“Jangan pernah patah meski kau sedang di bawah. Makin terbanting, makin melenting” (Komandan Bambang Pacul)
Ungkapan Komandan Pacul di atas, memang berusaha “membalsem” hati yang sedang patah. Penolakan cinta dan patah hati adalah perkara lumrah dan wajar bagi mereka yang sedang menempa mental, begitu kata Komandan Pacul.
Dan seorang pejuang memang harus pernah merasakan patah, terbanting, dan terkapar. Sebab kata dia, terbanting adalah proses untuk melenting. Terbanting adalah batu loncatan untuk memantul. Namun seheroik apapun kalimat itu, patah tetaplah patah.
Dalam waktu yang cukup panjang, aku pernah berjuang dengan sungguh-sungguh. Aku membawa harapan baru, menerima segala risiko yang mungkin datang, lalu memikirkan banyak cara agar terlihat pantas untuk memenangkan hatinya.
Aku menjaga sikap, menata diri, dan menjalani semuanya dengan antusias, lagi dan lagi. Di saat yang sama, aku juga masih mengejar mimpi yang bahkan belum bisa kutunjukkan kepada siapa pun. Belum ada hasil. Belum ada kabar baik. Bahkan belum ada cerita yang layak untuk kubanggakan.
Yang tersisa hanyalah aku, dan hari-hari yang terus berjalan, meski sering kali aku sendiri tidak yakin apakah langkah ini sudah benar. Dari luar, mungkin hidupku terlihat biasa saja. Tidak tampak sedang menang, juga tidak terlihat sedang berjuang terlalu keras.
Barangkali salahku adalah terlalu percaya pada perasaanku sendiri.
Aku begitu yakin, sampai lupa bahwa mungkin bagimu semua ini hanyalah permainan kecil yang tidak pernah benar-benar ingin kau seriuskan. Mungkin sejak awal memang hanya aku yang jatuh hati sendirian.
Kau tidak pernah benar-benar merasakan apa yang aku rasakan. Hingga akhirnya, perasaan yang kujaga sedemikian rupa itu kau anggap sekadar candaan, sesuatu yang tidak pernah ingin benar-benar kau terima.
Kadang aku berpikir, mungkin suatu hari nanti—jika aku berhasil menjadi sedikit lebih berharga—akan ada seseorang yang benar-benar menginginkanku.
Aku juga berharap, di kehidupan lain, aku bisa terlahir sebagai seseorang yang tidak terlalu penuh kekurangan dan aib. Dengan begitu, mungkin aku akan lebih pantas untuk dicintai seseorang yang memilih tetap tinggal sepanjang waktu.
Sebab cinta tidak serta-merta menciptakan rumah. Cinta harus dibangun perlahan, dengan hati-hati, oleh dua orang yang sama-sama punya niat untuk bertahan. Maka dusta rasanya jika ada yang berkata bahwa hubungan semestinya selalu mudah.
Aku sudah pernah gagal berkali-kali.
Karena itu, mungkin aku masih harus banyak memperbaiki diri; sebelum akhirnya benar-benar menemukan seseorang yang datang bukan untuk singgah, melainkan untuk menetap.








