Di mana ada kehidupan, di situ ada badai yang seliweran.
Badai. Bukan hanya sekadar deru angin di lautan. Yang mampu mengombang-ambingkan perahu dalam pelayaran. Bukan juga sebuah “perumpamaan” yang hanya bermakna keburukan.
Di sebuah gedung bekas kafe, dekat kolam lele. Seorang hamba menundukkan kepala. Tangan kanan menyangga dagu. Jempol menempel di dagu bawah dan telunjuk menghiasi dagu bagian depan. Berpikir ihwal kehidupan wabilkhusus mengenai keadilan Tuhan.
“Apakah Tuhan sudah adil?”, sesekali tangan kanan tidak mampu menahan kepala. Bukan karena beban pikiran, melainkan karena rasa kantuk yang menyerang.
Di tengah rasa kantuk yang menyerang terdapat pemikiran tentang kehidupan. Problem keuangan, percintaan, pendidikan, dan lain sebagainya.
Badai demi badai berlalu. Hingga seorang hamba tersebut bergumam, “Kapan, ya? Badai ini benar-benar jeda bahkan berakhir?”
Karena sering badai tersebut mampu mengabadikan nama seorang hamba di batu niasan dengan hiasan bunga kamboja. Tak jarang mampu mengantarkan hamba pada perjalanan kehidupan selanjutnya. Bertemu dengan dzat yang esa dan mengetahui secara detail cahaya demi cahaya hingga hal-hal yang berada di balik cahaya.
Untuk mengalihkan sebuah pertemuan tersebut, pikiran menjadi solusi utama dalam menghadapi beragam jenis badai.
“Badai bulan Januari, Februari, Maret, April, Mei hingga Desember. Sesungguhnya senantiasa melintas dan berlalu. Tiada tanda titik di penghujung badai saban bulan, adanya tanda koma, tak mengenal tempat dan waktu,” ujar sebuah tiang bangunan yang menopang bagian punggung seorang hamba, di sebuah bangunan bekas kafe, di dekat kolam lele.
“Hmm..benar juga, ya…”, gumam seorang hamba dalam sanubari. Badai Februari berlalu, Maret dan seterusnya siap menunggu”.
“Nikmatilah badai demi badai yang berhembus. Jangan harapkan keadilan ‘dzat’ di balik badai yang berhembus,” terdengar suara tanpa nama. Karena belum ada cahaya yang sesungguhnya.








