Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Voynich Manuscript: Kitab yang Menolak Dibaca Selama Enam Abad (Bagian 1)

Bakti Suryo by Bakti Suryo
04/07/2026
in Manuskrip
Voynich Manuscript: Kitab yang Menolak Dibaca Selama Enam Abad (Bagian 1)

Voynich Manuscript

Kabut tipis masih menyelimuti Kota Frascati, Italia, ketika seorang pedagang buku antik asal Polandia memasuki sebuah bangunan tua milik ordo Jesuit pada musim semi tahun 1912. Ruangan itu dipenuhi rak-rak kayu yang menua, sementara aroma kertas tua bercampur debu memenuhi udara. Di antara ratusan manuskrip yang tersimpan selama berabad-abad, perhatian pria bernama Wilfrid Michael Voynich itu tertuju pada sebuah buku berukuran sedang yang dibungkus kulit kusam.

Ketika sampulnya dibuka, halaman-halaman dari kulit hewan yang telah menguning memperlihatkan sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Deretan tulisan dengan alfabet asing memenuhi setiap lembar. Tidak satu pun hurufnya menyerupai alfabet Latin, Yunani, Arab, maupun Ibrani.

Di sela-sela teks muncul gambar tumbuhan yang tak dikenal, perempuan-perempuan telanjang berendam dalam jaringan pipa aneh, diagram astronomi, simbol zodiak, hingga ilustrasi biologis yang tampak melampaui zamannya. Voynich tidak sekadar menemukan sebuah buku kuno. Ia menemukan teka-teki terbesar dalam sejarah filologi modern.

Lebih dari satu abad kemudian, manuskrip itu tetap berdiri sebagai salah satu misteri paling rumit yang pernah dihadapi para sejarawan, ahli bahasa, kriptografer, matematikawan, bahkan kecerdasan buatan. Tidak ada seorang pun yang mampu memastikan siapa penulisnya, bahasa apa yang digunakan, apa tujuan penyusunannya, maupun bagaimana isi sebenarnya.

Ratusan penelitian telah diterbitkan. Ribuan hipotesis bermunculan. Namun hingga hari ini, tidak satu pun berhasil memperoleh konsensus ilmiah. Ironisnya, justru ketidakmampuan manusia membaca manuskrip itulah yang membuatnya menjadi salah satu dokumen paling terkenal dalam sejarah dunia.

Sebuah Manuskrip dari Awal Abad ke-15

Meski baru dikenal publik pada awal abad ke-20, usia Voynich Manuscript ternyata jauh lebih tua daripada dugaan para kolektor buku pada masa itu.

Perubahan besar dalam penelitian terjadi setelah para ilmuwan melakukan penanggalan radiokarbon terhadap lembaran vellum (kulit anak sapi) yang digunakan sebagai media tulis manuskrip tersebut. Hasil pengujian menunjukkan bahwa bahan manuskrip berasal dari rentang 1404 hingga 1438, menempatkan pembuatannya pada awal abad ke-15. Temuan ini secara efektif menggugurkan berbagai teori lama yang menyebut manuskrip tersebut merupakan pemalsuan dari abad ke-16 atau ke-17.

Kini diketahui bahwa naskah tersebut terdiri atas sekitar 240 halaman vellum. Meski begitu, sejumlah halaman diperkirakan telah hilang. Seluruh teks ditulis menggunakan tinta besi gal yang lazim dipakai di Eropa pada akhir Abad Pertengahan. Sementara itu, ilustrasinya diberi warna menggunakan pigmen mineral dan nabati yang juga sesuai dengan teknologi pewarnaan pada masa itu.

Namun, manuskrip itu tidak ada judul. Tidak ada nama penulis. Tidak ada tanggal penulisan. Tidak ada kolofon sebagaimana lazim ditemukan dalam manuskrip abad pertengahan. Justru ketiadaan identitas inilah yang menjadi awal dari seluruh misterinya.

Bahasa yang Tidak Pernah Dikenal

Sejak pertama kali dipelajari secara ilmiah, para peneliti segera menyadari bahwa tantangan terbesar bukanlah usia manuskrip, melainkan sistem tulisannya. Tulisan dalam Voynich Manuscript tidak cocok dengan satu pun sistem aksara yang pernah diketahui manusia. Para peneliti kemudian menyebutnya secara informal sebagai Voynichese, yaitu nama bagi alfabet misterius yang hanya ditemukan di dalam manuskrip tersebut.

Sepintas, aksara ini tampak ditulis dengan sangat rapi. Pola antarhuruf konsisten. Jarak antarbaris seragam. Tidak terlihat adanya coretan penghapusan sebagaimana lazim terjadi ketika seorang penulis melakukan kesalahan.

Fenomena ini segera memunculkan pertanyaan baru. Apakah penulisnya benar-benar memahami bahasa yang sedang ia tulis? Ataukah seluruh teks hanyalah rangkaian simbol acak yang sengaja dibuat menyerupai bahasa? Pertanyaan tersebut kemudian membelah dunia akademik menjadi dua kubu besar yang bertahan hingga sekarang.

Kelompok pertama meyakini bahwa Voynich Manuscript ditulis menggunakan bahasa alami, yang disandikan melalui sistem tulisan yang belum pernah dikenali. Kelompok kedua, beranggapan bahwa manuskrip itu hanyalah tipuan intelektual, sebuah karya palsu yang dirancang agar tampak ilmiah sehingga memiliki nilai ekonomi tinggi.

Stephen Bax, profesor linguistik terapan dari University of Bedfordshire, menilai bahwa hipotesis pemalsuan terlalu dini untuk diterima. Dalam kajiannya, ia menunjukkan bahwa karakteristik statistik naskah justru lebih mendekati bahasa alami daripada kumpulan simbol acak.

Bax juga berpendapat bahwa manuskrip kemungkinan merupakan sebuah risalah ilmiah. Risalah mengenai alam yang ditulis menggunakan sistem aksara untuk mewakili bahasa yang belum pernah memiliki tradisi tulis sebelumnya.  Pendapat Bax memperkuat kecenderungan sejumlah peneliti modern yang menolak menganggap Voynich sebagai lelucon abad pertengahan.

Gambar-Gambar yang Membingungkan Dunia

Jika teksnya tidak dapat dibaca, gambar-gambar di dalam manuskrip justru menjadi satu-satunya petunjuk yang dapat diamati secara langsung. Para peneliti kemudian membagi isi Voynich Manuscript menjadi beberapa bagian berdasarkan ilustrasinya.

Bagian terbesar berisi gambar tumbuhan. Hampir setiap halaman menampilkan satu tanaman lengkap dengan akar, batang, daun, dan bunga. Termasuk juga keterangan panjang menggunakan aksara Voynich. Anehnya, sebagian besar tumbuhan tersebut tidak identik dengan spesies mana pun yang dikenal dalam botani modern. Beberapa terlihat menyerupai tanaman nyata, tetapi akar berasal dari spesies yang berbeda. Sementara bunganya menyerupai tanaman lain.

Bagian berikutnya menampilkan diagram astronomi dan astrologi. Di dalamnya terdapat matahari, bulan, bintang, lingkaran zodiak, serta rasi-rasi langit yang mengingatkan pada tradisi astronomi Eropa maupun Timur Tengah.

Selanjutnya terdapat bagian yang paling mengundang spekulasi: ilustrasi puluhan perempuan telanjang yang tampak berendam di dalam kolam-kolam kecil yang saling terhubung melalui jaringan pipa menyerupai organ tubuh manusia. Sebagian peneliti menyebutnya sebagai pembahasan anatomi atau fisiologi, sementara yang lain melihatnya sebagai simbol alkimia maupun kosmologi.

Bagian terakhir berisi halaman-halaman penuh paragraf pendek yang masing-masing diawali simbol berbentuk bintang. Struktur tersebut mengingatkan pada daftar resep obat atau ensiklopedia tanaman. Seluruh bagian itu tampak saling berkaitan, tetapi tanpa kemampuan membaca teksnya, hubungan antar bab hanya dapat diperkirakan melalui ilustrasi.

Jejak Kepemilikan yang Nyaris Hilang

Meskipun asal-usul penulisnya masih misterius, sejarah kepemilikan manuskrip mulai dapat ditelusuri sejak abad ke-17. Salah satu bukti terpenting adalah surat yang ditulis oleh Johannes Marcus Marci, seorang ilmuwan dari Praha, kepada Athanasius Kircher, sarjana Jesuit terkenal yang diyakini mampu membaca berbagai bahasa kuno.

Dalam surat itu, Marci mengirimkan manuskrip tersebut kepada Kircher sambil menjelaskan bahwa Kaisar Romawi Suci Rudolf II diduga pernah membelinya dengan harga sekitar 600 dukat emas. Jumlah yang pada masa itu setara dengan kekayaan sangat besar. Marci juga menyebut adanya dugaan bahwa manuskrip tersebut merupakan karya filsuf Inggris bernama Roger Bacon. Meski begitu, dia sendiri tidak memberikan bukti yang mendukung klaim tersebut.

Surat itulah yang kemudian menjadi mata rantai penting dalam rekonstruksi sejarah kepemilikan Voynich Manuscript. Namun setelah sampai di tangan Kircher, manuskrip itu seakan menghilang selama lebih dari dua abad. Tidak ada catatan yang jelas mengenai siapa yang menyimpannya. Tidak diketahui apakah pernah dipelajari. Tidak diketahui pula apakah sempat berpindah tangan.

Keberadaannya baru muncul kembali pada tahun 1912 ketika Wilfrid Voynich menemukannya di Villa Mondragone, Italia. Penemuan kembali itulah yang mengubah sebuah manuskrip terlupakan menjadi salah satu objek penelitian paling terkenal dalam sejarah ilmu pengetahuan.

 

Sumber:

Bax, S. (2014). A proposed partial decoding of the Voynich script. University of Bedfordshire.

Beinecke Rare Book & Manuscript Library. (2009). Voynich Manuscript (MS 408). Yale University.

Tags: Misteri DuniaSejarah DuniaVoynich Manuscript
Previous Post

Dari Selat Malaka ke Piala Dunia: Ketika Pemburu Rempah kembali berjumpa di Derby Iberia

BERITA MENARIK LAINNYA

Azimat Rantai Bumi Kasepuhan
Manuskrip

Azimat Rantai Bumi Kasepuhan

21/10/2025
Al-Masalik Wal Mamalik, Catatan Pengembara Arab tentang Negeri Zabaj Al Jawi (3)
Manuskrip

Al-Masalik Wal Mamalik, Catatan Pengembara Arab tentang Negeri Zabaj Al Jawi (3)

24/10/2024
Rihlah Al-Sirafi, Catatan Pengembara Arab tentang Negeri Zabaj Al Jawi (2)
Manuskrip

Rihlah Al-Sirafi, Catatan Pengembara Arab tentang Negeri Zabaj Al Jawi (2)

17/10/2024

Anyar Nabs

Voynich Manuscript: Kitab yang Menolak Dibaca Selama Enam Abad (Bagian 1)

Voynich Manuscript: Kitab yang Menolak Dibaca Selama Enam Abad (Bagian 1)

04/07/2026
Dari Selat Malaka ke Piala Dunia: Ketika Pemburu Rempah kembali berjumpa di Derby Iberia

Dari Selat Malaka ke Piala Dunia: Ketika Pemburu Rempah kembali berjumpa di Derby Iberia

03/07/2026
Bojonegoro Institute Ajak Publik Kawal Dana Abadi Bidang Pendidikan demi Transparansi dan Keberlanjutan Manfaat Antar Generasi

Bojonegoro Institute Ajak Publik Kawal Dana Abadi Bidang Pendidikan demi Transparansi dan Keberlanjutan Manfaat Antar Generasi

02/07/2026
Pelatihan Budidaya Maggot dan Kompos di Bojonegoro Perkuat Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat

Pelatihan Budidaya Maggot dan Kompos di Bojonegoro Perkuat Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat

01/07/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: