Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Nina: Nyanyian Anak Muda yang Tak Takut Tampak Biasa

A Ni'mal Muqtafa by A Ni'mal Muqtafa
20/08/2026
in Cecurhatan
Nina: Nyanyian Anak Muda yang Tak Takut Tampak Biasa

Ilustrasi

Ada generasi yang tak lagi memuja sorot panggung, namun justru menemukan dirinya di balik mesin kasir, di jok motor kurir, di bilik dapur warung kopi, di atas lantai gedung yang kotor untuk dibersihkan, sampai di keramaian pasar kala fajar.

Mereka mungkin tidak dielu-elukan, namun setiap langkahnya merupakan syair sunyi yang tak butuh tepuk tangan. Di telapak tangan mereka, peluh berubah menjadi lirik; sederhana tapi jujur.

Lagu Nina dari .feast menjadi saksi. Tak sekadar mereka dengar dari Spotify yang tak premium—ingin beli premium, tapi sayang uangnya, apalagi untuk melihat konser .feast—lagu itu cukup menggema jujur dalam batin mereka. Dan itu cukup.

“Saat aku tertidur, aku pergi menghibur.” Saat dunia dipenuhi sorotan palsu dan ekspektasi sosial, lirik tersebut seperti bisikan dari mereka yang hidupnya bergerak di jam-jam ketika kebanyakan anak muda lain beristirahat. Anak muda yang bekerja malam atau mengambil shift tambahan tak sedang mencari sensasi.

Mereka yang tampak takut justru terbiasa dengan hilir mudik dalam senyap, membawa peluh bukan untuk dipamerkan, namun untuk memastikan bahwa hidup harus tetap dijalani. Pergi menghibur bukan berarti tawa, musik maupun keramaian, melainkan tentang menghibur diri dari kekurangan dan tuntutan hidup. Mereka tak diberi panggung, namun tanpa mereka panggung kehidupan tak akan pernah berdiri.

Nina bukan sekadar lagu, tapi simbol kasih yang diam-diam melekat di kepala saat lelah menggantung pada tulang. Lagu yang tenang, namun juga menggigit nurani bahwa tak semua anak muda mengejar kilau. Sebagian mereka menambal kebutuhan hidup yang tak pernah diliput media.

Di mata sebagian orang, mereka mungkin biasa saja. Tapi justru di situ letak keberaniannya: mereka tak menutup peluh dengan topeng pencitraan. Mereka membiarkan lelah berbicara, karena mengerti bahwa kerja keras adalah sebuah puisi. Mereka bukan barisan pecundang. Mereka adalah anak muda yang tak membuktikan diri lewat kata, tapi lewat kerja.

Ada seseorang yang dikenal. Setiap kali mengingatnya, aroma subuh selalu ikut terbayang. Ia berjualan ayam potong. Bukan karena tak punya mimpi, tapi karena tahu mimpi tak akan tumbuh tanpa biaya. Pukul tiga pagi, ketika sebagian orang masih berselimut mimpi, ia sudah pergi ke pasar dengan mata yang belum sempat pulih dari lelah semalam.

Persaingan pasar begitu ketat; ada yang lebih tua, lebih berpengalaman, lebih kuat dalam tawar-menawar harga. Namun ia tetap datang, menata dagangannya tanpa banyak suara. Seakan peluhnya sudah terbiasa berbicara terlebih dahulu.

Semua itu dilakukan bukan supaya terlihat hebat, bukan untuk mendapatkan tepuk tangan, melainkan untuk memastikan dapur tetap menyala dan biaya kuliah tak terputus. Di tangannya, setiap potongan ayam bukanlah barang jualan, namun bentuk kasih kepada keluarga dan tekad pada diri sendiri.

Ia mungkin tak pernah tampil di feed media sosial, tak pernah disebut inspiratif oleh siapa pun. Tapi setiap langkahnya menuju pasar sebelum fajar merupakan syair paling jujur: bahwa harga diri kadang lahir dari jalan yang tak disorot lampu, namun harus tetap diperjuangkan dengan kepala tegak.

Ada pula kisah kawanku yang satu ini. Dulu bahkan ia tak berani bermimpi lebih jauh. Bukan karena tak ingin kuliah, tapi karena biaya terasa seperti tembok yang terlalu tinggi untuk dipanjat. Saat teman-temannya sibuk membayangkan kampus dan toga, ia justru memutar otak agar dapur tetap berisi. Ia pernah berjualan seblak di pinggir jalan, kepanasan oleh kompor dan cibiran.

Ia ikut bekerja di warung makan, mencuci piring sampai larut, menahan lenguh sambil tetap tersenyum pada pelanggan. Lalu hidup membawanya ke puskesmas, bukan sebagai tenaga kesehatan, tapi sebagai tukang bersih-bersih. Membersihkan lantai, mengepel lorong, membuang sampah, menyeka kaca yang tak pernah mengingat namanya.

Namun pelan-pelan, tabungannya tumbuh dari sisa uang yang tak seberapa. Ia menabung bukan dengan keyakinan penuh, tapi dengan doa yang tak pernah putus. Dan alhamdulillah, ia akhirnya berani mendaftarkan diri untuk kuliah, bukan karena keadaannya sudah longgar, tapi karena hatinya sudah mantap. Yang lebih menakjubkan, setelah bertahun-tahun bekerja dalam diam, ia diterima sebagai pegawai tetap di puskesmas yang dulu hanya mengenalnya sebagai sosok yang membawa sapu dan pel.

Masih teringat apa yang diucapkannya kepadaku, “tanpa kami, semua akan kotor,” sambil tertawa lepas tanpa beban. Ia tidak pernah minta dikasihani, tidak pernah minta dipuji. Ia hanya berpegang pada keyakinan bahwa peluh tak pernah mengkhianati ikhtiar.

Ada juga temanku yang lain, yang menjahit mimpinya di sela-sela waktu sempit. Ia kuliah bukan dengan mengandalkan biaya dari orang tua, tapi dengan tenaga dan napasnya sendiri. Siang ia belajar, sore ia mengajar anak-anak di bimbel dekat rumah. Kadang malam ia masih memberi les privat, menyusuri gang demi gang hanya dengan tas lusuh dan setumpuk modul fotokopian.

Di hari lainnya, ia menjadi guru honorer di sekolah yang gajinya bahkan tak cukup untuk membayar total bahan bakar kendaraannya sebulan. Tapi ia bertahan, bukan karena hidupnya mudah, melainkan karena ia tahu ilmunya tak boleh terhenti hanya karena keadaan.

Ia tidak pernah merasa rendah saat harus berdiri di depan kelas dengan pakaian sederhana dan sepatu yang solnya mulai terbuka. Ia tertawa bersama murid-muridnya, menyimpan lelah di balik papan tulis, dan menyambung biaya kuliah dari honor yang kadang terlambat turun.

Sambil mengajar, ia menabung keyakinan: bahwa panggung perjuangan berarti tidak selalu harus dilihat. Cukup dijalani dengan hati yang tak menyerah. Tak berhenti sampai di situ. Ada juga seorang temanku yang dulu bercita-cita menjadi tentara.

Ia sudah menempuh pendidikan militer, menjalani disiplin yang keras, dan menahan rindu pada rumah demi menyongsong masa depan yang ia impikan sendiri. Namun takdir memintanya pulang lebih cepat dari yang direncanakan.

Orang tuanya jatuh sakit, dan tak ada siapa pun yang bisa merawat selain dirinya. Tanpa banyak bicara, ia melepaskan seragam dan kembali ke rumah. Bukan karena kalah, tapi karena kasih sayangnya lebih besar dari mimpinya sendiri.

Sejak itu, hidupnya berubah arah. Ia tak lagi bangun pagi untuk apel, tapi untuk menyiapkan obat dan sarapan orang yang membesarkannya. Ia mengganti langkah tegap di lapangan dengan langkah pelan di lorong rumah sakit. Ia bekerja serabutan, menjaga malam, dan tetap menjaga senyum agar orang tuanya tak merasa menjadi beban. Keputusan itu mungkin membuat sebagian orang mengira ia menyerah.

Padahal sesungguhnya ia memilih bentuk lain dari keberanian: mendahulukan manusia yang mencintainya sejak lahir.
Pada akhirnya, cerita-cerita mereka, adalah wajah lain dari lirik Nina yang tidak dinyanyikan dengan mulut, melainkan dijalani dengan tubuh. Lagu itu mungkin tidak menyebut mereka satu per satu, tapi nadanya terasa jelas: ada generasi yang hidup bukan untuk dipuji, melainkan untuk bertahan dengan martabat.

Nina berbicara tentang peluh yang lahir dari tekanan hidup, tentang anak muda yang dituntut kuat sejak dini, tentang mereka yang bekerja bukan karena hobi, tapi karena tak punya kemewahan untuk diam. Dan nyatanya, mereka ada di sekeliling kita: dalam wujud teman, saudara, atau diri kita sendiri.

Mereka yang kerja dini hari, mencuci piring, mengajar anak tetangga, menyeka lantai puskesmas, atau memendam cita-cita demi keluarga. Merekalah barisan sunyi yang diam-diam menjaga hidup tetap berjalan.

Di tengah dunia yang sering menyamakan kebahagiaan dengan sorotan dan pencapaian glamor, mereka memilih jalan yang tak banyak diperhatikan: jalan peluh, jalan sabar, jalan yang tampak biasa. Tapi justru di sanalah letak harga diri yang paling jujur.

Mereka tidak menunggu panggung untuk disebut hebat, karena hidup mereka sendiri sudah menjadi lagu. Dan lagu itu, tanpa sadar, adalah nyanyian yang selama ini dibawakan .feast bertajuk Nina: getir, tapi tegar. Sunyi, tapi nyata. Tidak gemerlap, tapi penuh arti.

Aku tahu kamu hebat
Tuk selalu jauhkanmu dari dunia yang jahat
Ini sumpahku padamu tuk biarkanmu tumbuh lebih baik.
Sehat-sehat, generasiku.

Tags: .feastIndiePemuda yang Tak Takut Tampak BiasaTafsir Lirik
Previous Post

Dialektika Meja Makan: Dari Rindu Kampung Halaman hingga Over Klaim Kota Kelahiran

Next Post

Ketika MBG Berhitung Cuan, Hak Perempuan Menanti Perhatian

BERITA MENARIK LAINNYA

Ketika MBG Berhitung Cuan, Hak Perempuan Menanti Perhatian
Cecurhatan

Ketika MBG Berhitung Cuan, Hak Perempuan Menanti Perhatian

20/08/2026
Dialektika Meja Makan: Dari Rindu Kampung Halaman hingga Over Klaim Kota Kelahiran
Cecurhatan

Dialektika Meja Makan: Dari Rindu Kampung Halaman hingga Over Klaim Kota Kelahiran

19/08/2026
Tanah, Ingatan, dan Pekerjaan Rumah yang Tak Kunjung Selesai
Cecurhatan

Tanah, Ingatan, dan Pekerjaan Rumah yang Tak Kunjung Selesai

15/08/2026

Anyar Nabs

Ketika MBG Berhitung Cuan, Hak Perempuan Menanti Perhatian

Ketika MBG Berhitung Cuan, Hak Perempuan Menanti Perhatian

20/08/2026
Nina: Nyanyian Anak Muda yang Tak Takut Tampak Biasa

Nina: Nyanyian Anak Muda yang Tak Takut Tampak Biasa

20/08/2026
Dialektika Meja Makan: Dari Rindu Kampung Halaman hingga Over Klaim Kota Kelahiran

Dialektika Meja Makan: Dari Rindu Kampung Halaman hingga Over Klaim Kota Kelahiran

19/08/2026
Merchandise Sosial: Kepentingan Kapital di Balik Fanatisme dan Rivalitas

Merchandise Sosial: Kepentingan Kapital di Balik Fanatisme dan Rivalitas

18/08/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: