Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Merayakan Demokrasi ala FIFA Puskas Award

Mika Bahauddin by Mika Bahauddin
22/12/2021
in Cecurhatan
Merayakan Demokrasi ala FIFA Puskas Award

Demokrasi bukan hanya sekadar nampak di pemerintahan, melainkan juga di persebakbolaan.

Pada tanggal 29 November,
FIFA mengumumkan nominasi gol-gol terindah sepanjang tahun 2021 untuk mendapatkan penghargaan FIFA Puskas Award.

Total ada 11 gol yang saling beradu untuk memenangkan gelar tersebut.

Gol-gol yang masuk dalam nominasi FIFA Puskas Award berasal dari pemain laki-laki maupun perempuan, baik dari pertandingan klub maupun tim nasional, baik dari liga kasta tertinggi maupun kasta kedua, asalkan merupakan laga resmi yang diakui oleh FIFA.

Nabs, jika melihat parade gol yang masuk dalam nominasi tahun ini, jenis gol seperti, bicycle kick, scissor kick, dan volley goal masih menjadi langganan nominasi.

Gol akrobatik scorpion kick pun hadir kembali menjadi salah satu nominasi.

Pertanyaannya adalah gol manakah yang akan terpilih?

Dari 11 gol yang menjadi nominasi pada tahun ini, sebagian di antaranya memiliki kesamaan dengan gol pemenang FIFA Puskas Award tahun-tahun sebelumnya.

Pertama, Luis Diaz (Brazil vs Colombia). Gol milik Luis Diaz pada laga yang mempertemukan antara Timnas Brazil dan Timnas Colombia termasuk dalam kategori gol scissor kick.

Gol scissor kick sudah pernah diganjar dengan FIFA Puskas Award kepada Wendell Lira pada tahun 2015.

Kedua, Valentino Lazaro (Bayer Leverkusen vs Borussia Monchengladbach)
Valentino Lazaro pasti bahagia bisa mencetak gol scorpion kick saat timnya berhadapan dengan Bayer Leverkusan pada laga Bundesliga.

Gol scorpion kick pun telah tiga kali ini menjadi nominasi selama gelaran FIFA Puskas Award.

Tetapi sayang, Olivier Giroud sudah terlebih dahulu membawa pulang piala FIFA Puskas Award berkat gol scorpion kick-nya pada tahun 2017.

Ketiga, Mehdi Taremi (Chelsea vs FC Porto)
Gol bicycle kick hampir setiap tahun selalu masuk dalam nominasi, gol Mehdi Taremi yang mewakilinya pada tahun ini.

Gol tersebut tercipta pada laga Liga Champions. Indah memang dan tercipta pada laga yang sengit.

Tetapi, Mehdi Taremi jangan membusungkan dada terlebih dahulu. Sebab Zlatan Ibrahimovic dan Daniel Szori telah melakukannya untuk gelar FIFA Puskas Award tahun 2013 dan 2019.

Tanpa bermaksud mengesampingkan gol-gol tersebut. Karena dibalik gol yang indah juga terdapat usaha yang tak mudah.

Tetapi dominasi gol dengan teknik seperti bicycle kick, scissor kick, dan volley goal terlalu mendominasi pada pemilihan setiap tahunnya.

Tentunya gol-gol yang terpilih menjadi nominasi sudah melalui seleksi yang ketat. Sehingga setiap gol yang terpilih masuk dalam nominasi merupakan gol yang indah dari jerih payah pemain. Bukan dari hasil sebuah keberuntungan, kesalahan, apalagi dari tindakan yang menyalahi jiwa korsa fair play.

Yang perlu menjadi perhatian adalah bahwa setiap gol mesti mendapatkan kesempatan yang sama untuk memenangkan penghargaan ini, tanpa adanya tendensi dari kelompok jenis gol tertentu.

Apakah nantinya akan terulang kembali momen di mana gol bicycle kick kembali menjadi pemenang, setelah sebelumnya dua kali memenangkan penghargaan ini. Bagaimana bisa gol yang tercipta dengan teknik yang sama dapat memenangkan penghargaan ini dalam dua kali kesempatan.

Bukankah gol yang terpilih merupakan yang terindah di antara yang terindah, sekaligus memiliki karakter yang kuat. Sehingga gol tersebut sulit ditiru oleh pemain lain, bahkan terulang kembali.

Pemenang FIFA Puskas Award ditentukan oleh para juri yang berasal dari panel FIFA Legends dan seluruh suporter sepak bola di seluruh dunia melalui website FIFA.com.

Momen penghargaan FIFA Puskas Award ini menjadi sangat penting bagi suporter sepak bola untuk menyuarakan pilihannya sekaligus mengawal langsung proses pemilihan.

Pemenang nantinya akan diumumkan pada tanggal 17 Januari 2022 saat gelaran The Best FIFA Football Awards di Zurich, Swiss.

FIFA Puskas Award bukan hanya sebatas bagian dari pesta olahraga bagi suporter sepak bola. Lebih dari itu, gelar tersebut merupakan bukti bahwa olahraga ini selalu menyuguhkan sisi keindahannya.

Tags: DemokrasiFIFAPuskas Award
Previous Post

Komitmen Memerdekakan Pendidikan di Tanah Papua

Next Post

Berlari untuk Bahagia

BERITA MENARIK LAINNYA

Jejak Intelijen Indonesia dan Tokoh di Baliknya
Cecurhatan

Jejak Intelijen Indonesia dan Tokoh di Baliknya

29/05/2026
Sebuah Saung di Pinggir Sawah Seleksi Tanaman, Klaten. Sore Hari
Cecurhatan

Sebuah Saung di Pinggir Sawah Seleksi Tanaman, Klaten. Sore Hari

28/05/2026
Aku dan Mimpiku yang Belum Selesai
Cecurhatan

Aku dan Mimpiku yang Belum Selesai

27/05/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Jejak Intelijen Indonesia dan Tokoh di Baliknya

Jejak Intelijen Indonesia dan Tokoh di Baliknya

29/05/2026
Sebuah Saung di Pinggir Sawah Seleksi Tanaman, Klaten. Sore Hari

Sebuah Saung di Pinggir Sawah Seleksi Tanaman, Klaten. Sore Hari

28/05/2026
Aku dan Mimpiku yang Belum Selesai

Aku dan Mimpiku yang Belum Selesai

27/05/2026
Percakapan di Tepi Kolam Bersama Mbah Moedjair

Percakapan di Tepi Kolam Bersama Mbah Moedjair

27/05/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: