Guyub Dulu Skor Belakangan. Begitu tagline pertandingan fun footbal antara Media Bojonegoro vs Media Tuban. Sebuah tagline yang mengajarkan bahwa kadang, manusia butuh bertanding yang bukan demi kemenangan, tapi keceriaan.
Di tengah padatnya agenda Lokakarya Media 2026 diselenggarakan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) di Jogjakarta pada 17–19 Juni 2026, main bola suka-suka (fun football) tak hanya sekadar olahraga. Ia bukan lagi arena mengejar prestasi, melainkan ruang bagi orang dewasa untuk merawat persahabatan sekaligus jiwa kekanak-kanakan mereka.
Bermain di Stadion Yogyakarta International School (YIS), Media Bojonegoro dan Media Tuban saling jual beli serangan sejak awal. Kedua tim bermain “hidup-hidupan” demi memenangkan pertandingan. Bojonegoro berhasil memasukan gol terlebih dulu, meski setelah itu dibalas berkali-kali.
Membawa auman Persibo yang sudah jarang mengaum, awak Media Bojonegoro mampu menunjukan kekuatan, bahkan berkali-kali mengurung setengah lapangan. Namun counter attack dari awak Media Tuban kerap membuat mereka telat turun ke belakang, bahkan kelimpungan di tengah lapangan.
Bertanding di stadion standar FIFA, membuat awak media Bojonegoro mengeluarkan kekuatan ghaib yang selama ini jarang dikeluarkan. Pertandingan selama 3 babak x 30 menit ini, dimenangkan Media Bojonegoro dengan skor borongan: 6-4. Kemenangan yang jarang terjadi ini, memang bukti betapa pentingnya ukuran rumput lapangan.
“Rumputnya bagus. Jadi kita menang dengan skor telak dan banyak” ucap Aripin Jauhari, salah satu awak Media Bojonegoro.
Sejak jauh-jauh hari, Aripin sudah mempersiapkan diri demi pertandingan ini. Namun sial, begitu mendekati jam bertanding, dia malah memutuskan tidak ikut bertanding karena lebih memilih duduk di pinggir lapangan. Walhasil, Aripin memilih jadi tim sorak-poranda yang berada di pinggir lapangan. Dia juga cukup telaten mengamati rumput lapangan.
“Rumput yang bagus ternyata berdampak bagus bagi permainan teman-teman” ucap Aripin sambil mengamati rumput.
Berbeda dengan sepak bola kompetitif yang menempatkan kemenangan sebagai tujuan utama, fun football (bola suka-suka) menawarkan pengalaman sederhana, berkumpul dan menikmati permainan tanpa tekanan. Fun football mengembalikan jiwa manusia pada posisi yang paling dasar: individu yang saling membutuhkan.
Permainan ini mengajarkan tidak semua orang harus jadi pencetak gol. Ada yang berperan sebagai pengatur serangan, ada yang jaga pertahanan, ada yang membuka ruang bagi rekan, ada yang bagian menaruh kembang di gawang, bahkan ada yang mengkordinir bagian sorak-poranda.

Filosofi ini jadi pengingat, bahwa kehidupan pun berjalan demikian. Tidak semua orang ditakdirkan berada di garis depan. Ada peran-peran yang tidak terlihat, tetapi justru sangat menentukan keberhasilan.
Fun football juga mengajarkan cara menghadapi kegagalan. Salah mengoper bola, kehilangan momentum, atau gagal mencetak gol bukan akhir dari segalanya. Kesalahan-kesalahan itu seringkali disambut dengan tawa, bukan kemarahan.
Di tengah budaya yang kompetitif, kebiasaan ini menjadi pelajaran penting bahwa manusia tidak harus selalu sempurna. Ada ruang untuk salah, ada kesempatan untuk memperbaiki diri, dan ada kebebasan untuk menertawakan diri sendiri.
Skor pertandingan mungkin akan dilupakan. Begitu pula siapa yang menang dan siapa yang kalah. Namun, yang akan terus diingat adalah percakapan di pinggir lapangan, tawa yang muncul setelah pertandingan, dan kebersamaan yang terjalin tanpa syarat.
Sebab pada akhirnya, fun football mengajarkan satu hal sederhana: hidup tidak selalu harus dijalani sebagai perlombaan yang melelahkan. Sesekali, manusia perlu memberi dirinya sendiri kesempatan untuk bermain. Bukan demi kemenangan, melainkan demi keceriaan.








