Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Percakapan di Tepi Kolam Bersama Mbah Moedjair

Toto Rahardjo by Toto Rahardjo
27/05/2026
in Cecurhatan
Percakapan di Tepi Kolam Bersama Mbah Moedjair

Percakapan dengan Mbah Moedjair (Jurnaba)

“Jika suatu hari anak-anak Indonesia makan ikan tanpa kelaparan, jangan ingat nama saya. Ingat saja alam selalu memberi jalan bagi orang yang mau belajar darinya”.

Sore itu angin dari selatan berhembus pelan. Langit mendung tipis menggantung di atas kolam sederhana di pinggir kampung. Airnya tenang, hanya sesekali beriak oleh gerakan ikan-ikan kecil yang muncul ke permukaan.

Di pematang kolam, saya duduk bersama Mbah Moedjair. Sarungnya dilipat sampai lutut. Tangannya kasar seperti akar pohon yang lama hidup menghadapi musim. Beliau memandangi air cukup lama sebelum bicara.

“Dulu orang-orang tidak percaya ikan itu bisa hidup di kolam begini,” katanya pelan. Saya menatap wajahnya yang teduh. “Waktu pertama kali menemukan ikan mujair itu bagaimana, Mbah?” Beliau tersenyum kecil.

“Awalnya saya cuma nelayan biasa. Melihat ikan kecil di perairan payau dekat pantai selatan. Saya perhatikan ikan itu kuat sekali. Cepat berkembang biak. Saya lalu berpikir… bagaimana kalau dibawa ke air tawar?”

“Orang-orang langsung mendukung?” Mbah Moedjair tertawa pendek. “Tidak. Banyak yang bilang saya aneh. Mana mungkin ikan dari dekat laut bisa dipelihara di kolam kampung.” Beliau mengambil segenggam tanah di pematang, lalu meremasnya perlahan.

“Tapi kadang pengetahuan lahir bukan dari sekolah tinggi. Kadang dari kesabaran memperhatikan kehidupan.” Saya diam mendengarkan suara air. “Mbah sebenarnya sedang melakukan riset rakyat,” kata saya.

Beliau mengangguk. “Petani, nelayan, tukang kayu, penggembala… mereka semua peneliti kalau mau sungguh-sungguh melihat alam.” Seekor ikan meloncat kecil. “Mbah sadar tidak,” saya melanjutkan, “hari ini ikan mujair sudah jadi makanan sehari-hari jutaan orang Indonesia?”

Beliau tampak terkejut kecil, seolah tidak pernah membayangkan sejauh itu. “Benarkah?” “Di warung pecel lele, di rumah-rumah sederhana, di kolam desa, di tambak sekolah, bahkan jadi sumber penghasilan banyak keluarga.”

Beliau menunduk lama. “Berarti ikan itu sudah berjalan lebih jauh daripada hidup saya sendiri.” Kami kembali terdiam. Di kejauhan terdengar suara anak-anak bermain. Bau kayu bakar bercampur aroma lumpur kolam.

“Mbah,” saya bertanya lagi, “apa yang paling penting dari penemuan mujair?” Beliau menjawab tanpa tergesa. “Bukan ikannya.” “Lalu?” “Keberanian mencoba sesuatu yang dianggap tidak mungkin.”

Kalimat itu terasa seperti batu kecil yang dilempar ke air tenang—riaknya melebar ke mana-mana. Beliau lalu menunjuk kolam. “Lihat air itu. Tenang. Tapi di bawahnya kehidupan bekerja terus.” Saya memandang permukaan kolam yang memantulkan langit senja.

“Mujair itu mengajarkan bahwa rakyat kecil sebenarnya punya kemampuan menciptakan perubahan besar. Asal mau telaten mengamati alam.” Saya mengangguk perlahan.

Hari itu saya merasa sedang berbicara bukan hanya dengan seorang nelayan, tetapi dengan seseorang yang menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan bisa lahir dari lumpur kolam, dari rasa ingin tahu, dan dari keberanian rakyat biasa untuk bereksperimen.

Sebelum senja habis, Mbah Moedjair berkata pelan: “Jika suatu hari anak-anak Indonesia makan ikan tanpa kelaparan, jangan ingat nama saya. Ingat saja bahwa alam selalu memberi jalan bagi orang yang mau belajar darinya.”

Tags: Catatan Toto RahardjoMakin Tahu IndonesiaMbah MoedjairPenemu Ikan Mujair
Previous Post

Abdulloh Umar: Idul Adha Momen Menyembelih Nafsu yang Paling Diam

Next Post

Aku dan Mimpiku yang Belum Selesai

BERITA MENARIK LAINNYA

Kenapa Kita Manut Sama Apa Saja: Dari Jurnal Tier Atas Sampai Jebakan Nalar Impor
Cecurhatan

Kenapa Kita Manut Sama Apa Saja: Dari Jurnal Tier Atas Sampai Jebakan Nalar Impor

15/10/2026
Menghayati Siklus Abadi Sungai Bengawan: Kemarau Tak Bisa Cebok, Penghujan Tak Bisa Jongkok
Cecurhatan

Menghayati Siklus Abadi Sungai Bengawan: Kemarau Tak Bisa Cebok, Penghujan Tak Bisa Jongkok

13/10/2026
Pria Menulis demi Membayar Tangis, Siasat Bertahan di Dunia yang Patriarkis
Cecurhatan

Pria Menulis demi Membayar Tangis, Siasat Bertahan di Dunia yang Patriarkis

12/10/2026

Anyar Nabs

Mengenang KH Ali Maksum, Kiai Egaliter dan Berwawasan Luas

Mengenang KH Ali Maksum, Kiai Egaliter dan Berwawasan Luas

17/10/2026
Festival Lantung Hadirkan Kesenian Lokal, UMKM Desa Ikut Bergeliat

Festival Lantung Hadirkan Kesenian Lokal, UMKM Desa Ikut Bergeliat

16/10/2026
Kedung Lantung Diresmikan: Merayakan Warisan Bumi, Menghidupkan Budaya

Kedung Lantung Diresmikan: Merayakan Warisan Bumi, Menghidupkan Budaya

16/10/2026
Camping Ground dan Sarasehan Budaya Ramaikan Festival Lantung

Camping Ground dan Sarasehan Budaya Ramaikan Festival Lantung

15/10/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: