Selama puluhan tahun, para peneliti berusaha memecahkan Voynich Manuscript dengan satu pendekatan yang sama: membaca tulisannya lebih dahulu, baru memahami gambarnya. Cara itu tampak logis. Bukankah teks adalah sumber utama sebuah manuskrip? Namun, kenyataannya justru sebaliknya.
Semakin banyak simbol berhasil dianalisis secara statistik, semakin sedikit makna yang dapat dipastikan. Komputer mampu menghitung frekuensi kemunculan sebuah karakter, tetapi tidak sanggup menjawab mengapa karakter itu berada di sana. Para ahli bahasa dapat mengidentifikasi pola morfologi, tetapi tetap tidak mengetahui bahasa apa yang sedang mereka hadapi.
Di tengah ruang kebuntuan, muncul sebuah gagasan yang sesungguhnya sederhana. Bagaimana jika gambar-gambar di dalam manuskrip lebih dulu dijadikan pintu masuk untuk membaca teks?
Pendekatan inilah yang kemudian dikembangkan oleh ahli linguistik Inggris, Stephen Bax, dalam penelitian berjudul A Proposed Partial Decoding of the Voynich Script (2014). Berbeda dengan banyak peneliti sebelumnya yang mencoba menguraikan seluruh sistem tulisan sekaligus,
Bax lebih memilih langkah yang lebih kecil dan metodis. Dia memulai dari ilustrasi tumbuhan, membandingkan dengan manuskrip herbal abad pertengahan, lalu mencoba mencocokkan nama tumbuhan. Dia mencoba kemungkinan nama tumbuhan yang tertulis pada baris pertama setiap halaman.
Metode tersebut mengingatkan pada cara Jean-François Champollion ketika membaca hieroglif Mesir. Caranya bukan menerjemahkan semua simbol sekaligus, melainkan mencari nama-nama yang sudah diketahui lebih dahulu.
Sebuah Hipotesis yang Berangkat dari Ilustrasi
Bax memulai penelitiannya dengan sebuah asumsi yang sederhana tetapi penting. Dalam tradisi manuskrip herbal, nama tanaman hampir selalu ditempatkan pada bagian awal uraian. Seperti halnya di Eropa maupun Timur Tengah pada Abad Pertengahan. Setelah nama disebutkan, barulah penulis menjelaskan ciri-ciri tumbuhan, khasiat obat, hingga cara penggunaannya.
Apabila Voynich Manuscript memang merupakan naskah herbal, besar kemungkinan pola yang sama juga digunakan. Artinya, kata pertama pada setiap halaman kemungkinan adalah nama tanaman yang tergambar. Dari titik inilah proses identifikasi dimulai.
Pendekatan tersebut berbeda secara mendasar dari upaya-upaya sebelumnya. Bax tidak berusaha menerjemahkan kalimat, melainkan mencari hubungan langsung antara ilustrasi dan kata yang menyertainya.
“Juniper yang Mungkin Bernama Arar”. Salah satu contoh pertama yang diajukan Bax berasal dari folio 16r. Ilustrasi pada halaman ini memperlihatkan tumbuhan yang menurutnya memiliki kemiripan dengan Juniperus oxycedrus. Tanaman sejenis juniper yang lama dikenal dalam pengobatan tradisional Mediterania.
Setelah membandingkan bentuk batang, susunan daun dan karakter buah dengan berbagai manuskrip herbal abad pertengahan, Bax berpendapat bahwa kesamaan visualnya cukup kuat untuk dijadikan titik awal analisis. Perhatian berikutnya diarahkan kepada kata pertama yang muncul pada halaman tersebut, yang dalam transliterasi populer dibaca sebagai OROR.
Menurut Bax, pola fonetik kata itu mengingatkan pada istilah “Arar”. Arar ialah nama juniper dalam manuskrip pengobatan berbahasa Arab dan Persia. Kata tersebut diketahui telah digunakan, setidaknya sejad abad ke-11. Istilah Arar tetap muncul dalam berbagai risalah botani hingga abad ke-15.
Dia juga mencatat bahwa minyak dari juniper (Oil of Cade) pada masa pertengahan dipakai sebagai obat penyakit kulit. Suatu obat dengan fungsi yang tampaknya sejalan dengan konteks halaman-halaman resep di bagian akhir manuskrip. Namun, Bax sendiri tetap berhati-hati.
Bax menegaskan bahwa identifikasi itu belum dapat dianggap sebagai pembacaan pasti. Ada sejumlah persoalan. Misalnya kemunculan bentuk kata yang sedikit berbeda pada halaman lain. Juga, kemungkinan bahwa simbol-simbol tertentu hanya merupakan variasi dekoratif. Karena itu, dia menyebut temuannya sebagai langkah awal. Berarti, bukan pemecahan akhir terhadap bahasa Voynich.
Sikap hati-hati ini menjadi salah satu kekuatan penelitian Bax. Alih-alih mengklaim telah memecahkan misteri, dia justru berulang kali mengingatkan bahwa setiap pembacaan harus diuji melalui bukti tambahan.
Ketika Tujuh Bintang Menunjuk Taurus
Tidak semua petunjuk dalam Voynich Manuscript berasal dari tumbuhan. Pada salah satu halaman astronomi, Bax menemukan ilustrasi yang menampilkan gugusan tujuh bintang. Bentuknya sangat menyerupai Pleiades.
Pleiades ialah gugusan bintang yang sejak zaman Yunani kuno dikenal sebagai ‘Tujuh Saudari’ dan berada dalam rasi bintang Taurus. Di samping ilustrasi tersebut, terdapat sebuah kata yang oleh beberapa peneliti telah diduga berkaitan dengan nama Taurus.
Bax kemudian menganalisis simbol demi simbol pada kata itu. Menurutnya, susunan karakter memungkinkan pembacaan fonetik yang mendekati taur, thaur atau taərn. Dia tidak memaksakan bentuk Latin Taurus.
Bax tetap membuka kemungkinan bahwa istilah tersebut berasal dari tradisi bahasa Semitik atau Persia. Bahasa yang pada masa itu memang banyak digunakan dalam karya astronomi dan kedokteran. Yang menarik, pendekatan ini kembali memperlihatkan prinsip yang sama: bukan memulai dari alfabet, melainkan dari objek yang sudah dapat dikenali secara visual.
Salah satu bagian paling menarik dalam penelitian Bax justru berasal dari sesuatu yang selama bertahun-tahun luput dari perhatian. Dia menemukan sebuah catatan kecil di tepi halaman (marginal gloss). Dalam banyak manuskrip herbal, catatan seperti ini lazim digunakan. Tujuannya untuk menuliskan nama alternatif suatu tanaman dalam bahasa lain.
Bax menduga hal yang sama terjadi pada Voynich Manuscript. Ilustrasi pada halaman tersebut telah lama diidentifikasi oleh sejumlah peneliti sebagai ‘coriander’ (Coriandrum sativum). Itu berdasarkan bentuk daun yang berubah dari lebar di bagian bawah menjadi lebih halus di bagian atas, serta bunga kecil yang tersusun berjejer seperti tumbuhan payung.
Bax kemudian membandingkan kata pada catatan pinggir itu dengan berbagai nama coriander dalam puluhan bahasa. Mulai dari Yunani, Italia, Jerman, Portugis, hingga bahasa-bahasa Asia. Hasilnya, ia mengusulkan pembacaan fonetik sementara yang mendekati KOORATU.
Kooratu ialah sebuah bentuk yang menurutnya masih memiliki hubungan dengan keluarga kata coriander. Meski begitu, dia kembali menekankan bahwa usulan tersebut bersifat tentatif. Dan, baru memperoleh makna apabila konsisten dengan pembacaan pada halaman-halaman lain.
Centaurea, Chiron, dan Ingatan terhadap Mitologi Yunani
Ilustrasi tanaman pada halaman ini telah lama dikenali sebagai anggota genus Centaurea. Kelompok tumbuhan yang dalam tradisi Eropa dikenal sebagai knapweed atau cornflower. Dalam literatur pengobatan abad pertengahan, tanaman ini dipercaya memiliki khasiat penyembuh luka.
Nama Centaurea sendiri memiliki akar yang menarik. Ia berasal dari tokoh mitologi Yunani, Chiron. Ia adalah centaur yang terkenal sebagai tabib dan guru para pahlawan. Banyak manuskrip herbal abad pertengahan menggambarkan Chiron, yang mana sedang memegang tanaman tersebut sebagai simbol asal-usul pengetahuan pengobatan.
Bax menduga bahwa kata pertama pada halaman itu dapat dibaca sebagai bentuk yang mendekati ‘KNTIRN’ atau Kantaron. Itu serupa dengan istilah Arab Qanturiyun maupun bentuk modern dalam bahasa Turki dan Azeri.
Dia bahkan mengusulkan bahwa paragraf kedua mungkin menyebut nama Chiron, sehingga struktur halaman mengikuti pola umum manuskrip herbal. Paragraf pertama menjelaskan tanaman, sedangkan paragraf kedua menerangkan asal-usul atau latar belakang penggunaannya.
Hipotesis tersebut memang belum diterima secara universal. Namun, pendekatan Bax memperlihatkan sesuatu yang penting, bahwa setiap dugaan dibangun melalui perbandingan filologis, botani, dan sejarah. Bukan hanya sekadar kemiripan bunyi.
Antara Terobosan dan Kehati-hatian
Penelitian Stephen Bax segera menarik perhatian komunitas Voynich. Sebagian menyambutnya sebagai pendekatan paling menjanjikan. Terutama sejak beberapa dekade terakhir. Sebagian lain menilai bahwa bukti yang diajukan masih terlalu sedikit. Bahkan untuk dijadikan dasar membaca keseluruhan manuskrip.
Menariknya, Bax sendiri tidak pernah mengklaim memecahkan Voynich Manuscript. Di bagian metodologi, dia justru mengibaratkan penelitiannya seperti menyusun teka-teki silang. Sebuah kata yang tampak benar baru dapat dipercaya apabila cocok dengan kata-kata lain di sekitarnya.
Dengan kata lain, identifikasi satu objek gambar tidak akan berarti apabila gagal menjelaskan pola pada halaman berikutnya. Karena itu, dia mengajak para peneliti lain untuk menguji, mengkritik, memperbaiki, bahkan membantah hasil-hasil sementara.
Pendekatan yang rendah hati inilah yang membuat karya Bax tetap menjadi salah satu referensi penting dalam studi Voynich hingga kini. Bukan karena dia telah menemukan jawaban akhir, melainkan karena Bax menawarkan metodologi yang dapat diuji dan dikembangkan oleh peneliti lain.
Sumber:
Bax, S. (2014). “A proposed partial decoding of the Voynich script.”








