Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Mencuri Melalui Cahaya, Riwayat Maling Cluring: Hikmah Humor dan Pencurian (17)

Alfi Saifullah by Alfi Saifullah
26/05/2026
in Cecurhatan
Mencuri Melalui Cahaya, Riwayat Maling Cluring: Hikmah Humor dan Pencurian (17)

Hikmah Humor dan Pencurian (Jurnaba)

Jika anda pergi ke Jombang, jangan hanya terpaku pada hamparan tebu atau aroma pesantren saja. Dus, bergeserlah sedikit ke utara, ke Gunung Pucangan. Di gunung yang terletak di sekitar Kecamatan Kudu dan Ngusikan ini, akan anda temukan berbagai situs sejarah, termasuk Situs Gua Made. Sebuah gua yang dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai tempat persembunyian seorang lelaki yang ‘konon’ lebih licin dari seekor belut.

Orang-orang menyebutnya Maling Cluring. Namun, ia bukan seperti pencuri ayam yang lari tunggang-langgang dikejar warga. Tidak. Maling Cluring adalah sebuah paradoks—ia pejahat sekaligus pahlawan, luka sekaligus obat, terutama bagi rakyat kecil. Rakyat jelata.

Kisah petualangan Maling Cluring tidak muncul dari ruang kosong, bermula ketika Kolonialisme Belanda sedang rakus-rakusnya. Di Karesidenan Surabaya, kompeni dan para konglomerat bermulut minyak itu menarik pajak dengan semena-mena. Hasil bumi dirampas. Bahkan, untuk makan nasi dari gabah yang ditanam sendiri pun, rakyat harus menebusnya dengan harga yang tak masuk akal.

Di tengah sesak napas kemiskinan itu, Cluring muncul sebagai jawaban yang kasar. Ia merampok rumah-rumah gedongan di Surabaya, membawa lari emas dan perhiasan, lalu menyebarkannya di depan pintu bambu para janda, anak yatim, dan petani yang sawahnya kering kerontang. Ia tidak mencuri harta; Cluring hanya mencuri harapan yang sebelumnya dirampas penjajah.

Kelihaian Maling Cluring melepaskan diri dari kejaran laksana sihir. Ia bisa menyelinap masuk ke rumah melalui sorot lampu minyak yang mengintip dari celah dinding. Tubuhnya seolah bisa mengkerut, menjadi setipis bayangan. Ketika dikepung, ia akan hilang tanpa bekas, bak sebatang jarum yang menyusup di tengah tumpukan jerami padi—ada, tapi tak bisa ditemukan.

Para pengejarnya dari empat penjuru mata angin seringkali dibuat melongo. Suatu malam, di wilayah Kecamatan Ngoro, Jombang, terjadilah sebuah peristiwa yang kini abadi menjadi nama sebuah tempat. Saat itu, Maling Cluring terdesak. Untuk mematikan pencahayaan para pengejarnya, ia melakukan hal yang tak terduga.

Konon, di sana ada sebuah batu yang dapat menyinari cahaya terang laksana bintang jatuh (yang kemudian dikenal sebagai Dusun Watulintang). Dalam pelariannya, Cluring yang terdesak kemudian mengencingi batu itu. Seketika, cahaya magis Watulintang padam. Dunia menjadi gelap gulita bak liang kubur. Di sanalah ia ndelik—bersembunyi. Sejak hari itu, tempat persembunyiannya dinamakan Dusun Delik (dari kata Ndelik yang berarti bersembunyi), yang kini menjadi bagian dari Desa Kesamben. Sebuah monumen atas kelicikan sekaligus keberuntungannya.

Dalam sebuah aksinya, Maling Cluring pernah dikejar-kejar oleh serdadu Belanda. Maling Cluring berlari sekuat tenaga, melompati semak dan parit dengan napas yang mulai tersengal. Ia terdesak, langkahnya buntu tepat di depan sebuah kolam ikan lele yang keruh. Tak ada pilihan lain. Sambil membungkuk di tepi air, ia berbisik cepat, “Wahai ikan lele, sembunyikan aku. Jika aku selamat, kalian adalah saudaraku.”

Seolah mengerti, ribuan ikan lele di kolam itu mendadak bergerak ke permukaan, menciptakan lapisan hitam yang pekat. Cluring segera menceburkan diri, membenamkan seluruh tubuhnya di bawah gerombolan ikan yang licin.

Beberapa saat kemudian, rombongan serdadu Belanda sampai di tepi kolam. Mereka mengarahkan obor ke air, namun yang terlihat hanyalah permukaan kolam yang tenang dan penuh ikan lele yang berenang kesana-kemari. “Tidak ada siapa-siapa di sini, hanya kolam amis!” umpat salah satu serdadu. Mereka pun pergi meninggalkan tempat itu untuk menyisir di tempat lain.

Setelah suasana aman, Cluring muncul dari permukaan dengan tubuh penuh lumpur. Sambil mengusap wajahnya, ia menatap kolam dengan rasa hormat yang mendalam. Di bawah saksikan rembulan, ia berikrar: “Mulai hari ini, aku dan seluruh keturunanku hingga tujuh turunan, diharamkan memakan ikan lele. Siapa pun darah dagingku yang melanggar, biarlah musibah dan bala menjadi bayarannya.” Sejak saat itu, sumpah tersebut menjadi kutukan sekaligus penghormatan bagi keluarga Maling Cluring terhadap sang penyelamat tak bersisik itu.

Dus, alasan sesungguhnya Belanda begitu membencinya bukan hanya karena ia pandai bersembunyi. Ia punya sesuatu yang lebih mengerikan, Ajian Rawa Rontek. Sebuah ilmu kadigdayan yang membuatnya berani menertawakan maut. Maling Cluring menjadi pewaris sah Resi Subali dan Rahwana.

Berkali-kali tertangkap dan ditembak Belanda, berkali-kali itu pula Maling Cluring hidup kembali begitu tubuhnya menyentuh tanah. Selama raganya tetap menyatu dengan bumi, nyawanya seolah tak punya pintu keluar. Daya magis Rawarontek bergetar, membelah Sang Bhuana:

Sirning manjing, slirane limput liwung ingsun urip tan keno ing pati. Langgeng tan keno rusak, Kakang Kawah, Adi Ari-ari, Ponang Getih, Puser, Pancer, Mar lan Marti. Kunir welet rewangono aku, bopo Guru kesonggo Ibu Pertiwi, gemacar bintang kerlap-kerlip langgeng tan keno pati.

“Lenyaplah diri meraga sukma, melingkupi semesta; akulah Sang Hidup yang tak tersentuh oleh kematian. Kekal tiada binasa, wahai Kakanda Kawah dan Adinda Ari-ari, Sang Darah dan Sang Pusar, serta Engkau Sang Pusat yang sejati; Mar dan Marti, hadirah menyertaiku. Duhai kekuatan Kunir Welet yang tersembunyi, bantulah aku. Di bawah naungan Bapa Langit dan dekapan Ibu Pertiwi, kepingan cahaya berpijar laksana bintang gemintang; abadi dan takkan terjamah Sang Maut”

Dalam Riwayat yang beredar, Gua Made di Gunung Pucangan menjadi saksi bisu betapa seringnya Maling Cluring meloloskan diri dari kepungan senapan kompeni. Belanda mulai putus asa. Sayembara dengan hadiah emas pun digelar untuk siapa saja yang tahu cara mengakhiri riwayat sang pencuri budiman ini. Seperti setiap legenda di Bumi Jawa, selalu memiliki titik balik dan anti kilmaks yang menyedihkan. Seorang pengkhianat yang haus upeti membocorkan rahasia besar: Maling Cluring hanya bisa mati jika tubuhnya dipotong dan dipisahkan oleh aliran air sungai.

Rencana licik itu dijalankan dengan cermat oleh Belanda dan beberapa pendekar pribumi. Dengan bantuan para pengkhianat yang mengenal medan, sang legenda akhirnya terjebak. Maling Cluring tidak melawan, ia tahu bahwa perannya telah usai. Di hari yang nahas itu, Maling Cluring akhirnya tertangkap.

Atas perintah opsir Belanda, tubuhnya dipenggal. Sebelum ia sempat menyentuh tanah untuk bangkit lagi, tubuhnya dipenggal menjadi tiga bagian. Pemisahan itu dilakukan secara brutal dan abadi. Bagian Kakinya dikubur jauh di Surabaya, di daerah Jalan Kenjeran, tepat di belakang pabrik kabel. Bagian Tubuhnya dikubur di kampung Rangkah VI, Gang Jarak Polo. Kedua bagian ini dipisahkan oleh aliran Kali Kedung Cowek, agar kekuatan Rawa Ronteknya padam selamanya. Sementara itu, Bagian Kepalanya menghilang tanpa jejak. Tidak ada yang tahu di mana kepala sang legenda itu dikuburkan, hingga kini tetap menjadi misteri yang tersimpan rapat oleh sejarah.

Kini, kisah Maling Cluring diingat sebagai sosok yang berani mengambil risiko demi kemanusiaan. Kesaktiannya bukan terletak pada kemampuannya menghilang, atau Aji Rawarontek, melainkan pada ketidakmampuannya untuk membiarkan ketidakadilan lewat begitu saja, tanpa perlawanan. Wallahu a’lam.

Tags: Hikmah HumorHikmah Santri
Previous Post

Antiklin Dandangilo: Lipatan Tektonik dan Jejak Rembesan Minyak Dangkal

BERITA MENARIK LAINNYA

Antiklin Dandangilo: Lipatan Tektonik dan Jejak Rembesan Minyak Dangkal
Cecurhatan

Antiklin Dandangilo: Lipatan Tektonik dan Jejak Rembesan Minyak Dangkal

25/05/2026
Saat Bumi Terluka, Tubuh Ikut Merasakannya
Cecurhatan

Saat Bumi Terluka, Tubuh Ikut Merasakannya

24/05/2026
Percakapan di Tengah Hujan dengan Ivan Illich
Cecurhatan

Percakapan di Tengah Hujan dengan Ivan Illich

23/05/2026

Anyar Nabs

Mencuri Melalui Cahaya, Riwayat Maling Cluring: Hikmah Humor dan Pencurian (17)

Mencuri Melalui Cahaya, Riwayat Maling Cluring: Hikmah Humor dan Pencurian (17)

26/05/2026
Antiklin Dandangilo: Lipatan Tektonik dan Jejak Rembesan Minyak Dangkal

Antiklin Dandangilo: Lipatan Tektonik dan Jejak Rembesan Minyak Dangkal

25/05/2026
Saat Bumi Terluka, Tubuh Ikut Merasakannya

Saat Bumi Terluka, Tubuh Ikut Merasakannya

24/05/2026
Bojonegoro History Gelar Diskusi Ekspedisi Naga Api sebagai Upaya Penguatan Literasi Geopark Bojonegoro

Bojonegoro History Gelar Diskusi Ekspedisi Naga Api sebagai Upaya Penguatan Literasi Geopark Bojonegoro

24/05/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: