Pendidikan itu penting. Biasanya terkesan klise mungkin? Tapi coba deh, bayangkan kalau kita hidup tanpa bekal pendidikan. Kita nggak bakal tahu cara baca caption Instagram, nggak ngerti bedanya “di” yang dipisah sama yang disambung, dan yang paling fatal ngak bisa bedain diskon palsu di e-commerce.
Nah, sekolah sebagai institusi pendidikan seharusnya jadi tempat menanamkan karakter dan wawasan, bukan cuma tempat absen dan titip tugas. Tapi, realitanya? Banyak siswa zaman sekarang yang kehilangan arah. Hidupnya lebih sibuk ngurusin follower TikTok daripada tugas sekolah.
Bangun tidur cek Hp, sebelum tidur skrol bahkan di kelas pun Handpone nggak lepas dari genggaman. Fenomena ini bukan hanya merugikan mereka sendiri, tapi juga bikin guru dan orang tua garuk-garuk kem olah Tempat Belajar atau Tempat Mabar?
Dulu, sekolah merupakan tempat nyari ilmu. Sekolah sekarang kadang lebih mirip arena Mobile Legends. Yang satu sibu push rank, yang lain sibuk nge-DM gebetan. Padahal, masa sekolah adalah masa emas dimana otak masih segar, daya ingat masih tajam, dan peluang sukses di masa depan masih luas. Sayangnya, kesempatan ini sering disia-siakan dengan kegiatan yang kurang produktif.
Terus, kalau siswa nggak fokus belajar, gimana nasib Indonesia ke depan? Masa depan bangsa ini ada di tangan generasi muda. Kalau generasi mudanya lebih banyak menghabiskan waktu buat hal-hal yang kurang bermanfaat, siap-siap aja lihat pemimpin masa depan yanag lebih sibuk update status daripada bikin kebijakan.
Ada beberapa faktor utama yang bikin karakter siswa zaman sekarang makin susah dikendalikan:
1.Teknologi yang Terus Melaju
Dulu, kalau mau cari jawaban PR, kita buka buku. Sekarang? Tinggal Googling atau lebih gampang tanya ChatGPT. Informasi memang jadi lebih gampang diakses, tapi sayangnya, nggak semua informasi itu sehat.
Banyak siswa yang menjadikan media sosial sebagai standar hidup tanpa filter kritis. Kalau lihat influencer jalan-jalan terus, langsung pengen ikut-ikutan tanpa mikir modal. Akhirnya, makin banyak yang kehilangan arah dan lebih fokus pada ”citra” ketimbang substansi.
2.Peran Orang Tua yang Kadang Keblinger
Orang tua adalah sekolah pertama anak. Tapi gimana kalau orang tuanya sibuk sendiri? Ada yang terlalu mengekang sampai anaknya stres, ada juga yang terlalu bebas sampai anaknya liar. Bahkan, kalau anak manusia dibesarkan oleh serigala, dia bisa tumbuh seperti serigala juga.
Jadi, nggak heran kalau karakter anak banyak dipengaruhi lingkungan keluarga. Kalau rumahnya adem, anaknya ikut adem. Kalau rumahnya toxic, ya bisa ditebak.
3.Sekolah yang Kelebihan Administrasi
Guru seharusnya fokus mendidik, tapi realitanya? Lebih sibuk sama tugas administratif.
Saking banyaknya laporan yang harus dibuat, kadang murid jadi nomor dua. Padahal, Kanjeng Nabi Muhammad SAW sudah dawuh, yang paling penting dari manusia itu akhlaknya dulu. Kalau akhlaknya baik, ilmunya juga bakal lebih bermanfaat. Tapi kalau akhlaknya nggak dibentuk dari awal, ya jangan heran kalau nanti makin banyak orang pintar tapi nggak punya etika.
4.Masyarakat yang Makin Gagal Jaga Norma
Dulu, norma sosial itu kuat. Sekarang banyak yang mulai luntur. Bahkan di desa yang dulu terkenal dengan nilai-nilai moralnya pun, perilaku negatif mulai menjamur. Kalau di desa aja udah begini, gimana di kota? Miris, kan? Meski tantangan makin berat, bukan berarti nggak bisa berubah.
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan siswa biar nggak kebawa arus negatif:
1. Punya Tujuan Hidup yang Jelas
Mau jadi apa? Jangan cuma ikut-ikutan tren. Mulai pikirkan masa depan dari sekarang. Siswa SMP beda sama SD, siswa SMA beda sama SMP. Harus ada progres!
2. Fokus Belajar, Jangan Cuma Ngandelin Keberuntungan
Di negara maju, anak-anak dari kecil sudah diajarin buat mandiri dan fokus belajar. Kalau Indonesia mau maju, sistem kayak gini harus mulai diterapkan. Nggak bisa terus-terusan ngarepin contekan.
3. Kembangkan Hobi dan Minat
Sekolah bukan cuma soal akademik. Siswa juga harus bisa eksplorasi diri. Entah itu musik, olahraga, atau keahlian lain yang bisa jadi bekal masa depan. Karena kalau cuma mengandalkan nilai raport, dunia kerja bakal lebih kejam dari yang dibayangkan.
4. Ikut Berperan dalam Masyarakat
Remaja jangan cuma sibuk pacaran. Mulai ikut kegiatan sosial, organisasi, atau apapun yang bisa bikin berkembang. Selain buat pengalaman, ini juga nambah skill kepemimpinan dan rasa tanggung jawab.
5. Latih Keterampilan Sosial dan Emosional
Pinter akademik itu penting, tapi kalau nggak bisa komunikasi dan kerja sama, ya susah juga. Dunia ini bukan cuma tentang IPK tinggi, tapi juga soal gimana cara berinteraksi dengan orang lain.
Mau Jadi Generasi Emas atau Generasi Lemah?
Masa muda terlalu berharga buat dihabiskan tanpa arah. Pendidikan harus dijadikan prioritas, bukan cuma formalitas. Kalau mau sukses, ya harus mulai dari sekarang. Jangan sampai nanti nyesel karena dulu lebih sibuk scroll TikTok daripada baca buku. Yuk, jadi generasi yang lebih cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan.








