Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) jadi tantangan besar dihadapi industri media saat ini. Hal itu dibahas dalam Media Workshop and Gathering (2026) diadakan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) di Jogyakarta (18/6/2026). Agenda bertajuk “Etika, Akurasi dan Inovasi Jurnalistik di Era Akal Imitasi” ini, dihadiri sejumlah jurnalis dari Bojonegoro dan Tuban.
Ukay Subqy, perwakilan EMCL yang menjadi moderator, membuka acara dengan sebuah cerita mengenai dampak AI bagi masyarakat luas. Selain memberi kemudahan dan percepatan gerak manusia, faktanya AI juga jadi penyebab terjadinya penipuan. Artinya, kemajuan teknologi dan disrupsi sosial ibarat dua sisi mata uang yang sama.
“Karena itu, harus disikapi secara bijak dan skeptis” ucap Ukay
Muhammad Jazuli, anggota Dewan Pers yang menjadi narasumber acara menyatakan, perubahan yang berlangsung sangat cepat menuntut insan pers untuk bersikap adaptif, tanpa meninggalkan etika dan prinsip-prinsip dasar jurnalistik. Menurut dia, sikap adaptif sekaligus skeptis terhadap AI, adalah piranti utama menghadapi AI.
“Sikap adaptif itu jadi penting di era AI saat ini” ujar Muhammad Jazuli.
Ketua Komisi Pengaduan dan Penegakan Etika Dewan Pers (2025–2028) itu menyampaikan, saat ini dunia media sedang mengalami perubahan besar akibat perkembangan Artificial Intelligence (AI). Industri Media, kata dia, dalam konteks ini menghadapi dua tantangan utama, yakni tantangan eksternal dan internal.
“Tantangan eksternal berasal dari perkembangan teknologi yang berdampak sangat besar terhadap industri media. Karena itu, media harus adaptif menghadapi perubahan yang luar biasa cepat ini” Tegasnya.
Lebih jauh Jazuli menjelaskan, di tingkat kebijakan, terdapat sejumlah lembaga yang turut berperan dalam pengaturan ekosistem media, seperti Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Kementerian Hukum (Kemenkum), serta Komisi I DPR RI. Sejauh ini, pihak Dewan Pers sudah melakukan komunikasi terhadap pihak-pihak itu, dalam rangka membuat kebijakan yang pro terhadap industri media.
Sementara dalam konteks tantangan internal, kata dia, industri Media, khususnya media arus utama, juga dihadapkan pada kompetisi yang semakin ketat dengan media sosial yang memiliki karakter dan regulasi berbeda. Perbedaan ini, kata dia, menimbulkan ketimpangan aturan antara media arus utama dan media sosial.
“Dalam hal media arus utama, produk jurnalistik benar-benar diatur secara ketat, sementara platform media sosial belum memiliki pengaturan yang setara”. Tegasnya.
Dari aspek bisnis, media arus utama juga menghadapi beban berbeda. Media harus membayar pajak, sementara media sosial (medsos) tidak. Ketika dua faktor ini bertemu, tentu media arus utama akan menghadapi ancaman serius. Tidak hanya itu. Tantangan internal selanjutnya adalah semakin jauhnya sebagian media dari khitah jurnalistik.
“Artinya, masih banyak media yang belum memenuhi standar kualitas yang semestinya,” pungkasnya.
Sementara itu, perwakilan EMCL, Rifqi Ramadhan dalam sambutannya mengatakan, kegiatan workshop ini jadi bukti komitmen kolaborasi pihak perusahaan dengan insan media. Menurutnya, kelancaran operasional EMCL tidak lepas dari komunikasi yang baik dengan para jurnalis, terutama dalam menyampaikan informasi kepada publik secara berimbang.
“Kami terus membersamai rekan-rekan media. EMCL dapat menjalankan produksi dengan lancar karena komunikasi yang terjalin dengan baik. Ada beberapa hal yang memang perlu dikonfirmasi, dan teman-teman media selama ini sangat kooperatif,” kata Rifqi.








