Khat Kufi adalah geometri suci yang menjadi visualisasi firman, mengingatkan bahwa semesta alam ini pun tersusun dalam hitungan dan ukuran yang presisi.
MUSEUM SENI ISLAM Doha, Qatar. Anda berkunjung ke Doha, Qatar? Jangan lupa berkunjung ke Museum Seni Islam di kota itu. Museum yang dirancang Ioh Ming Pei, seorang arsitek internasional kondang asal Cina ini terkenal indah, mewah, dan megah. Jika kita mengunjunginya, di museum yang cantik dan indah itu, di sebuah ruangan sunyi, tersimpan sebuah lempengan batu dari abad ke-8. Usianya sekitar 1.300 tahun.
Debu-debu gurun masih melekat di pori-porinya. Di permukaannya terukir sebuah ayat dari Surah Al-Ikhlash, ditulis dengan gaya yang asing bagi mata modern: huruf-huruf tegak menjulang seperti tiang-tiang kecil, tanpa titik, tanpa harakat, tanpa lekuk yang memanjakan.
Suatu ketika, seorang pengunjung asal Jepang berkunjung ke museum itu dan melihat lempengan itu. Melihatnya, ia berhenti lama di depannya. Padahal, ia tidak mampu membaca sepatah kata pun yang terpahat di lempemgan itu. Namun, matanya membelalak. Jemarinya menelusuri kaca etalase, seolah ingin meraba garis-garis itu. Selama sekitar sepuluh menit ia diam. Lalu, ia bergumam dalam bahasa yang tidak dimengerti siapapun di ruangan itu.

Apa yang membuat pengunjung Jepang itu terpana?
Ya, terpana. Bukan pada maknanya, karena ia tak paham. Bukan usianya, karena ia pernah melihat barang yang lebih tua di museum Kyoto. Namun, ada sesuatu yang lain: keheningan yang terpancar dari aksara itu. Garis-garis yang tidak berteriak. Tidak merayu. Tidak memohon untuk dibaca. Ia hanya tegak. Diam. Abadi.
Itulah khat Kufi: aksara tertua dalam kaligrafi Islam. Malah, khat yang lahir sebelum Islam tanpa memiliki nama. Khat yang menuliskan firman Allah Swt. ketika kertas belum dikenal. Dan, kini, menjadi warisan diam: tak pernah bicara, namun tak pernah padam.
Lahir Sebelum Namanya Ada
Sejatinya, ada misteri yang mengelilingi kelahiran khat Kufi. Ia seperti bayi yang lahir di tengah badai. Namun, namanya baru diberikan selepas badai reda. Para sejarawan seiring pendapat, leluhur khat Kufi telah ada di Jazirah Arab setidaknya 100 tahun sebelum kota Kufah didirikan. Ia disebut dengan berbagai nama: khat Hiri, khat Anbari, atau khat Hijazi, dinamakan menurut tempat-tempat di mana ia digunakan.
Bangsa Nabatea, saudagar gurun pasir yang membangun kota batu Petra di Yordania, adalah salah satu nenek moyangnya. Mereka menulis dengan aksara yang masih kaku, masih sederhana, namun sudah mengandung benih-benih geometri yang kelak menjadi ciri khas khat Kufi.
Ketika Islam lahir di awal abad ke-7, aksara ini dipanggil untuk melaksanakan tugas yang tak pernah dibayangkan para pendahulunya. Ketika wahyu turun dan harus ditulis, para sahabat Nabi Saw. mencatatnya di media apa pun yang tersedia: pelepah kurma, tulang belulang unta, kepingan batu, atau kulit kayu. Gaya tulisannya pun masih sangat sederhana. Para sejarawan menyebutnya khat Makki dan khat Madani, atau secara kolektif khat Hijazi.
Namun, ketika Islam kian meluas, keperluan akan aksara yang lebih terstandarisasi muncul. Usman bin Affan pun memerintahkan pengumpulan dan penyeragaman Al-Quran. Mushaf-mushaf pertama ditulis dengan gaya tulis yang kelak dikenal sebagai Kufi Mashafi: Kufi versi mushaf. Dan ketika kota Kufah didirikan di Irak dan kemudian tumbuh menjadi pusat ilmu dan peradaban, aksara ini akhirnya mendapatkan nama yang melekat hingga kini: Khat Kufi.
Ironisnya, namanya diambil dari kota yang belum lahir ketika ia sendiri sudah ada. Ini, seperti seorang anak yang diberi nama menurut rumah yang akan ditinggalinya kelak.
Khat Kufi dan Para Penjaga Peradaban
Kini, apa yang membuat khat Kufi begitu Istimewa, sehingga ia dipilih untuk menuliskan firman Allah Swt. selama berabad-abad?
Kini, silakan tatap sebuah karya khat Kufi klasik: huruf-hurufnya berdiri tegak lurus bagaikan pasukan yang siap berperang. Garis-garis vertikalnya panjang menjulang. Sedangkan garis-garis horizontalnya membentang luas. Tiada lekuk genit. Tiada lengkung manja. Semua tegas. Jujur. Apa adanya. Perlu dikemukakan, dalam tradisi kaligrafi Islam, keindahan tidak selalu identik dengan kelenturan. Kadang, justru dalam ketegasanlah keagungan bersemayam.
Para sejarawan mencatat, pada masa Dinasti Umawiyah-kurang dari seratus tahun setelah kelahirannya-khat Kufi telah berkembang menjadi sekitar 50 jenis varian. Bayangkan, dalam satu abad, sebuah aksara melahirkan lima puluh keturunan dengan wajah yang beraneka ragam.
Dari kekayaan itu, para pakar menggolongkan khat Kufi ke dalam tiga rupa utama:
Pertama, Khat Kufi Sederhana (Al-Kûfî Al-Basîth). Ini adalah wajah asli khat Kufi, sebelum ia bersolek dengan hiasan. Huruf-hurufnya telanjang tanpa ornamen dan tegak tanpa kompromi. Ia adalah aksara yang berpuasa: menolak segala perhiasan duniawi agar yang tersisa hanya esensi. Dalam bentuk inilah ayat-ayat Al-Quran pertama kali diabadikan.
Kedua, Kufi Berhias (Al-Kûfî Al-Muzahhir). Jika yang pertama adalah seorang pertapa, maka Khat Kufi Berhias adalah pensyair yang mencintai keindahan. Di sela-sela huruf, tumbuh dedaunan menjalar. Sulur-sulur meliuk lembut. Bunga-bunga merekah di antara garis. Para kaligrafer menambahkan ornamen flora bukan sekadar untuk hiasan. Namun, sebagai representasi surga yang dijanjikan: taman abadi yang tumbuh dari firman Allah Swt. Di dinding-dinding Masjid Agung Kairouan di Tunisia, Khat Kufi Berhias masih dapat disaksikan hingga kini, menceritakan tentang keindahan yang tak lapuk dimakan zaman.
Ketiga, Kufi Geometris (Al-Kûfî Al-Handasî). Inilah mahakarya matematika dan spiritualitas yang berpelukan. Huruf-hurufnya membentuk kotak, persegi panjang, bintang, malah pola-pola rumit yang memenuhi ruang. Dalam gaya khat Kûfî Murabba‘ (Kufi Persegi) atau Kûfî Banna’i, sebuah kata dapat dibaca dari berbagai arah, berulang-ulang dalam susunan bata yang membentuk menara atau dinding masjid. Di Iran, kadang seluruh bangunan dihiasi jubin yang membentuk nama-nama suci-Allah, Muhammad, Ali-dalam pola geometris yang memukau.
Di sinilah letak keunikan Khat Kufi Geometris: ia tidak lagi sekadar aksara yang dibaca. Namun, ia telah menjadi arsitektur yang dihuni. Ia adalah geometri suci yang menjadi visualisasi firman, mengingatkan bahwa semesta alam ini pun tersusun dalam hitungan dan ukuran yang presisi.
Di sisi lain, dalam perjalanan sejarah, khat Kufi tidak hanya menjadi saksi bisu, namun juga aktor utama dalam berbagai peristiwa besar.
Pada masa Dinasti Abbasiyah, khat Kufi mencapai puncak keemasannya. Kala itu, Baghdad, sebagai pusat peradaban dunia, menjadi laboratorium raksasa bagi perkembangan kaligrafi. Mushaf-mushaf ditulis dengan tinta emas di atas perkamen biru, menggunakan khat Kufi yang kian rumit dan indah. Para penguasa berlomba-lomba memiliki mushaf terindah, dan para kaligrafer Kufi menjadi selebriti zamannya. Namun ironi terjadi: kian indah ia dihias, kian sulit ia dibaca.
Pada abad ke-11, khat Kufi mulai ditinggalkan sebagai aksara fungsional untuk menulis Al-Quran. Adik-adiknya-Tsuluts, Naskhi, Muhaqqaq-yang lebih lentur dan mudah dibaca, mengambil alih tugas utama. Namun, khat Kufi tidak mati. Ia hanya naik pangkat. Ia pensiun dari urusan sehari-hari, namun diangkat menjadi perhiasan abadi. Pada koin-koin emas Dinasti Saljuk, pada batu nisan para sultan Turki Usmani, pada dinding-dinding masjid dari Samarkand hingga Andalusia: khat Kufi tetap hadir. Bukan lagi untuk dibaca cepat-cepat, namun untuk direnungkan perlahan-lahan.
Di Afrika Utara, khat Kufi bertransformasi menjadi Khat Maghribi dan Andalusi: versi yang kurang kaku, dengan lengkungan yang lebih ramah, seperti ombak Atlantik yang membelai pantai Cordoba. Di Persia, ia beradaptasi dengan selera lokal, melahirkan gaya-gaya baru yang memengaruhi perkembangan kaligrafi di wilayah timur.
Dapat dikatakan, setiap dinasti, setiap kerajaan, setiap peradaban yang memeluk Islam, entah di Timur atau Barat, selalu kembali kepada khat Kufi ketika mereka ingin membangun sesuatu yang abadi.
Menyeberang ke Dunia Kristen
Salah satu babak paling menakjubkan dalam perjalanan khat Kufi adalah ketika ia menyeberangi batas peradaban dan memikat hati Eropa Kristen.
Pada Masa Pertengahan, para pedagang Venesia dan Genova pulang dari pelabuhan-pelabuhan Levant membawa lebih dari sekadar rempah dan sutra. Mereka membawa serta kain-kain bermotif khat Kufi, keramik berinskrip khat Kufi, dan barang-barang mewah lainnya. Para bangsawan Eropa terpesona pada keindahan garis-garis ini-meski mereka tak mengerti sepatah kata pun artinya. Maka, lahirlah apa yang oleh sejarawan seni disebut Pseudo-Kufi atau Kufesque.
Dalam lukisan-lukisan Renaisans, terutama yang bertema religi, khat Kufi muncul sebagai elemen dekoratif yang tak terduga. Misalnya, karya Giotto, Gentile da Fabriano, atau para pelukis Siena abad ke-14 dan ke-15. Di lingkaran cahaya Bunda Maria, di jubah para rasul, di ornamen arsitektur dalam lukisan, di sanalah khat Kufi hadir. Atau setidaknya tiruannya. Rosamond Mack, dalam bukunya Bazaar to Piazza, menulis, “Tiruan Arab dalam seni lukis Eropa lazimnya disebut pseudo-Kufi, meminjam istilah yang digunakan pada skrip Arab yang menonjolkan tulisan lurus dan berbucu, dan paling kerap digunakan sebagai hiasan dalam arsitektur Islam.”
Para pelukis Eropa tidak mengerti apa yang mereka tulis. Mereka hanya melihat keindahan abstrak dalam garis-garis tegak khat Kufi dan mereka jatuh cinta padanya. Sebuah ironi manis: aksara yang lahir untuk menuliskan wahyu Islam, tanpa sadar menjadi ornamen suci bagi para Madonna. Di sinilah letak universalitas khat Kufi: ia mampu berbicara dalam bahasa yang melampaui kata-kata. Ia cukup hadir dan hati akan mengenalinya.
Mengapa khat Kufi bertahan? Mengapa aksara “kaku” ini justru dianggap paling agung?
Yaqut Al-Musta‘shimi, seorang kaligrafer legendaris abad ke-13 yang selamat dari serangan Mongol ke Baghdad, menulis sebuah kalimat yang menjadi filosofi abadi kaligrafi Islam, “Al-khaththu handasatun rûhâniyyatun zhaharat bi âlatin jasmâniyyatin (kaligrafi adalah geometri spiritual yang diekspresikan melalui alat jasmani).”
Dalam khat Kufi, geometri dan spiritualitas bertaut sempurna. Garis-garis tegaknya adalah disiplin seorang hamba. Bentuk geometrisnya adalah pengakuan bahwa semesta alam ini tersusun dalam hitungan dan ukuran yang presisi. Sedangkan hiasan dedaunannya adalah pengingat surga yang dijanjikan.
Khat Kufi mengajarkan bahwa keindahan tidak selalu harus melengkung dan lembut. Ada keagungan dalam ketegasan. Ada kedalaman dalam kesederhanaan. Ia adalah aksara yang tidak berteriak, namun membuat siapa pun yang memandangnya bergumam pelan. Juga, ia adalah aksara yang tidak memanjakan mata. Ia menantang kita untuk diam, menunduk, dan benar-benar melihat. Bukan sekadar membaca!







