja belajar, di luar jangkauan mata guru yang tajam, kami bertukar komik-komik selundupan, menulis puisi di balik buku kas, dan menciptakan cara belajar kami sendiri. Kami menolak patuh secara diam-diam. Itu adalah bentuk pertahanan ego yang paling primitif agar jiwa kami tidak remuk diredam mesin penyeragaman.

Menentang Tanpa Melawan
Di tanah ini, melawan dengan kepalan tangan sering kali berakhir dengan hilangnya nama di malam hari. Trauma atas kekerasan struktural masa lalu mengajarkan sebuah strategi bertahan hidup yang lebih anggun, namun mematikan bagi otoritas: Menentang tanpa melawan.

Masyarakat Jawa mengenalnya sebagai bagian dari laku spiritual, namun dalam konteks politik praktis, ini adalah kecerdasan taktis. Jangan bulet-bulet manut wae—jangan mentah-mentah mematuhi segala hal. Ketika negara memaksa kita memakai sepatu yang kekecilan, kita memakainya di depan mereka, namun segera melepaskannya begitu berbelok di tikungan jalan.

Menentang tanpa melawan berarti mempertahankan ruang batin kita agar tetap merdeka. Menjadi manusia oposan yang cerdas bukanlah tentang berteriak di podium hingga urat leher tegang, melainkan tentang penolakan sadar untuk ikut serta dalam kebohongan kolektif.

Menjadi Manusia, Bukan Robot Sosial
Sejak kecil, saya menyadari ada perbedaan mendasar antara “menjadi orang” versi institusi dan “menjadi manusia” versi nurani. “Menjadi orang” adalah produk dari pabrik sosial: sekolah, sertifikat, kepatuhan birokratis, dan kesediaan untuk menjadi sekrup kecil dalam mesin besar negara.

“Menjadi manusia” adalah sebuah perjalanan pulang menuju diri sendiri—menemukan kembali rasa empati yang belum terdistorsi oleh ideologi, dan merawat daya kritis yang terus-menerus coba diamputasi.

Protes yang saya layangkan sejak masa kanak-kanak bukanlah pemberontakan seorang remaja yang manja. Itu adalah jeritan sunyi dari seorang manusia yang menolak dikomodifikasi. Di tengah dunia yang hari ini urusan desanya masih terus diacak-acak oleh regulasi pusat yang rabun, gerilya itu belum usai.

Kita hanya perlu kembali mengingat detail-detail kecil dari cara kita bertahan di masa lalu: melalui dongeng yang diceritakan nenek di dapur, melalui lumbung-lumbung pangan mandiri yang tak tercatat di dinas pertanian, dan melalui keputusan-keputusan kecil untuk tetap berpikir jernih di tengah histeria kepatuhan massal.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan diingat dari seberapa besar kekuasaan yang pernah berdiri, melainkan dari seberapa gigih manusia-manusia kecil menjaga api kebebasannya di sudut-sudut gelap yang tak terjangkau radar negara.

 

Tags: Catatan Toto RahardjoMakin Tahu IndonesiaMenentang tanpa Melawan
Previous Post

Ketika Rasa Syukur Menulis Ulang Peta Otak: Bukti Ilmiah di Balik Kekuatan Bersyukur

BERITA MENARIK LAINNYA

Kebiasaan Mencuri Sang Binatang Jalang: Hikmah Humor dan Pencurian (18)
Cecurhatan

Kebiasaan Mencuri Sang Binatang Jalang: Hikmah Humor dan Pencurian (18)

03/06/2026
Di Kebun Singkong: Percakapan tentang Benih, Anak-anak, dan Masa Depan
Cecurhatan

Di Kebun Singkong: Percakapan tentang Benih, Anak-anak, dan Masa Depan

02/06/2026
Jejak Intelijen Indonesia dan Tokoh di Baliknya
Cecurhatan

Jejak Intelijen Indonesia dan Tokoh di Baliknya

29/05/2026

Anyar Nabs

Siasat Menentang Tanpa Melawan

Siasat Menentang Tanpa Melawan

05/06/2026
Ketika Rasa Syukur Menulis Ulang Peta Otak: Bukti Ilmiah di Balik Kekuatan Bersyukur

Ketika Rasa Syukur Menulis Ulang Peta Otak: Bukti Ilmiah di Balik Kekuatan Bersyukur

04/06/2026
Pemkab Bojonegoro Salurkan Benih Tembakau Unggul, Petani Bidik Panen Lebih Produktif

Pemkab Bojonegoro Salurkan Benih Tembakau Unggul, Petani Bidik Panen Lebih Produktif

03/06/2026
Kebiasaan Mencuri Sang Binatang Jalang: Hikmah Humor dan Pencurian (18)

Kebiasaan Mencuri Sang Binatang Jalang: Hikmah Humor dan Pencurian (18)

03/06/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: