Taman Lokomotif Bojonegoro pada Minggu (12/7/2026) sore dipenuhi beragam aktivitas belajar yang akrab dan terbuka. Dalam rangkaian Pekan Melawan, Kelas Jalanan hadirkan lapak buku, lapak zine, baca poster, gambar bersama, hingga diskusi publik bertajuk Lokalogi: Mendekatkan yang Dijauhkan.
Kegiatan yang dimulai pukul 15.00 WIB itu diikuti sekitar 17 peserta dari berbagai komunitas, di antaranya P2J, Germula, SP, Book Party, AJI Bojonegoro, serta masyarakat umum. Diskusi dipandu dengan suasana santai melalui model jagongan bersama.
Periset Jurnaba, Wahyu Rizki, mengawali pemaparannya dengan mengajak peserta mempertanyakan arah pendidikan yang selama ini lebih banyak mengenalkan hal-hal yang jauh dibandingkan lingkungan terdekat. Menurutnya, pelajar sering kali mengenal luar angkasa sebelum mengenal halaman rumah sendiri.
Para pelajar saat ini bisa hafal nama benua, gunung, atau negara lain, tetapi tidak mengetahui asal-usul nama kampung, sejarah daerah, maupun kebudayaan yang tumbuh di sekitarnya. Dari kegelisahan itulah gagasan lokalogi lahir.
“Lokalogi menjadikan kearifan lokal sebagai subjek pengetahuan, bukan sekadar pelengkap muatan lokal. Pengetahuan yang hidup di masyarakat memiliki kedudukan yang setara dengan disiplin ilmu lain dan berhak menjelaskan dirinya sendiri,” ujar Rizki.
Ia menjelaskan bahwa lokalogi juga menjadi bagian dari upaya dekolonisasi pengetahuan. Selama ini, kearifan lokal kerap diposisikan hanya sebagai objek penelitian dari sudut pandang luar. Melalui lokalogi, masyarakat justru menjadi pemilik sekaligus penutur utama atas pengetahuan yang mereka warisi.
Rizki kemudian memberi contoh bagaimana pengetahuan lokal sering kali telah hidup jauh sebelum ditulis dalam buku-buku modern. Ia menyinggung buku The Hidden Life of Trees karya Peter Wohlleben yang menjelaskan bagaimana pohon-pohon saling berkomunikasi dan membangun hubungan di dalam hutan. Menurutnya, pengetahuan semacam itu sesungguhnya juga telah lama dimiliki masyarakat lokal di berbagai daerah, hanya saja belum banyak didokumentasikan dalam bentuk tulisan.

Ia mencontohkan masyarakat di Kecamatan Sekar, Bojonegoro, yang hidup di kawasan pegunungan. Mereka memiliki pengetahuan turun-temurun untuk mengenali perubahan musim melalui tanda-tanda yang diberikan pepohonan, termasuk dengan mengamati kondisi daun-daun tertentu. Pengetahuan semacam itu lahir dari pengalaman panjang hidup berdampingan dengan alam dan diwariskan antargenerasi, meski sering kali tidak dianggap sebagai ilmu pengetahuan.
Dalam pemaparannya, Rizki juga menyinggung karakter masyarakat Bojonegoro yang menurutnya memiliki DNA egaliter. Hal itu dapat dilihat dari bahasa sehari-hari masyarakat Bengawan yang tidak mengenal tingkatan tutur seketat tradisi Jawa keraton.
Bojonegoro, menurutnya, tidak sepenuhnya mewarisi budaya pesisir laut yang keras, tetapi juga bukan budaya keraton yang sangat berjenjang. Posisi Bojonegoro sebagai wilayah Bengawan menjadikannya berada di tengah-tengah dengan karakter yang lebih wasathiyah, terbuka, dan egaliter. Budaya masyarakat pesisir sungai tumbuh dengan relasi yang lebih setara tanpa menonjolkan sekat kasta.
Semangat egaliter itu, lanjut Rizki, juga tercermin dalam sejarah perlawanan masyarakat Bojonegoro. Salah satunya dapat dilihat dari gerakan Samin yang memilih melawan penjajahan dengan menolak membayar pajak. Sayangnya, menurut dia, warisan nilai tersebut kini lebih sering dipromosikan sebagai objek wisata daripada dipahami sebagai gagasan perlawanan dan kemandirian masyarakat.
Pandangan serupa disampaikan Ika. Ia menilai pengetahuan lokal tidak hanya berbicara tentang sejarah atau tradisi, melainkan juga cara hidup masyarakat, pola interaksi, hingga kebiasaan berkumpul yang tumbuh di setiap daerah.
“Setiap wilayah memiliki bahasa, kuliner, cara hidup, dan nilai yang berbeda. Papua, Sulawesi, Kalimantan, Jawa, semuanya memiliki kekhasan masing-masing. Keragaman itu tidak harus diseragamkan,” ujarnya.
Menurutnya, pengetahuan lokal justru mengajarkan cara memahami kehidupan masyarakat dari dalam, bukan memaksakan satu cara pandang yang sama untuk seluruh daerah.
Yana Dwi menuturkan, Kelas Jalanan dihadirkan sebagai ruang belajar alternatif yang memberi tempat bagi pengalaman-pengalaman yang selama ini kerap terpinggirkan dari ruang pendidikan formal. Menurutnya, tema-tema yang dibahas tidak ditentukan secara sepihak, melainkan disusun berdasarkan kesepakatan dan kebutuhan peserta sehingga persoalan yang diangkat selalu dekat dengan kehidupan sehari-hari maupun isu-isu publik yang sedang berkembang.
“Kelas Jalanan kami harapkan menjadi ruang saling belajar, saling menyapa, dan saling mengenal satu sama lain. Semoga semakin banyak orang yang merasa memiliki ruang ini dan berani berbagi pengalaman maupun pengetahuannya,” ujar Yana.
Ia berharap Kelas Jalanan dapat terus menjangkau lebih banyak kalangan, sekaligus menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan warga dari berbagai latar belakang untuk bertukar gagasan, pengalaman, dan pengetahuan secara setara.
Melalui rangkaian kegiatan Pekan Melawan, Kelas Jalanan berupaya menghadirkan ruang belajar yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Lapak buku, lapak zine, baca poster, aktivitas menggambar, hingga diskusi menjadi cara sederhana untuk mengajak masyarakat kembali mengenali kampungnya sendiri, merawat ingatan kolektif, dan menempatkan pengetahuan lokal sebagai bagian penting dalam proses belajar.








