Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Azimat Rantai Bumi Kasepuhan

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
21/10/2025
in Manuskrip
Azimat Rantai Bumi Kasepuhan

Manuskrip Rantai Bumi Kasepuhan Padangan

Terdapat sejumlah data manuskrip yang terus dihikayatkan secara musalsal di dunia Pertarekatan Padangan. Di antaranya Rantai Bumi Kasepuhan — azimat yang menjadi pengapesan Londo Jowo dan Londo Holland.

Azimat Rantai Bumi merupakan salah satu pusaka yang cukup masyhur di Padangan. Pusaka ini dipercaya mampu meredam setiap kecamuk perang di Tanah Jawa. Banyak para pejuang dan para pemimpin Jawa yang melakukan kontemplasi di Padangan, dalam rangka bertabaruk pada azimat peredam gejolak peperangan tersebut.

Pada masa Perang Jawa (1825 M), rombongan Pangeran Diponegoro, Raden Sosrodilogo, Kiai Mojo, Sentot Ali Basya,  beserta para pasukannya datang ke Padangan — bahkan berkeluarga dan membangun markas — untuk bertabaruk dengan azimat Rantai Bumi ini. Sejarah mencatat, dua istri Pangeran Diponegoro yang bernama RA Retnakusuma dan RA Retnaningsih berasal dari sini.

15 tahun sebelum Perang Jawa, tepatnya pada masa Perang Hutan Jati (1810 M), Raden Notowijoyo Panolan (mertua Pangeran Diponegoro), Raden Sumonegoro Padangan (mertua Kiai Mojo), dan Raden Ronggo Madiun (ayah Sentot Ali Basya) juga datang ke Padangan,  untuk bertabaruk dan tafaulan dengan pusaka Rantai Bumi, dalam rangka menghadapi Londo Jowo dan Londo Holland.

Pada masa yang jauh lebih lama lagi, tepatnya pada masa Perang Giyanti (1755 M), Raden Wirosentiko Madiun (kakek Raden Ronggo Madiun), Raden Tjarangsoko Malangnegoro (kakek Raden Sumonegoro Padangan), dan Raden Notowijoyo Sepuh (kakek Raden Notowijoyo Panolan), juga bertabaruk pada Rantai Bumi, dalam rangka menghadapi Londo Jowo dan Londo Holland. Ketiga tokoh ini berafiliasi dengan Kesultanan Jogjakarta.

Baca Juga: Para Tokoh yang Menginspirasi Pangeran Diponegoro mengobarkan Perang Jawa 

Keberadaan Rantai Bumi Kasepuhan memang sudah masyhur berabad-abad sebelumnya. Kemasyhuran Rantai Bumi membentang hingga berlapis generasi. Azimat Rantai Bumi dikenal sebagai senjata pengapesan Londo Jowo dan Londo Holland. Hal ini menjadikan para pejuang — dari zaman Raden Worosentiko, Raden Ronggo, maupun Diponegoro — menyempatkan diri sowan ke Padangan.

Hikayat menyebut Padangan sebagai bumi kontemplasi, tempat di mana Para Sidi Waliyullah menyimpan Pusaka Rantai Bumi. Banyak para pemimpin Jawa berdatangan ke Padangan, dalam rangka meredam gejolak zaman. Hikayat menyebut tempat ini menyimpan Idu Geni dan Sabda Dadi, yang menjadikannya ranah para raja melakukan kontemplasi.

Pada zaman kolonial, Rantai Bumi yang dikenal sebagai pusaka peredam perang itu, menjadi benda pusaka yang sangat dicari. Rantai Bumi bukan lagi peredam peperangan, tapi menjadi pusaka pelindung dari sasaran senapan. Rantai Bumi menjadi benda pusaka yang dicari keberadaannya, sebagai azimat perlindungan diri dalam melawan Londo Jowo dan Londo Holland.

Azimat Rantai Bumi merupakan segumpal tanah berbungkus daun jati (kain) yang berisi wasilah doa dan mantra peredam gejolak. Rantai Bumi adalah doa (mantra) yang dimasukan ke dalam gumpalan tanah, untuk kemudian dibungkus dengan daun jati. Kisah mengenai Rantai Bumi, memiliki muasal yang amat panjang. Keberadaan Rantai Bumi menjadi bukti atas kebesaran Tuhan.

** **

Syahdan Raja Wisnuwardhana pernah menancapkan Pusaka Rantai Bumi di Jipang Padangan, dalam rangka menghormati para pendahulunya, yang telah menyatukan Panjalu (Jawa Selatan) dan Jenggala (Jawa Utara). Pusaka penyatuan yang dikenal dengan Bhinnasrantaloka itu, menjadi azimat peredam gejolak Jawa. Diceritakan, siapapun yang ingin berperang, akan membatalkan niatnya jika melintasi Jipang Padangan, karena tersengat radiasi perdamaian dari Pusaka Bhinnasrantaloka. Data empiris terkait pusaka ini, tercatat sahih pada baris ke-5 Prasasti Maribong (1264 M).

Baca Juga: Tlatah Bhinnasrantaloka, Tanah yang Dihormati Raja Jawa 

Saat Islam datang ke Jipang Padangan, keramat Rantai Bumi itu tetap dilestarikan. Keramat ini dikelola dan disesuaikan, bahkan diperkuat menggunakan dalil-dalil langit. Sidi Jamaluddin Husaini mendatangi tempat Pusaka Bhinnasrantaloka itu ditancapkan. Ia datang untuk bertafakur, bertadabbur, serta melakukan tirakat, dengan membaca ayat yang berbunyi:

Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali Imran, 103)

Setelah membacakan ayat itu selama berbulan-bulan, Sidi Jamaluddin kemudian mengambil beberapa genggam tanah dari tempat itu, untuk diletakkan di sejumlah titik yang berbeda di wilayah Jipang Padangan. Oleh Sang Sidi, tanah azimat itu dipendam di sejumlah tempat seperti di hutan, pinggir sungai Bengawan, serta di puncak perbukitan yang berada di wilayah Jipang Padangan, untuk kemudian ia segel dengan menancapkan tongkat Baldhatun Thoyyibah.

Sidi Jamaluddin menjadikan Pusaka Bhinnasrantaloka sebagai azimat ukhuwah basyariyah (persaudaraan kemanusiaan). Pusaka yang dikenal sebagai jimat peredam gejolak itu, oleh Sidi Jamaluddin, dikaitkan dengan ayat Wa’tasimu Bihablillahi Jami’an Wala Tafaroqu (Dan berpegang teguhlah kalian semua pada Tali Allah, dan jangan bercerai-berai). Kelak di kemudian hari, azimat ini juga dikenal dengan istilah azimat Taline Gusti Allah. Sebagai nilai-nilai perdamaian, Taline Gusti Allah ini terus dilestarikan sebagai rantai tradisi yang hidup dari zaman ke zaman.

Manuskrip Azimat Rantai Bumi Kasepuhan

Dari zaman Sidi Jamaluddin Husaini, pusaka ini terus dilestarikan para penerusnya. Pada masa lebih belakangan, azimat Taline Gusti Allah ini  dikenal dengan Kabele Gusti Allah (Kabelillah). Tali (kabel) ini terus berkelanjutan membentuk “rantai wasilah” berupa nama-nama Sidi Waliyullah yang berafiliasi dengan Sidi Jamaluddin. Dalam catatan Manuskrip Padangan dan Manuskrip Kesultanan Banten, rantai itu berbunyi:

Sidi Jamaluddin Husaini (Mbah Jumadil Kubro) berputra Sidi Muhammad Kebungsuwan (Puyang Bungsu/Puyang Sutabaris), berputra Sidi Ishak Pandoyo (Pangeran Bajul Petak), berputra Sidi Abdul Fattah (Makurung Andayaningrat/Pangeran Bajul Sengara), berputra Sidi Abdul Aziz (Ki Ageng Kebo Kenongo), berputra Sidi Abdurrohman Pajang (Sultan Adiwijaya), berputra Sidi Abdulhalim Awal (Prabuwijaya), berputra Sidi Abdulhalim Tsani (Pangeran Sumohadiningrat).

Selanjutnya, Sidi Abdulhalim Tsani memiliki tiga putra, di antaranya; Sidi Alif (Pangeran Sumohadinegoro), Sidi Sabil Padangan, dan Sidi Abdullah Silarung. Kemudian Sidi Alif berputra Sidi Abdurrohman Sambu (Pangeran Sambu Lasem). Sementara Sidi Abdullah Silarung berputra Sidi Abdul Jabbar Jojogan (Pangeran Kusumoyuda).

Nama-nama ini, kerap menjadi rantai wasilah doa  bagi para pejuang, tatkala bertempur melawan Londo Jowo dan Londo Holland. Para pejuang menjadikan nama-nama di atas sebagai rantai wasilah untuk dipertautkan kembali pada nama-nama besar di atasnya seperti Sidi Abdul Qodir Jaelani, Sidi Ahmad Ar-Rifai, Sidi Ahmad Al-Badawi, Sidi Hasan Asy-Syadzili, Sidi Ibrahim Ad-Dusuqi, Sidi Abdullah Asy-Syattari, hingga Sidi Bahauddin An-Naqsabandi yang merupakan para pemuka kaum tarekat.

Setelah mengirim wasilah doa, para pejuang mengambil gumpalan tanah azimat di kawasan tersebut, untuk dibungkus daun jati atau kain, kemudian dibawa ke medan peperangan. Ritual doa dan pengambilan gumpalan tanah inilah yang dikenal Azimat Rantai Bumi — sebuah pusaka yang dikenal sebagai ageman pemenggal kepala Londo Jowo dan Londo Holland.

Rentetan nama para Sidi Waliyullah yang kerap dijadikan wasilah doa ini, tak hanya tersimpan dalam Manuskrip Padangan, namun juga Manuskrip Kekancingan Banten. Sejarah mencatat, dua lokasi ini  tak pernah mau takluk pada narasi Londo Jowo dan Londo Holland. Bahkan membuat budaya tanding berupa narasi berbasis pertarekatan.

Kasepuhan Padangan

Padangan disebut sebagai Tanah Kasepuhan karena menjadi rantai pertemuan sekaligus titik pertautan antara Lasem Rembang dan Jojogan Tuban. Padangan menjadi tempat di mana leluhur mereka (Sidi Jamaluddin) menancapkan Tongkat Baldhatun Thoyyibah. Di tempat inilah, Sidi Jamaluddin Husaini membangun zawiyah Gunung Jali.

Manuskrip Kasepuhan, Azimat Rantai Bumi

Bukan kebetulan jika ratusan tahun kemudian, Mbah Sabil Padangan mengajak dua keponakan sekaligus menantunya, yaitu Mbah Sambu Lasem dan Mbah Jabbar Jojogan untuk berkonsolidasi dalam rangka melanjutkan ajaran para pendahulunya. Kasepuhan Padangan yang merupakan simbol bengawan, menjadi titik temu antara Lasem yang merupakan simbol pesisir, dan Jojogan yang merupakan simbol pegunungan.

Pulau Jawa dibangun atas tiga pilar alam: pesisir, pegunungan, dan sungai bengawan sebagai penyambung keduanya. Dari pertautan antara pesisir, pegunungan, dan sungai Bengawan inilah, Rantai Bumi selalu tercipta. Ini alasan Mbah Sambu Lasem (pesisir), Mbah Jabbar Jojogan (pegunungan), dan Mbah Sabil Padangan (bengawan), selalu mengajarkan ayat-ayat penyatuan dan perdamaian, ayat-ayat peredam peperangan — inilah azimat “perantai bumi”  yang terus dilestarikan.

Wasilah doa dan gumpalan tanah berbungkus daun jati inilah, pusaka perantai bumi yang digembol Raden Wirosentiko Madiun, Raden Tjarangsoko Malangnegoro, dan Raden Notowijoyo Sepuh dalam menghadapi Londo Jowo dan Belanda pada medan tempur konflik Perjanjian Giyanti (1755 M).

Wasilah doa dan gumpalan tanah berbungkus daun jati ini pula, pusaka perantai bumi yang digembol Raden Ronggo Madiun, Raden Sumonegoro Padangan, dan Raden Notowijoyo Panolan saat bertempur melawan Londo Jowo dan Belanda pada medan tempur Perang Hutan Jati (1810 M).

Wasilah doa beserta gumpalan tanah berbungkus daun jati (kain) ini pula, yang digembol Pangeran Diponegoro, Kiai Mojo, Raden Sosrodilogo, Sentot Ali Basya, beserta para pasukannya saat bertempur melawan Londo Jowo dan Belanda pada medan laga pertempuran Perang Jawa (1825).

Rantai Bumi juga menginspirasi Bung Karno menjadikan “rantai” sebagai lambang Pancasila (1945), pilar Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Clifford Geertz (1960) mencatat, Bung Karno bersanad tarekat ke Padangan, melalui gurunya yang bernama Raden Soedjono Madiun, yang tak lain adalah santri Syekh Syamsuddin Betet.

**Azimat Rantai Bumi adalah satu dari sekitar 35 judul hikayat Sufi Padangan yang  diceritakan Kaum Pertarekatan, dalam rangka membangun budaya tanding atas narasi dongeng buatan Londo Jowo dan JJ. Meinsma. 

Wallahu A’lam Bishowab

Tags: Azimat Rantai BumiHikayat Sufi PadanganKasepuhan PadanganMakin Tahu IndonesiaRantai Bumi Kasepuhan
Previous Post

Mozaik Pangan dan Bayangan Amerika

Next Post

Abdulloh Umar: Tradisi Santri sebagai Pilar Peradaban Dunia

BERITA MENARIK LAINNYA

Al-Masalik Wal Mamalik, Catatan Pengembara Arab tentang Negeri Zabaj Al Jawi (3)
Manuskrip

Al-Masalik Wal Mamalik, Catatan Pengembara Arab tentang Negeri Zabaj Al Jawi (3)

24/10/2024
Rihlah Al-Sirafi, Catatan Pengembara Arab tentang Negeri Zabaj Al Jawi (2)
Manuskrip

Rihlah Al-Sirafi, Catatan Pengembara Arab tentang Negeri Zabaj Al Jawi (2)

17/10/2024
Zabag dan Waqwaq: Kebesaran Nusantara di Mata Warga Dunia
JURNAKULTURA

Zabag dan Waqwaq: Kebesaran Nusantara di Mata Warga Dunia

14/10/2024

Anyar Nabs

Bismillah yang Hilang, dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)

Bismillah yang Hilang, dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)

13/01/2026
Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

12/01/2026
Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

11/01/2026
Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

11/01/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: