Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Gunung dan Pendakian Cinta: Tafsir Humanistik Pernikahan ala Modin Jawa

Alfi Saifullah by Alfi Saifullah
19/06/2026
in Cecurhatan
Gunung dan Pendakian Cinta: Tafsir Humanistik Pernikahan ala Modin Jawa

Gunung dan Pendakian Cinta (Jurnaba)

Dalam perjalanan hidup ini, acapkali guru terbaik justru hadir dari tempat yang tak kita kira. Sebagian orang, ada yang belajar di kampus-kampus ternama atau di professor dan cendikiawan hebat. Tetapi bagi sebagian yang lain, termasuk saya, belajar dari sosok yang dalam Bahasa Jawa disebut gak ngawaki (tak terkira).

Sosok tersebut terbilang sederhana—mungkin, ia tidak pernah sekolah yang tinggi atau membaca berbagai literatur. Hanya sekadar belajar disurau dengan kitab pegon dasar sebagai acuannya. Ia hanyalah seorang Modin desa; pakdhe saya, Pak Modin Pair.

Lazimnya, seorang Modin dalam sistem kultural Jawa, mempunyai tugas yang tidak ringan. Mulai mengurusi pernikahan warga, urusan kematian, tahlil, pembagian waris, sengketa tanah, dan berbagai ritus kecil yang menjadi perekat kehidupan sosial di desa.

Dengan tugas yang demikian berat, seorang Modin hanya digaji dengan menggarap tanah bengkok milik desa selama ia menjabat posisi tersebut. Dalam konteks demikian, Pak Modin Pair bukanlah pejabat dalam arti yang sebenarnya. Ia hanyalah pejabat kultural khas pedesaan agraris di pedalaman Jawa.

Pun Pak Modin Pair bukanlah seorang motivator, psikolog, apalagi filsuf. Tidak. Jauh dari gambaran itu semua. Meskipun demikian, cara dia memandang hidup, dan cara ia menyampaikannya, dalam paradigma filosofi, sangatlah dalam, setidaknya menurut saya.

Setiapkali ada pasangan hendak menikah, ia selalu memberi dan mengucapkan nasihat yang sama, dengan intonasi yang sama, dan mungkin dengan kesabaran yang sama pula. Nasihat inilah yang hingga sekarang membekas dibenak saya karena seringnya diulang-ulang. Dalam Bahasa Jawa, ia acapkali berkata :

“Wong rabi iku koyo wong munggah gunung. Gunung kuwi, saka adohan disawang katon endah banget. Ananging, nalikane diparani, jebule ora podo karo nyatane. Ono watu, ono eri, ono parang lan halangan liyane. Nanging, kerono tekad e kepingin munggah gunung, kabeh mau kudu di liwati kelawan tekad kang kuat.”

Orang menikah itu di ibaratkan seperti menaiki gunung. Lazimnya sebuah gunung, dipandang dari kejauhan terlihat indah sekali. Akan tetapi, ketika didaki, tidak seperti kenyataannya. Ada batu-batu cadas, ada duri, ada parang, dan berbagai halangan lainnya. Namun, karena ingin mendaki gunung, semuanya itu harus dilalui dengan tekad yang kuat.

Jika saya telaah ulang, misalnya dengan perspektif manajemen,,nasihat itu sebenarnya sedang mengajarkan bahwa pernikahan adalah masa transisi dari zona nyaman ke zona tumbuh. Dari imajinasi menuju kenyataan. Dari ‘as is’ menuju ‘to be’.

Tepat seperti dikatakan psikolog Jerman—Kurt Lewin (1890-1947)—dalam model perubahan tiga tahapnya: unfreeze-change-refreeze. Sebelum menikah, segala sesuatu tampak indah—itulah fase unfreeze—ketika seseorang menggantungkan harapan dan imajinasi.

Lalu masuklah fase change: perubahan yang sebenarnya, yang berisi gesekan, adaptasi, dan realitas yang tak selalu manis. Di titik inilah pendakian dimulai. Dan ujung pendakian tersebut—refreez—pembekuan. Pembekuan diperlukan untuk menstabilkan perubahan yang terjadi agar permanen. Dalam Al-Quran (QS Ar-Rum: 21) kondisi permanen itu dinamakan sakinah mawaddah wa rahmah.

Mawaddah dan rahmah merupakan dua bentuk cinta yang bersifat dinamis. Mawaddah dekat pada gairah dan ketertarikan emosional, sementara rahmah merupakan cinta yang matang—tumbuh melalui pengalamann jatuh bangun. Pada titik ini, Al-Quran mengakui adanya dinamika naik turun dalam rumah tangga—seperti yang disitir Pak Modin Pair dengan metafor naik gunung.

Sebagai muslim Jawa, Pak Modin Pair menangkap fenomena rumah tangga secara intuitif. Gambaran ‘gunung yang cantik dari kejauhan’ dalam kearifan Jawa merupakan metafora tentang jarak.

Bahwa ketika jarak itu hilang, kita tidak lagi melihat indahnya semata, tetapi juga terdapat bebatuan, duri, dan berbagai rintangan lain yang harus dilewati. Manifestasi bebatuan dan duri dapat berupa ekonomi, komunikasi, perbedaan karakter, hingga persoalan sehari-hari yang tampak sepele.

Namun semua itu—kata Pak Modin Pair—harus dilalui dengan tekad yang kuat. Di sinilah relevansi agama hadir, bukan untuk ‘menghilangkan bebatuan’ melainkan memberi makna pada proses melaluinya.

Dengan tekad yang kuat, setiap individu pasti bisa melalui berbagai rintangan tersebut. Tekad (al-‘azm) bukanlah sekadar niat, tetapi keputusan sadar untuk terus bergerak meskipun jalannya menanjak. Tekad merupakan ‘energi rohaniah’ yang telah menggerakkan manusia dalam kehidupan di dunia ini, terutama dalam berumah tangga.

Dalam QS Al-Imran (3:159), Allah telah memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk fa-idza ‘azamta fatawakkal ‘alallah—jika engkau telah bertekad, bertawakallah kepada Allah.

Pernikahan memerlukan tekad karena ia bukan sekadar relasi dua individu, lebih dari itu, dua keluarga, dua tradisi, dan dua cara berfikir. Karenanya, rumah tangga menjadi semacam ‘laboratorium perjumpaan’—dan setiap perjumpaan pasti memerlukan keterbukaan hati agar perjumpaan tersebut bisa langgeng kedepannya.

Nasihat Pak Modin Pair juga telah mengingatkan bahwa pemandangan indah di puncak bukanlah tujuan akhir. Tujuan sejati adalah perjalanan itu sendiri. Betapa banyak pasangan yang bersikeras mempertahankan ‘puncak’ padahal setiap hari hidup mereka berada di ‘lereng’.

Jika hanya mengejar momen yang memesona, kita akan melewatkan keindahan kecil yang hadir di sepanjang jalan: menyiapkan teh pagi, tertawa bersama di atas tikar, bergurau dengan anak, memasak bersama atau sekadar saling memijit setelah hari yang panjang dan melelahkan.

Pada akhirnya, tidak ada gunung yang landai dari kaki hingga puncaknya. Demikian pula tidak ada rumah tangga yang lurus dari awal hingga akhir. Duri bukan untuk melukai, tetapi untuk mengasah kepekaan. Batu bukan untuk menghalangi, tetapi untuk menguatkan pijakan. Pernikahan merupakan proses pendakian panjang.

Ada yang berjalan cepat, ada yang berjalan lambat. Ada yang terjatuh, lalu bangkit. Ada yang tersesat sebentar, lalu menemukan jalannya kembali. Yang terpenting adalah melangkah bersama—bukan siapa yang dahulu sampai. Tidak. Dan semua pelajaran berharga ini telah dirangkum oleh seorang Modin bijak dari desa kecil di Jawa, yang bahkan tak pernah sekolah sekalipun.

Wallahu a’lam.

Tags: Cecurhatan JurnabaFilosofi JurnabaTips Jurnaba
Previous Post

Main Bola Suka-Suka: Merawat Persahabatan di Tengah Kejamnya Deadline

BERITA MENARIK LAINNYA

Main Bola Suka-Suka: Merawat Persahabatan di Tengah Kejamnya Deadline
Cecurhatan

Main Bola Suka-Suka: Merawat Persahabatan di Tengah Kejamnya Deadline

18/06/2026
Lokakarya Media 2026: Etika, Akurasi, dan Tantangan Industri Pers di Era AI
Cecurhatan

Lokakarya Media 2026: Etika, Akurasi, dan Tantangan Industri Pers di Era AI

18/06/2026
Isa: Perihal Hati yang Remuk di Padang Pasir, Hikmah Humor dan Pencurian (20)
Cecurhatan

Isa: Perihal Hati yang Remuk di Padang Pasir, Hikmah Humor dan Pencurian (20)

17/06/2026

Anyar Nabs

Gunung dan Pendakian Cinta: Tafsir Humanistik Pernikahan ala Modin Jawa

Gunung dan Pendakian Cinta: Tafsir Humanistik Pernikahan ala Modin Jawa

19/06/2026
Main Bola Suka-Suka: Merawat Persahabatan di Tengah Kejamnya Deadline

Main Bola Suka-Suka: Merawat Persahabatan di Tengah Kejamnya Deadline

18/06/2026
Lokakarya Media 2026: Etika, Akurasi, dan Tantangan Industri Pers di Era AI

Lokakarya Media 2026: Etika, Akurasi, dan Tantangan Industri Pers di Era AI

18/06/2026
Isa: Perihal Hati yang Remuk di Padang Pasir, Hikmah Humor dan Pencurian (20)

Isa: Perihal Hati yang Remuk di Padang Pasir, Hikmah Humor dan Pencurian (20)

17/06/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: