Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Genealogi Naskah Jawa

Totok Supriyanto by Totok Supriyanto
31/05/2024
in Cecurhatan
Genealogi Naskah Jawa

Siapapun yang tertarik menganalisis struktur peradaban Jawa hingga komponen-komponennya, maka harus mulai menyelidiki literatur kuno yang tersedia. Namun, akan lebih mudah dengan membaca gambar-gambar (iluminasi) yang penuh imajinasi, daripada apa yang tertuang berupa dokumen tertulis. Terlebih jika orang itu tidak mengetahui satu kata pun makna dari bahasa yang digunakan untuk menulis dokumen tersebut.

Kesulitan ini nyatanya membuat banyak dari mereka mudah menemui jalan buntu, karena produk karya-karya sastra Jawa kuno yang terkenal, ternyata hanya memberi sedikit kontribusi terhadap pengetahuan kita tentang representasi atau cara pandang Jawa kuno dan asli.

Karya sastra klasik, seperti Ramayana, Bharatayuddha, Smaradahana, Bhomakawya, Hariwansa, Arjunawijaya, Arjunawiwaha, Sumanasantaka, Sutasoma, dan sebagainya yang ditulis oleh para rakawi merupakan seni sastra berbentuk puisi, yang hampir seluruhnya berdasar gaya dan tampak bersubyek murni India.

Naskah-naskah yang muncul belakangan dan dijumpai terutama dari masa Jawa Tengah, seperti naskah Tantri rupanya juga berasal dari cerita India, sebaliknya, naskah Rangga Lawe, bermain di dalam corak warna lokalitas Jawa. Naskah-naskah tersebut memang berisi beberapa informasi penting mengenai sejarah Jawa, namun belum jelas apakah mereka memiliki pengaruh yang besar dalam mitologi orang Jawa asli.

Karya-karya lain pada periode yang sama, semisal Roman Panji dan Damar Wulan, juga memerlukan penelitian lebih lanjut untuk menjawab pertanyaan semurni apakah karya-karya tersebut bernuansa Jawa. Menjadi umum jika – sejauh menyangkut kesusastraan Jawa yang lebih baru dan setelah dikurangi segala sesuatu yang berasal dari serapan Islam – diketahui bahwa sebagian besar isinya terdiri dari adaptasi – baik dalam bentuk epik atau dramatis – dari kesusastraan lama.

Di antara transformasi itu ditemukan juga unsur kosmogonik (kisah yang menggambarkan asal mula alam semesta), dan sangat kentara pada apa yang terdapat dalam naskah Manik Maya. Manik Maya menunjukkan pencampuran nama dan representasi mitologi India dengan Jawa asli.

Kemudian karya sastra Jawa Kuno lainnya berjudul Tantu Panggelaran merupakan naskah yang juga kental dengan ihwal kosmogonik, meskipun tidak begitu lagi utuh dan tersalin dengan baik seperti halnya Manik Maya.

Tantu Panggelaran merupakan sebuah karya yang memiliki sifat yang sama dengan Purana (kesusastraan agamawi yang memuat mitologi, legenda, dan kisah-kisah zaman dulu), tetapi cara pengolahan materinya sangat menyimpang dari Purana India. Tidak hanya berbeda dalam penampilannya yang berbentuk prosa, tetapi juga kandungan isinya.

Terkait nama-nama dewa, dewi, dan makhluk surgawi lainnya, maka akan dapat dengan mudah untuk berada di dunia para dewa di India, namun apa yang diceritakan tentang dewa-dewa itu, sangat berbeda dalam banyak hal, bahkan terkesan menyingkirkan sepenuhnya representasi India.

Naskah Tantu Panggelaran yang tertua berada di Perpustakaan Leiden Belanda. Tidak diketahui berapa lembar naskah yang hilang dari keseluruhan naskah yang tersimpan, namun dari pembacaan terhadap naskah itu, ternyata memunculkan fakta yang luar biasa.

Bahwa gaya bahasa dari Tantu Panggelaran ternyata sangat mirip dengan prosa Adiparwa. Sehingga redaksi pertama kali dari Tantu Panggelaran mungkin berasal dari waktu yang sama atau paling tidak di waktu yang berdekatan dengan Adiparwa.

Sedangkan Adiparwa sendiri, digubah di awal abad ke-11 oleh rakawi Narotama di bawah pemerintahan Airlangga yang terkenal itu. Keseluruhan isi dari Tantu Panggelaran merupakan produk hasil inkubasi mitologi asli dan dari luar, dan tempat kejadiannya adalah Jawadwipa (Pulau Jawa).

Tentang nama India, hanya dikatakan bahwa Gunung Meru dipindahkan dari sana ke Jawa, sehingga dalam sudut pandang rakawi, peran dominan India seakan-akan menghilang dari kancah dunia; bagaimana India bisa bertahan tanpa Meru?

Judul Tantu Panggelaran, bisa diterjemahkan sebagai “Panggung Dunia” atau lebih bebasnya, “Sejarah Tergelarnya Dunia”. Dari teksnya sendiri menunjukkan bahwa rakawi menggunakan kata Tantu, sebagai sinonim dari Pratishta, diambil dari bahasa Sansekerta pratishtha, yang secara khusus memiliki arti “mendirikan, menetap, tempat tinggal”.

Kadang-kadang ia mengganti Tantu dengan kata Jagat (dunia), dunia yang mengacu pada kampung halaman pria itu, yaitu Jawa. Apa yang termuat dalam Manik Maya dan Tantu Panggelaran sebagiannya kemudian tentu diadopsi dan digubah sedemikian rupa pada naskah dongeng era paling belakangan bernama Babad Tanah Jawi.

Dengan isinya yang memuat segala eksklusifitas Mataram dan membungkus lompatan peristiwa sebelumnya dengan siklus Pawukon. Babad Tanah Jawi sepertinya memang ditulis pujangga Mataram jauh setelah era Sultan Pajang (Hadiwijaya) atau Sultan Agung Mataram.

Kejadian awal kerajaan Jawa dan Mataram yang terakhir, memang selalu dimulai sebuah kestabilan dunia (kosmos), yaitu masa tenang setelah sebuah kejadian besar tergoncangnya langit dan dunia (Pralaya), memunculkan setidaknya dua kaidah; Meru dan Pawitra, atau, apapun nama lain dari mereka.

Tags: AdiparwaMakin Tahu IndonesiaManik MayaNaskah JawaPeradaban JawaTantu Panggelaran
Previous Post

Bangun Tribun, SKK Migas dan KKKS Dukung Prestasi Olahraga di Natuna

Next Post

Ajakan Ngopi dan Kepentingan Manusia dalam Konsep Antroposentrisme

BERITA MENARIK LAINNYA

Merawat Ingatan, Menyemai Masa Depan: GP Ansor Kota Batu Luncurkan Buku Sejarah
Cecurhatan

Merawat Ingatan, Menyemai Masa Depan: GP Ansor Kota Batu Luncurkan Buku Sejarah

21/04/2026
Pembawa Pendaratan di Planet Merah: Diaspora Iran Sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (2)
Cecurhatan

Pembawa Pendaratan di Planet Merah: Diaspora Iran Sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (2)

21/04/2026
‎Bahas Dinamika Timur Tengah, PC ISNU Bojonegoro Gelar Diskusi Ilmiah
Cecurhatan

‎Bahas Dinamika Timur Tengah, PC ISNU Bojonegoro Gelar Diskusi Ilmiah

20/04/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Merawat Ingatan, Menyemai Masa Depan: GP Ansor Kota Batu Luncurkan Buku Sejarah

Merawat Ingatan, Menyemai Masa Depan: GP Ansor Kota Batu Luncurkan Buku Sejarah

21/04/2026
Pembawa Pendaratan di Planet Merah: Diaspora Iran Sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (2)

Pembawa Pendaratan di Planet Merah: Diaspora Iran Sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (2)

21/04/2026
‎Bahas Dinamika Timur Tengah, PC ISNU Bojonegoro Gelar Diskusi Ilmiah

‎Bahas Dinamika Timur Tengah, PC ISNU Bojonegoro Gelar Diskusi Ilmiah

20/04/2026
Di Bawah Langit Teheran, Anak-Anak Belajar Berdiri Sendiri

Di Bawah Langit Teheran, Anak-Anak Belajar Berdiri Sendiri

19/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: