Bicara seni mengalirkan ide menulis dan membiasakan membaca, ternyata tumpukan buku yang berada di depan laptop bisa menjadi sarana untuk mewujudkan hal itu.
Aktifitas menumpuk buku, hasil koleksi yang kita beli semakin jarang ditemui. Bagi akademisi -dosen di PT- hal itu lumrah dilakukan. Bahkan, menjadi tanda tanya besar manakala ada akademisi, tetapi di rumahnya sunyi dari keberadaan buku yang berjejer di rak, almari, atau menumpuk di meja belajar hingga ruang tamu.
Meski bukan akademisi, jejeran atau tumpukan koleksi buku akan lebih baik bilamana dilakukan pula oleh masing-masing keluarga. Perlu diingat, literasi -dalam hal ini membaca- masih menjadi PR yang besar. Jika tidak dari keluarga, mau dimulai dari ruang manalagi membaca menjadi kebiasaan bersama.
Entah panjenengan percaya atau tidak, buku yang ditumpuk hingga meninggi ternyata memiliki daya tarik diri untuk aktif membaca dan menulis. Dua daya tarik tersebut beberapa kali penulis temui kebenarannya.
Kala penulis duduk di meja belajar, entah selepas sarapan, nyuci baju keluarga, atau sekadar mengamati gadget, melihat buku yang tertumpuk di depan mata gairah untuk membaca muncul. Alhasil, bilamana belum ada buku yang dibeli setiap bulannya, buku lama biasanya menjadi sasaran penulis untuk dibaca kembali (read it again).
Buku yang bertumpuk di meja, seakan-akan membisikkan kata “Ayo, baca aku”. Hingga akhirnya, bisikkan tersebut penulis pun turuti untuk melepaskan dahaga keilmuan.
Pada fungsi membaca kembali buku yang sudah hatam terbaca, prinsip yang digunakan adalah mengingat dan menyempurnakan pengetahuan yang sempat dan hampir terlupa.
Sarana Edukasi
Selain memunculkan gairah membaca, tumpukan buku yang sengaja penulis taruh di ruang tamu, hakikatnya juga bisa digunakan sebagai sarana edukasi.
Sederhananya, penulis dan istri memiliki teman sendiri-sendiri yang bisa bertandang kapan saja. Bilamana melihat buku yang bertumpuk di meja belajar, minimal keinginan untuk ngebai -atau memenuhi- meja belajar dengan buku-buku sangat bisa dilakukan.
Siapa tahu, tamu yang bertandang -ke rumah kita- menjadi terinspirasi. Untuk selanjutnya, punya keinginan lebih tidak sekadar ingin menumpuk buku saja. Melainkan, juga memiliki kesadaran untuk kemudian semangat membaca.
Alhasil, dari yang asalnya tidak tertarik membaca, menjadi coba mulai membaca, hingga kemudian perilaku rutin membaca terwujud satu per satu anggota keluarganya.
Ide Menulis
Selain membaca, tumpukan buku di meja belajar yang penulis miliki, ternyata juga menumbuhkan ide menulis. Hal itu sering terjadi. Dari sekadar melihat-lihat judul buku, dari atas ke bawah, kemudian terbayang ingin memiliki karya sebagaimana penulis buku.
Saat itulah, penulis pun pilih salah satu buku untuk kemudian penulis baca. Sehingga pada saat membaca satu, dua, hingga tiga paragraf itulah, penulis merasakan ide segar tulisan yang terlintas atau muncul, untuk selanjutnya dilahirkan menjadi karya tulis yang komprehensif.
Terhadap ide segar yang kemudian muncul, penulis pun tindak lanjuti dengan membuka laptop, kemudian menuliskan ide liar yang muncul dengan penuh kesabaran hingga selesai. Ketika karya tulis tersebut telah rampung diurai, barulah kemudian penulis mengirimkan kepada media cetak maupun online.
Dua manfaat yang penulis ceritakan di atas, setidaknya bisa diambil hikmah, bila ruang terdekat kita bisa digunakan menciptakan inspirasi pengetahuan, edukasi, bahkan ide baru karya tulis.
Akhirnya, selamat mencoba menumpuk buku koleksi anda.
*Penulis adalah Dosen Prodi PAI Fakultas Tarbiyah Unugiri Bojonegoro.








