Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Perubahan Iklim dan Kita Terlambat Lagi

Toto Rahardjo by Toto Rahardjo
30/04/2026
in Cecurhatan
Perubahan Iklim dan Kita Terlambat Lagi

Perubahan iklim dan keterlambatan kita

Perubahan iklim kini jadi bahasa baru. Ia hadir sebagai kerangka berpikir yang jarang dipertanyakan. Di baliknya, ada jejaring lembaga internasional dan rekomendasi global. Juga aliran pendanaan yang mengikuti narasi tertentu. Sebuah narasi yang kadang tak selaras dengan kearifan lokal.

Di sebuah ruang konferensi, perdebatan itu berlangsung. Para ilmuwan senior—penulis laporan yang kelak akan dibaca pemerintah dunia—berbicara dengan nada tenang, tetapi menyimpan ketegangan yang nyaris tak kasatmata.

Grafik-grafik diproyeksikan, kurva-kurva naik turun seperti detak jantung bumi yang sedang diperiksa. Ada yang menunjuk angka, ada yang meragukan metode, ada pula yang diam, mencatat, seolah menyimpan keraguan untuk waktu yang lebih aman.

Di luar ruangan itu, dunia berjalan seperti biasa. Hutan-hutan ditebang dengan ritme yang lebih cepat daripada waktu yang dibutuhkan untuk memahami akibatnya. Sungai-sungai mengalir membawa sisa-sisa kehidupan yang telah diubah menjadi limbah.

Namun di dalam ruangan, perdebatan itu terasa seperti pertarungan tentang sesuatu yang lebih abstrak: apakah perubahan iklim adalah fakta yang tak terbantahkan, atau sekadar konstruksi ilmiah yang masih terbuka untuk ditafsirkan.​

Perdebatan itu bukan hanya soal data. Ia juga soal kepentingan, tentang siapa yang berhak mendefinisikan masa depan, dan dengan bahasa apa masa depan itu akan dijelaskan.

Di negara-negara maju, isu perubahan iklim tumbuh seperti ladang penelitian yang subur. Ia melahirkan teknologi, memperkaya diskursus, dan memperhalus cara manusia memahami relasi antara bumi dan atmosfer. Tetapi di saat yang sama, kebijakan yang dihasilkan sering kali berjalan di jalur yang berliku—bahkan kontradiktif.

Ada negara yang memimpin penelitian tentang pengurangan emisi, tetapi tetap mempertahankan industri yang justru menjadi penyumbang terbesar emisi itu sendiri. Di sana, sains dan politik tidak selalu berjalan beriringan; kadang mereka saling menunggu, kadang saling menegasikan.

Yang lebih sunyi, dan jarang dibicarakan dengan lantang, adalah bagaimana pengetahuan itu disaring. Tulisan-tulisan yang meragukan arus utama sering kali tidak mendapatkan tempat di jurnal-jurnal bergengsi. Bukan semata karena ia salah, tetapi karena ia tidak selaras dengan arah angin yang sedang berembus.

Dalam dunia akademik, seperti juga dalam kehidupan sosial, ada konsensus yang tidak selalu lahir dari kebenaran mutlak, melainkan dari kesepakatan yang perlahan mengeras.

Sementara itu, di negeri ini, isu yang sama hadir dengan wajah yang berbeda. Ia tidak datang sebagai perdebatan panjang yang membuka kemungkinan tafsir, melainkan sebagai arus besar yang nyaris tak terbendung.

Kata-kata seperti “perubahan iklim” diulang dalam seminar, kebijakan, bahkan khutbah keagamaan. Ia menjadi bahasa baru yang harus dikuasai, sebuah kerangka berpikir yang diterima hampir tanpa jeda untuk bertanya.

Ada sesuatu yang bergerak di balik itu semua—jejaring lembaga internasional, rekomendasi global, dan aliran pendanaan yang mengalir bersama narasi tertentu. Bukan berarti narasi itu sepenuhnya keliru. Tetapi ia jarang hadir bersama pertanyaan yang lebih dalam: bagaimana posisi kita dalam peta besar itu? Apakah kita hanya penerima konsep, ataukah juga penafsir yang berdaulat atas realitas kita sendiri?

Di sinilah ingatan menjadi penting. Ingatan tentang hutan-hutan yang dulu lebih lebat, tentang sungai yang dulu bisa diminum tanpa rasa takut, tentang tanah yang dulu memberi tanpa harus dipaksa. Ingatan itu bukan data statistik, tetapi pengalaman hidup yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Seorang petani di lereng gunung mungkin tidak pernah membaca laporan ilmiah global. Tetapi ia tahu kapan musim berubah terlalu cepat. Ia tahu kapan tanah menjadi keras, atau air menjadi terlalu sedikit atau terlalu banyak. Pengetahuannya tidak tertulis dalam jurnal Q1, tetapi ia hidup dalam keseharian—dalam keputusan kecil tentang kapan menanam dan kapan menunggu.

Maka, persoalannya bukan lagi tentang benar atau salahnya perubahan iklim sebagai konsep global. Pertanyaan yang lebih mendesak justru berada di sini: bagaimana kita membaca kerusakan yang sudah nyata di depan mata?
Karena di negeri ini, kerusakan lingkungan bukan lagi kemungkinan.

Ia telah menjadi kenyataan yang berulang. Banjir yang datang lebih sering, longsor yang memutus jalan dan kehidupan, udara yang semakin sulit dibedakan dari kabut. Semua itu bukan sekadar efek dari fenomena global, tetapi juga akibat dari keputusan-keputusan lokal—tentang bagaimana kita memperlakukan tanah, hutan, dan air.

Ada semacam ironi yang pelan-pelan mengendap. Ketika dunia sibuk memperdebatkan definisi dan model, kita justru hidup di dalam akibatnya. Tetapi alih-alih memulai dari pengalaman sendiri, kita sering memilih meminjam bahasa orang lain untuk menjelaskan luka kita sendiri.

Bisa jadi letak kegelisahannya bukan pada istilah “perubahan iklim” itu sendiri, tetapi pada cara kita menghadapinya—apakah sebagai subjek yang memahami, atau sekadar objek yang mengikuti.

Dan waktu, seperti biasa, tidak menunggu sampai kita selesai berdebat. Ia terus berjalan, membawa serta kemungkinan-kemungkinan yang belum kita pahami sepenuhnya.

Di antara suara seminar, laporan, dan kebijakan, ada suara lain yang lebih pelan—suara tanah yang retak, air yang naik, dan hutan yang hilang sedikit demi sedikit. Suara itu tidak berdebat. Ia hanya mengingatkan.

 

Tags: Catatan Toto RahardjoMakin Tahu Indonesia
Previous Post

7 Experience di Game Roblox yang Populer dan Seru Untuk Dimainkan

BERITA MENARIK LAINNYA

Batu Bara dan Piring Kosong
Cecurhatan

Batu Bara dan Piring Kosong

28/04/2026
Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 
Cecurhatan

Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

27/04/2026
Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)
Cecurhatan

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026

Anyar Nabs

Perubahan Iklim dan Kita Terlambat Lagi

Perubahan Iklim dan Kita Terlambat Lagi

30/04/2026
7 Experience di Game Roblox yang Populer dan Seru Untuk Dimainkan

7 Experience di Game Roblox yang Populer dan Seru Untuk Dimainkan

29/04/2026
Batu Bara dan Piring Kosong

Batu Bara dan Piring Kosong

28/04/2026
Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

27/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: