Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Kebangkitan Nasional dan Bunyi Notifikasi

Redaksi by Redaksi
20/05/2026
in Cecurhatan
Kebangkitan Nasional dan Bunyi Notifikasi

Hari Kebangkitan Nasional 2026

Kadang, kebangkitan dimulai dari hal sederhana: membaca lebih lama, mendengar lebih tenang, dan tidak mengukur harga diri dari jumlah penonton story.

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa ini memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Sebuah tanggal yang lahir dari berdirinya Budi Utomo pada tahun 1908; sebuah organisasi yang oleh banyak sejarawan dianggap sebagai titik awal kesadaran nasional Indonesia modern.

Tetapi menariknya, bangsa ini tampaknya selalu suka kata “bangkit”. Bangun pagi susah, tapi jargon “bangkit” mudah sekali diucapkan. Bangkit ekonomi. Bangkit UMKM. Bangkit sepak bola. Bangkit habis putus cinta. Kadang yang belum bangkit cuma cucian di ember belakang rumah.

Hari Kebangkitan Nasional 2026

Di sinilah Hari Kebangkitan Nasional menjadi menarik untuk direnungkan: jangan-jangan bangsa ini terlalu sering menggunakan kata “bangkit”, sampai lupa kapan terakhir benar-benar terjaga.

Dulu, para pelajar STOVIA mendiskusikan masa depan bangsa di ruang-ruang belajar. Mereka sadar bahwa penjajahan bukan hanya soal senapan, tetapi juga soal cara berpikir. Maka kebangkitan dimulai dari kesadaran. Dari pikiran. Dari pendidikan. Dari keberanian mengatakan: “kita ini satu nasib.”

Hari ini, kita hidup di zaman yang berbeda. Penjajahan mungkin tidak lagi datang dengan kapal perang, melainkan lewat layar enam inci yang membuat manusia bisa lupa waktu, lupa tetangga, bahkan lupa naruh kunci motor.

Ironisnya, manusia modern begitu mudah tersambung dengan WiFi, tetapi sulit tersambung dengan dirinya sendiri.
Kita tahu trending topic dunia, tapi tidak tahu nama ketua RT. Kita hafal diskon tanggal kembar, tapi lupa kapan terakhir membaca buku sampai selesai,  tanpa membuka notifikasi ponsel.

Kadang bangsa ini seperti sedang mengalami “kemerdekaan kuota”, tetapi belum tentu kemerdekaan berpikir. Padahal makna kebangkitan tidak selalu harus heroik. Kebangkitan bisa berarti keberanian untuk tidak ikut-ikutan membenci. Keberanian untuk tetap waras di tengah keributan digital. Keberanian untuk membaca lebih dalam, sebelum marah lebih cepat.

Karena hari ini, banyak orang merasa paling nasionalis hanya karena huruf kapitalnya besar saat berdebat di media sosial. Di titik tertentu, nasionalisme kita sering berubah seperti kolom komentar: ramai, cepat panas, lalu lupa substansi.

Mungkin karena itu, Soekarno pernah menjadikan momentum kebangkitan nasional sebagai simbol persatuan bangsa di tengah situasi politik yang terpecah selepas kemerdekaan.

Artinya, kebangkitan sejati bukan sekadar berdiri melawan penjajah, tetapi juga kemampuan menjaga persatuan ketika ego masing-masing mulai merasa paling benar.

Dan di tengah semua itu, ada satu hal yang sering dilupakan: bangsa ini sebenarnya dibangun oleh orang-orang yang mau berpikir jauh, bukan hanya berbicara keras. Mereka menanam gagasan seperti petani menanam padi: sunyi, telaten, dan tidak sibuk membuat konten “daily routine pejuang bangsa”.

Hari Kebangkitan Nasional akhirnya bukan hanya soal mengenang masa lalu, tetapi bertanya pada diri sendiri: apakah kita benar-benar sedang bergerak maju, atau hanya sibuk bergerak cepat? Karena tidak semua yang viral itu vital. Dan tidak semua yang ramai itu hidup.

Kadang kebangkitan dimulai dari hal sederhana: membaca lebih lama, mendengar lebih tenang, dan tidak mengukur harga diri dari centang biru atau jumlah penonton story. Bangsa yang besar bukan bangsa yang paling berisik. Melainkan bangsa yang tetap berpikir jernih meski dunia sedang gemar gaduh.

Selamat Hari Kebangkitan Nasional.
Semoga yang bangkit bukan hanya alarm pagi, tetapi juga kesadaran kita sebagai manusia.

Tags: Esai JurnabaHari Kebangkitan Nasional 2026Makin Tahu Indonesia
Previous Post

Tangan yang Dipotong, Jiwa yang Diselamatkan: Hikmah Humor dan Pencurian (16)

Next Post

Kesehatan: Equilibrium Inovasi dan Kebijaksanaan

BERITA MENARIK LAINNYA

Reformasi, Konstitusi, dan Kampus yang Terlalu Percaya Diri
Cecurhatan

Reformasi, Konstitusi, dan Kampus yang Terlalu Percaya Diri

22/08/2026
Ketika MBG Berhitung Cuan, Hak Perempuan Menanti Perhatian
Cecurhatan

Ketika MBG Berhitung Cuan, Hak Perempuan Menanti Perhatian

20/08/2026
Nina: Nyanyian Anak Muda yang Tak Takut Tampak Biasa
Cecurhatan

Nina: Nyanyian Anak Muda yang Tak Takut Tampak Biasa

20/08/2026

Anyar Nabs

Quo Vadis NU Pasca Muktamar ke-35, Membaca Nahdlatul Ulama Hari Ini

Quo Vadis NU Pasca Muktamar ke-35, Membaca Nahdlatul Ulama Hari Ini

23/08/2026
Reformasi, Konstitusi, dan Kampus yang Terlalu Percaya Diri

Reformasi, Konstitusi, dan Kampus yang Terlalu Percaya Diri

22/08/2026
PMII Bojonegoro Soroti Kelangkaan Sapi Siap Potong

PMII Bojonegoro Soroti Kelangkaan Sapi Siap Potong

21/08/2026
Ketika MBG Berhitung Cuan, Hak Perempuan Menanti Perhatian

Ketika MBG Berhitung Cuan, Hak Perempuan Menanti Perhatian

20/08/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: