Gen Z dibilang generasi yang mudah kabur. Dari kantor. Dari hubungan. Dari komitmen. Tapi mungkin yang sebenarnya terjadi jauh lebih dalam dari sekadar itu.
Data LinkedIn Talent Trends (2024) mencatat sesuatu yang tidak mengejutkan tapi tetap bikin dahi berkerut. Gen Z adalah generasi dengan tingkat turnover tertinggi di dunia kerja. Rata-rata mereka bertahan kurang dari dua tahun di satu perusahaan, dan alasan terbesarnya bukan gaji, tapi work-life balance dan lingkungan kerja yang tidak sehat.
Di permukaan, ini terdengar seperti generasi yang manja. Tidak tahan banting. Kurang loyal. Tapi tunggu dulu. Bukankah pola yang sama juga terjadi di hubungan mereka? Situationship yang cepat ditinggalkan ketika mulai tidak jelas. Komitmen yang dihindari karena takut salah pilih. Orang yang di-ghosting sebelum sempat benar-benar dikenal.
Ternyata bukan soal karir atau cinta. Ini soal pola. Dan pola itu punya akar yang jauh lebih dalam dari sekadar generasi lemah.
Pola Lama yang Dibawa ke Meja Kerja
John Bowlby, psikolog yang merumuskan Attachment Theory, menemukan sesuatu yang sederhana tapi mengubah cara kita memahami manusia: bahwa cara kita berhubungan dengan orang-orang pertama dalam hidup kita membentuk template relasi yang kita bawa ke mana-mana ke hubungan romantis, ke pertemanan, bahkan ke meja kerja.
Mary Ainsworth, yang melanjutkan riset Bowlby, mengidentifikasi tiga pola kelekatan utama. Di antaranya adalah:
Secure attachment, mereka yang tumbuh dalam lingkungan yang responsif dan konsisten, cenderung nyaman dalam hubungan yang dekat dan mampu mengomunikasikan kebutuhan mereka dengan jelas.
Anxious attachment, mereka yang tumbuh dalam lingkungan yang tidak konsisten, cenderung overthinking, takut ditinggalkan, dan butuh validasi terus-menerus.
Avoidant attachment, mereka yang belajar sejak kecil bahwa mendekat berarti berpotensi terluka, sehingga menarik diri menjadi mekanisme bertahan yang paling aman.
Yang menarik dan yang sering terlewat dalam diskusi soal Gen Z di dunia kerja adalah bahwa ketiga pola ini tidak berhenti bekerja ketika seseorang masuk kantor.
Gen Z dengan anxious attachment akan overthinking setiap kali atasan tidak membalas pesannya dalam sejam. Merasa tidak dihargai ketika tidak dipuji secara eksplisit. Burnout bukan karena beban kerjanya berat, tapi karena energinya habis untuk menafsirkan sinyal-sinyal yang tidak jelas.
Gen Z dengan avoidant attachment akan menarik diri ketika hubungan dengan atasan atau tim mulai terasa terlalu intens. Lebih nyaman kerja sendiri. Canggung dalam rapat yang terlalu emosional. Dan ketika tekanan terasa terlalu besar mereka tidak meledak. Mereka pergi. Diam-diam. Tanpa banyak penjelasan.
Bukan manja. Bukan tidak profesional. Tapi pola lama yang belum selesai diproses yang sekarang sedang bekerja di lingkungan yang sama sekali tidak dirancang untuk memahaminya.
Kerja Itu Layaknya Hubungan dan Kamu Bisa Terjebak Situationship di Kantor Juga
Pernah merasa begini di tempat kerja: nyaman, tapi tidak berkembang. Rekan kerja asyik, tapi kerjaan bikin burnout tiap hari. Bertahan, tapi tidak tahu sampai kapan dan untuk apa. Kalau pernah selamat, kamu baru saja mendeskripsikan situationship versi karir.
Sama persis dengan hubungan yang tidak punya status jelas, pekerjaan seperti ini menguras energi bukan karena terlalu berat, tapi karena tidak ada kepastian ke mana arahnya. Tidak ada career path yang transparan. Tidak ada percakapan jujur soal ekspektasi. Tidak ada ruang untuk bertanya tanpa dianggap tidak bersyukur.
Dan bagi Gen Z yang punya anxious attachment, ketidakjelasan ini adalah siksaan tersendiri. Setiap sinyal ambigu dari atasan ditafsirkan sebagai ancaman. Setiap perubahan kebijakan mendadak terasa seperti pengkhianatan. Energi yang seharusnya dipakai untuk bekerja justru habis untuk menebak-nebak.
Sementara yang punya avoidant attachment meresponsnya dengan cara berbeda bukan dengan cemas, tapi dengan jarak. Semakin tidak jelas, semakin mereka mundur. Dan ketika mundur tidak lagi cukup, mereka keluar. Bukan karena mereka tidak peduli. Justru karena mereka sudah terlalu lelah peduli di tempat yang tidak pernah memberi kepastian.
Resign Impulsif Bukan Sebuah Jawaban
Di sinilah masalahnya. Sama seperti ghosting yang tidak menyelesaikan masalah komunikasi dalam hubungan, resign mendadak juga tidak otomatis membawa ke tempat yang lebih baik.
Avoidant attachment yang tidak disadari akan membuat seseorang terus mengulang pola yang sama pergi ketika hubungan mulai dalam, resign ketika tekanan mulai terasa. Kantor baru, masalah lama. Orang baru, luka lama.
Ada tiga alasan resign yang perlu dipertimbangkan ulang sebelum surat pengunduran diri itu dikirim:
1. Resign karena FOMO
Lihat teman pindah kerja dengan gaji dua kali lipat, langsung merasa tertinggal. Padahal karir itu personal. Jalur orang lain belum tentu cocok dengan kepribadian dan ritme kerjamu. Anxious attachment sangat rentan dengan jebakan ini keputusan yang didorong rasa takut tertinggal, bukan visi yang jelas ke depan.
2. Resign karena emosi sesaat
Habis diomelin atasan, langsung buka LinkedIn dan update open to work. Keputusan yang dibuat di puncak emosi jarang menghasilkan tempat yang benar-benar lebih baik. Seringnya hanya membawa pola yang sama ke kantor baru dengan wajah berbeda namun ritme yang tak jauh beda, bahkan buruknya lebih menyengsarakan.
3. Resign karena belum coba bicara
Ini yang paling sering terlewat. Banyak konflik di kantor sebenarnya bisa diselesaikan kalau kita mau dan berani mengomunikasikannya. Si Koleris yang terkesan galak itu? Dia hanya ingin output yang jelas, bukan drama. Si Melankolis yang tampak dingin dan perfeksionis itu? Dia butuh waktu untuk memproses bukan tekanan untuk segera responsif.
Masalah bukan selalu orangnya. Kadang kita hanya belum belajar cara membaca ritme kepribadian mereka. Dan avoidant attachment membuat kita menarik diri sebelum percakapan itu sempat terjadi.
Kapan Resign Itu Memang Tepat?
Tapi bukan berarti bertahan di tempat yang salah adalah keberanian. Bowlby sendiri menegaskan bahwa secure attachment bukan berarti tidak pernah pergi ia berarti tahu kapan harus bertahan dan kapan harus melepaskan, berdasarkan penilaian yang jernih, bukan reaksi yang impulsif.
Ada momen di mana resign memang keputusan paling sehat dan membedakannya dari sekadar pelarian membutuhkan kejujuran yang tidak semua orang mau lakukan:
1. Ketika skill-mu sudah stagnan dan tidak ada ruang berkembang meski sudah dicoba dari dalam sudah dikomunikasikan, sudah diusahakan, tapi jalannya memang tetertutup.
2. Ketika lingkungan kerjanya benar-benar toxic, bukan sekadar tidak nyaman, tapi sudah merusak kesehatan mental secara konsisten dan sistematis.
3. Ketika beban kerja tidak sebanding dengan apresiasi dan kompensasi, dan sudah dikomunikasikan tapi tidak ada perubahan yang nyata.
4. Ketika ada peluang yang lebih baik bukan karena FOMO, tapi karena sudah dipertimbangkan matang dari sisi growth, lingkungan, dan nilai yang ditawarkan.
Kalau keempat poin itu sudah diceklis, kamu sudah punya pekerjaan pengganti atau tabungan yang cukup, dan keputusan itu lahir dari kejernihan bukan kelelahan sesaat maka resign bukan pelarian. Itu keputusan strategis yang lahir dari kesadaran diri yang sehat.
Yang Sebenarnya Dicari Gen Z
Kalau kita tarik benang merahnya, Gen Z sebenarnya tidak sedang mencari tempat yang sempurna. Tidak di kantor, tidak dalam hubungan. Yang mereka cari adalah secure base, lingkungan yang cukup aman untuk menjadi diri sendiri, cukup stabil untuk mengambil risiko, dan cukup responsif untuk dipercaya. Dulu secure base itu adalah orang tua. Sekarang, tanpa sadar, mereka mencarinya di tempat kerja dan dalam hubungan.
Atasan yang paham bahwa cara kerja berbeda bukan berarti malas. Rekan yang mengerti bahwa diam bukan berarti tidak peduli. Pasangan yang tahu bahwa butuh ruang bukan berarti tidak sayang. Ketika tidak menemukan itu, mereka pergi. Bukan karena lemah. Tapi karena mereka sudah cukup paham diri sendiri untuk tahu: bertahan di tempat yang tidak mau memahami, hanyalah kelelahan yang ditunda.
Dan mungkin, sebelum kita cepat-cepat menghakimi Gen Z yang mudah resign atau mudah ghosting, da satu pertanyaan yang lebih penting untuk kita jawab lebih dulu: Sudahkah kita benar-benar menjadi secure base bagi mereka?








